Otak di Balik Penerbitan Karya Pramoedya Ananta Toer

oleh -108 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Hafis Azhari

Ketika saya diundang oleh editor penerbit Hasta Mitra, pada acara peluncuran buku 100 Tahun Bung Karno (Sebuah Liber Amicorum) di Taman Ismail Marzuki, Jakarta (2001) tentu saja saya segera meluncur dari Cilegon ke Jakarta. Acara pokok dalam penyelenggaraan itu adalah peluncuran buku yang disertai orasi dan pidato terakhir Pramoedya Ananta Toer mengenai pemikiran dan sejarah hidup Bung Karno.

Editor penerbit Hasta Mitra menghampiri saya sebelum acara dimulai, seraya mengucap terimakasih atas kehadiran saya, setelah menempuh perjalanan ratusan kilometer dari Banten Utara (Kota Cilegon). Dalam buku itu, saya merasa bersyukur, karena sempat menulis artikel sepanjang 16 halaman, bersanding dengan tokoh-tokoh besar yang turut serta menyumbangkan artikel yang sangat brillian, di antaranya Noam Chomsky, Ben Anderson, Bob Hering, hingga Peter Dale Scott. Sedangkan, penyumbang tulisan dari kalangan tapol yang pernah dipenjarakan Orde Baru adalah Hersri Setiawan, Ibrahim Isa, Fransisca Fanggidaej, termasuk penulis yang beberapa kali masuk nominasi nobel di bidang kesusastraan, Pramoedya Ananta Toer.

Beberapa mahasiswa menyalami saya, lalu memperkenalkan mereka pada sang editor buku, Joesoef Isak yang tampaknya mereka antusias ingin tahu lebih banyak, bagaimana pemimpin Hasta Mitra itu berjuang untuk mengedit hingga mendistribusikan novel-novel Pramoedya, baik Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Arok Dedes hingga Arus Balik dan lain-lain. Memang selama ini, Joesoef Isak kurang dikenal oleh khalayak umum, tetapi bagi individu yang banyak bergulat di bidang jurnalistik dan penerbitan, ia tak ubahnya seorang pahlawan.

Kontur wajah Joesoef memang sangat ke-Indonesiaan, dengan tatapan yang tajam nan tegas. Hidungnya tampak mancung dengan ujung elok, sementara matanya berwarna agak kebiruan, di sela-sela kacamata tebal yang dikenakannya. Sepintas dari pandangannya sarat akan cahaya berkabut, seperti udara pagi di dataran tinggi Minangkabau, sebagai tanah leluhurnya.

Saya tak sangsi bahwa dia adalah editor yang handal, terutama sejak menghimpun catatan biografinya untuk program historical memory Indonesia, mengenai korban-korban politik oleh militerisme Orde Baru di sepanjang kekuasaan rezim Soeharto selama 32 tahun. Di masa mudanya, Joesoef pernah malang-melintang di dunia jurnalistik, pernah menjadi Pemred harian Merdeka, juga diberi mandat oleh Presiden Soekarno untuk memimpin Persatuan Wartawan Asia-Afrika (PWAA).

Buku dan Orde Baru

Hasta Mitra sangat lekat dengan nama Joesoef, Pramoedya dan Hasjim Rachman. Ketiganya adalah penulis, jurnalis, dan budayawan yang menginisiasi penerbit independen yang paling banyak ditakuti penguasa militerisme Orde Baru. Melalui Hasta Mitra, mereka berjuang dan berkarya, mempublikasikan buku-buku karangan Pramoedya Ananta Toer di kalangan mahasiswa, sampai kemudian diterjemahkan ke dalam 44 bahasa dunia. Joesoef mempertaruhkan kariernya sendiri untuk memimpin penerbit ini, mendobrak tembok-tembok kesusastraan yang selama ini dikuasai oleh oligarki penerbitan, berikut para sastrawan yang menjadi anak-anak emas rezim Orde Baru.

