Panggilan Penerjemah sebagai Askese Intelektual, Belajar dari Hidup Yosef Maria Florisan

oleh -1497 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Yohanes Orong

Dalam tradisi rohani klasik, askese sering diasosiasikan dengan puasa, keheningan, atau penarikan diri dari dunia. Namun sejarah intelektual menunjukkan bentuk askese lain yang tak kalah menuntut: askese intelektual—latihan kesabaran, pengosongan diri, dan kesetiaan pada kebenaran di medan pikiran dan bahasa. Hidup Yosef Maria Florisan memperlihatkan dengan jernih bahwa penerjemahan adalah salah satu bentuk askese intelektual yang paling sunyi dan paling setia.

Penerjemah sejati hidup di antara dua dunia. Ia harus cukup rendah hati untuk menghilang di balik teks, tetapi cukup bertanggung jawab untuk menjamin agar makna tidak runtuh dalam perlintasan bahasa. Di sini, penerjemahan bukan kerja teknis, melainkan latihan etis dan spiritual: menunda ego, menahan godaan menyederhanakan, dan terus-menerus menguji kesetiaan pada maksud penulis sekaligus pada horizon pembaca.

Dalam terang pemikiran Martin Heidegger, bahasa bukan sekadar alat, melainkan rumah Ada—tempat Being berdiam dan menyingkapkan diri. Jika demikian, penerjemah adalah penjaga rumah itu: ia memastikan agar makna tidak terusir oleh kelalaian, penyempitan, atau kekerasan konseptual. Penerjemahan, dalam arti ini, adalah tindakan ontologis: merawat agar kebenaran dapat tetap “berumah” ketika berpindah dari satu bahasa ke bahasa lain.

Namun, merawat rumah makna tidak pernah berarti menyalin secara mekanis. Di sinilah refleksi Umberto Eco memperdalam pemahaman kita. Eco menegaskan bahwa menerjemahkan bukanlah dire qualcosa uguale , melainkan dire quasi la stessa cosa —mengatakan “hampir hal yang sama”. Setiap terjemahan adalah negosiasi makna: antara kesetiaan dan keterbatasan, antara maksud pengarang dan kemungkinan bahasa penerima. Penerjemah bekerja di wilayah “hampir”, sebuah ruang etis yang menuntut kejujuran intelektual. Ia tahu bahwa kesempurnaan mustahil, tetapi pengkhianatan tidak dapat diterima. Askese penerjemah justru terletak pada kesediaan tinggal dalam ketegangan itu, tanpa menyelesaikannya secara tergesa-gesa.

Yosef Maria Florisan memilih jalan ini dengan kesadaran penuh. Setelah menarik diri dari jalur imamat, ia tidak meninggalkan panggilan rohani, melainkan menginkarnasikannya dalam kerja bahasa. Jika imamat liturgis melayani Sabda di altar, maka penerjemahan melayani Sabda di halaman-halaman buku—tanpa busana ritus, tanpa sorot publik, tetapi dengan disiplin yang tak kalah ketat.

Askese penerjemah pertama-tama adalah askese kesabaran. Setiap istilah teologis, filosofis, dan historis menuntut kehati-hatian ekstrem. Kata tidak boleh dipercepat, makna tidak boleh dipaksa. Dalam konteks Indonesia, tugas ini menjadi lebih berat karena bahasa Indonesia sering harus menanggung beban konsep-konsep yang lahir dari sejarah intelektual Barat berabad-abad lamanya. Penerjemah di sini bukan sekadar pengalih bahasa, tetapi perintis ruang makna, membuka kemungkinan agar bahasa kita mampu menampung dunia pemikiran yang lebih luas tanpa kehilangan jiwanya sendiri.

Askese ini juga adalah askese ketiadaan nama. Sebagian besar pembaca tidak membaca nama penerjemah. Mereka mengutip gagasan, berdiskusi, bahkan berdebat, tanpa menyadari bahwa semua itu dimungkinkan oleh seseorang yang lebih dulu bergulat dengan teks dalam kesunyian. Dalam logika dunia yang mengagungkan visibilitas, penerjemah memilih invisibilitas. Dan justru di situlah letak kedalaman etis panggilan ini.

Dalam terang pemikiran René Girard, pilihan untuk tetap berada di balik layar ini dapat dibaca sebagai pembebasan dari hasrat mimetik—hasrat untuk diakui, ditiru, dan ditempatkan di pusat perhatian. Dunia akademik pun tidak kebal dari logika rivalitas simbolik. Namun penerjemah sejati, seperti Yosef Maria Florisan, secara sadar menolak pusat panggung. Ia merelakan pengakuan demi memungkinkan yang lain berbicara. Dalam arti ini, penerjemahan menjadi praktik non-rivalitas, sebuah askese yang memutus lingkaran kompetisi simbolik demi kebenaran bersama.