Bahkan, ketika ribuan mahasiswa kesulitan untuk membeli novel-novel Pramoedya di toko-toko buku di seluruh Jakarta, Joesoef memberikan kesaksian pada saya: “Ada seorang pemodal yang kaya-raya, entah berapa milyar dia harus mengeluarkan uang untuk memborong novel-novel Pramoedya, langsung dari gudang-gudang di toko buku…”

“Berarti tidak ada kerugian bagi penerbit Hasta Mitra?” pancing saya kemudian.

“Justru keuntungan bagi kami dari sisi finansial, hingga kemudian kami secara diam-diam mencetak dan mencetak ulang novel Pramoedya agar sampai di tangan mahasiswa dan generasi muda,” ujar Joesoef Isak.

“Siapa si pemodal dan pemborong itu?” desak saya lagi.

“Kalau disebutkan namanya, tentu dia sudah mempersiapkan payung hukum untuk berkelit, sedangkan posisi kami sebagai tapol sangat lemah di mata hukum. Karena itu, tak ada jalan lain selain kami mencetak sebanyak-banyaknya untuk didistribusikan melalui toko-toko buku independen di seluruh Jakarta dan sekitarnya. Dan tampaknya, Pram setuju dengan usulan saya itu.”

Secara pribadi, tadinya saya menduga Hasta Mitra penerbit besar bergengsi yang, setidaknya memiliki gedung megah laiknya Gramedia di Jalan Palmerah, Jakarta. Tetapi, ketika pertama kali saya kunjungi di Jalan Duren Tiga, lalu berjumpa Joesoef Isak, segera ia menunjukkan sekat bangunan kecil di belakang rumahnya, seluas 3×5 meter, dilengkapi dengan komputer macintosh sumbangan dari seorang donatur dari Jerman.

“Di ruang sempit inilah kami bekerja selama ini,” bisik Joesoef Isak dengan tatapan lirih.

Beberapa mahasiswa luar negeri kadang menyambangi tempat itu untuk suatu penelitian dan riset mengenai karya-karya Pramoedya. Ben Anderson dan Max Lane (penerjemah Bumi Manusia) sering mengunjungi tempat itu seraya saling berbagi ilmu, serta lebih dalam menyelami dunia penerbitan independen.

“Pekerjaan saya cukup ringan dalam mengedit karya-karya Pramoedya,” ujar Joesoef, “karena tulisannya sangat rapi, telaten, meskipun ada corat-coret di sela-sela kata dan kalimat, tetapi cukup mudah terbaca dengan baik. Memang tidak melulu menangani kesalahan eja dan tanda baca, tetapi saya berupaya untuk mengonsultasikan secara intensif dengan Pramoedya, bahkan beliau menyuruh saya menemui sosiolog dan Indonesianist asal Belanda (Wertheim) untuk membahas dunia hukum yang berlaku di masa Hindia Belanda.”

Bagi Joseoef, karya-karya Pramoedya dianggap mampu menyemangati para penulis muda agar menghasilkan karya-karya terbaik. Bagi saya pribadi, tulisan dan perkataan Pramoedya adalah sahabat dan teman karib, dan ia telah berusaha untuk membantu generasi kami dalam segala hal. Misalnya, menetapkan struktur dalam penulisan sastra modern Indonesia, hingga ending (pesan) yang ingin dikemukakan. Kadang Pramoedya menyematkan dialog-dialog filosofis pada seorang tokoh idealis, hingga kita terbawa arus untuk ikut-serta menyuarakan kebenaran, serta menentang kesewenangan dan ketidakadilan.

Seorang editor asal Amerika dan direktur Yayasan Lontar, Jakarta (John H McGlynn) yang turut menyibukkan diri menerjemahkan Bumi Manusia, tampaknya merasa kelelahan untuk menyempurnakan ending dari naskah tersebut. Tetapi, Joesoef Isak tetap berpegang teguh pada prinsip: “Pesan dan massage dari suatu karya sastra harus dikembalikan kepada ideologi penulisnya. Seorang yang fanatik menganut pasar bebas (kaplitalisme) akan kesulitan menerjemahkan karya-karya sastra dari penulis yang lebih cenderung pada ideologi sosialisme.”

Proses Editing

Semua hadirin yang ada di gedung aula Taman Ismail Marzuki (TIM) malam itu telah mendengar setidaknya beberapa kisah gila dari Joesoef, perihal bagaimana Max Lane telah dipecat dari Kedutaan Australia, hanya karena menerjemahkan novel Bumi Manusia ke dalam bahasa Inggris; bagaimana anaknya (Verdie) dipecat dari kampus Universitas Indonesia (UI) hanya karena menghadirkan Pramoedya dalam acara dialog kampus; serta bagaimana filosof Prancis Jean Paul Sartre mengirim mesin ketik ke Pulau Buru saat Pramoedya ditahan, namun tak pernah sampai mesin tulis itu di tangan Pram.

Di satu sisi, Pramoedya berusaha menuliskan setiap kata yang ingin dia pertahankan, tetapi di sisi lain Joesoef sebagai editor harus menempatkan diri dalam imajinasi angkatan muda Indonesia sebagai pembaca utama. Tulisan Pram tentang dialog tokoh yang kadang temperamental, sangat menghantui dunia kesusastraan Indonesia di era Orde Baru. Sehingga, terpaksa Joesoef memilih padanan kata yang sering dipakai kebanyakan orang agar memudahkan pengertiannya. Boleh jadi Pram menulis dialog di sela-sela kesibukannya melakukan kerja paksa di Pulau Buru, atau bahkan tengah mengalami pertengkaran dengan militer penjaga, sehingga dialog sang tokoh terkesan subyektif, dan kurang mewakili pesan yang universal.

Saat peluncuran buku 100 Tahun Bung Karno di TIM itu, usia Joesoef Isak sudah menginjak 73 tahun. Tanpa banyak bicara, ia berjalan mengelilingi ruangan acara, sambil menunggu kedatangan pembicara utama Pramoedya Ananta Toer. Tak lama kemudian, Joesoef mengangkat wajahnya, menangkap kehadiran Pramoedya di pintu, dan segera menyambut sastrawan legendaris itu. Seisi ruangan menahan napas mengantisipasi keberadaan pujangga bersama sang editor ternama di tengah-tengah mereka.

Kepada saya, Joesoef pernah bercerita tentang situasi di dalam tahanan dulu, ketika ia terus memantau perkembangan Indonesia melalui koran, juga karya-karya Pramoedya yang diselipkan lewat jendela selnya di penjara Salemba. Ia berusaha melobi kepala penjara, membebaskan jurnalis Karim DP dari sel isolasi, serta menyimak khutbah Jumat yang dikumandangkan sahabatnya, Abdulhamid Azhari, yang ditangkap militer Orde Baru saat ia mengajar “Islamologi” di kampus Universitas Indonesia (UI), karena sang dosen dituduh berafiliasi dengan partai kiri (PKI).

Joesoef tak peduli akan kesan yang ia berikan kepada hadirin. Apalagi karena dia datang di TIM dengan penampilan seadanya, mengenakan kemeja berlengan pendek, tampak agak kebingungan karena dihadiri ratusan sastrawan, jurnalis, dan penerbit yang banyak berkiprah di masa kekuasaan Orde Baru. Sebelumnya, Joesoef tak pernah membuka diri untuk berbicara di depan orang banyak. Setiap tahun, ia menerima ratusan surat undangan agar menjadi pembicara pada acara-acara teve atau pertemuan para penulis dan sastrawan. Tetapi, ia tak pernah menghadirinya karena beberapa alasan. Misalnya, ia membaca semangat Orde Baru masih teramat kental pada mental kebanyakan orang, meskipun mereka menamakan diri sebagai era reformasi. Kedua, ia tidak punya rasa percaya diri untuk menghadiri acara-acara kerumunan maupun kelompok. Ketiga, ia ingin berdiri di belakang layar sebagai seorang editor, sehingga pembaca karya Pramoedya tidak hilang kepercayaan dirinya kepada sang penulis.