Latar filsafat Yosef Maria Florisan menegaskan dimensi ini. Skripsinya tentang doktrin kehendak untuk berkuasa dalam antropologi filosofis Nietzsche—disusun pada masa ketika sumber-sumber berbahasa Indonesia belum tersedia—menunjukkan bahwa sejak awal ia telah hidup sebagai perantara makna. Ia belajar bahwa kekuasaan paling halus bukanlah dominasi, melainkan kemampuan menjaga makna agar tidak diselewengkan. Paradoksnya, ia meneliti kehendak untuk berkuasa justru untuk memilih jalan pengendalian diri.

Di Penerbit Ledalero, askese itu menemukan bentuk institusionalnya. Penerjemahan buku-buku teologi kontekstual, misi, etika, sejarah Gereja, teologi Asia, filsafat, dan biblika bukanlah kerja netral. Ia adalah pelayanan intelektual bagi Gereja dan akademia Indonesia, agar iman dapat berpikir secara dewasa, global, dan kontekstual. Melalui kerja ini, bahasa Indonesia dibuktikan layak menjadi rumah bagi pemikiran dunia—rumah yang dirawat dengan kesabaran, disiplin, dan kejujuran hermeneutik.

Karya-karya terjemahannya yang dapat dilacak secara digital hanyalah puncak gunung es. Masih ada banyak terjemahan lain—terutama artikel dan naskah akademik—yang tidak pernah tercatat sebagai buku, tetapi membentuk generasi pembaca dan pemikir. Askese sejati memang jarang meninggalkan arsip lengkap; ia meninggalkan pengaruh yang bekerja diam-diam.

Pada titik inilah refleksi ini menjadi kesaksian pribadi. Saya beruntung pernah bekerja bersama Yosef Maria Florisan di Penerbit Ledalero—sekaligus belajar darinya sebagai murid. Dari Yosef Maria Florisan saya belajar bahwa ketekunan berbahasa tidak pernah terpisah dari ketajaman berpikir, bahwa ketelitian memilih kata selalu menuntut ketepatan logika, dan bahwa sistematika bukan beban teknis, melainkan etika intelektual.

Pengalaman itu menjadi sangat konkret ketika Pak Jossi bersedia menjadi penerjemah buku bilingual saya, Indonesian Language Intensive Course (Kursus Intensif Bahasa Indonesia), yang diterbitkan oleh Penerbit Ledalero pada tahun 2020. Dalam proses itu saya menyaksikan secara langsung bagaimana ia menjalani apa yang oleh Umberto Eco disebut sebagai negoziazione del senso. Ia tidak mencari padanan cepat, tetapi menguji struktur, tujuan pedagogis, dan konsistensi logika teks—seolah-olah ia sedang mempertanggungjawabkan makna itu sendiri.

Ia jarang memberi komentar panjang, tetapi setiap catatan kecilnya selalu tepat sasaran. Koreksi-koreksinya tidak pernah menjatuhkan, melainkan mengundang untuk berpikir lebih jernih. Dalam kesenyapan kerjanya, ia membentuk saya untuk lebih sabar pada teks, lebih jujur pada pikiran sendiri, dan lebih rendah hati di hadapan bahasa. Ia menunjukkan bahwa kesetiaan pada detail adalah bentuk paling konkret dari kesetiaan pada kebenaran.

Kini, ketika Yosef Maria Florisan telah menyelesaikan ziarah hidupnya, saya menyadari bahwa warisannya tidak hanya terletak pada buku-buku terjemahan, tetapi pada etos berpikir yang ia tanamkan. Setiap kali saya menunda penyederhanaan yang tergesa-gesa, memeriksa logika dengan lebih disiplin, dan menghormati kata sebagai rumah makna, di situlah panggilan Yosef Maria Florisan terus bekerja.

Dengan wafatnya Yosef Maria Florisan, kita tidak hanya kehilangan seorang penerjemah, tetapi sebuah teladan hidup: bahwa kesetiaan pada kata adalah kesetiaan pada Ada; bahwa tinggal dalam “hampir” adalah bentuk kejujuran; dan bahwa kerja sunyi dapat menopang dunia intelektual lebih kuat daripada ambisi pengakuan.

Penerjemah sejati, pada akhirnya, adalah seseorang yang percaya bahwa makna layak diperjuangkan, bahkan ketika namanya sendiri tidak diingat. Dalam arti ini, hidup Yosef Maria Florisan bukan hanya dikenang, tetapi diteruskan—dalam setiap tindakan membaca, menerjemahkan, dan berpikir dengan tanggung jawab.

Penulis adalah Dosen IFTK Ledalero Maumere Flores

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.