Selama beberapa dekade, Joesoef menarik diri, tak pernah tampil ke permukaan sampai saya bertandang di kediamannya untuk menuliskan riwayat hidupnya dalam bentuk historical memory, yang juga diinisiasi oleh sejarawan Asvi Marwan Adam, Goenawan Mohamad dan Hermawan Sulistyo (baca opini kompad.id: Memahami Skizofrenia dari Karya Sastra). Di usia yang ke-73 itu, barangkali Joesoef mulai membuka diri, alangkah baiknya jika dia bisa menyalurkan ilmunya kepada orang lain sebelum terlambat.

Setelah saya menginap selama beberapa hari di tempat tetirah Pramoedya di Bojong Gede, Bogor, di suatu sore yang sejuk tiba-tiba sebuah mobil sedan memasuki pekarangan rumah. Seorang lelaki tua turun dari mobil, lalu pelan-pelan menaiki tangga rumah, sedangkan sang sopir menunggu santai di halaman. Tamu itu ternyata Joesoef Isak, seraya memperkenalkan saya, meyakinkan Pramoedya bahwa penulis muda Banten ini siap menulis artikel Pram berdasarkan oral history, lalu penerbit Hasta Mitra akan membukukannya dalam bentuk Liber Amicorum.

Tampaknya rencana Joesoef Isak berjalan mulus, karena setelah artikel Pramoedya tampil dengan judul panjang, “Semua Lawan Bung Karno Sekarang Terseret ke Meja Mahkamah Sejarah”, lalu Joesoef berhasil menghadirkan Pramoedya di TIM selaku pembicara utama saat peluncuran bukunya. Inilah momentum penting, ketika beberapa dekade sebelumnya para pemuda dan mahasiswa bertanya-tanya, yang manakah editor karya Pramoedya itu; siapakah para pendiri Hasta Mitra yang selama ini konsisten bergerilya di bawah bayang-bayang kekuasaan rezim Orde Baru?

Joesoef mengacungkan kedua jempol di hadapan saya. Ia berbisik bahwa Pramoedya siap untuk hadir dan berorasi di hadapan hadirin malam itu. Suara Joesoef agak serak dan berat saat memberi sambutan awal, sementara vokalitas suara Pramoedya masih cukup lantang, sehingga ribuan hadirin terpukau dan berebut mengangkat tangan saat dibuka sesi diskusi. “Sebagai editor, hampir saya tak pernah merasa kesulitan mengedit karya-karya Pram, baik Bumi Manusia maupun Anak Semua Bangsa,” ujar Joesoef Isak dengan rendah hati, “karena saya tetap berpatokan pada potensi Pram, sesuai apa yang dimiliki oleh Pram sendiri. Artinya, saya hanya menghubungkan pesan atau massage yang disampaikan Pram, agar mudah dipahami dalam konteks kekinian.”

Menurut Joesoef, meskipun Pramoedya seorang perfeksionis yang sensitif terhadap kritikan, namun ia sangat legawa menerima masukan. Di sisi lain, kadang Pram membutuhkan dukungan ekstra, terutama ketika meminta Joesoef agar banyak mengonsultasikan beberapa bait dalam novelnya, kepada sosiolog dan Indonesianist asal Belanda (Wertheim). Namun demikian, “Dibandingkan penulis lain, Pram cukup mudah ditangani dari segi pengeditan, karena memiliki tabiat yang selalu mendorong dirinya untuk menghasilkan karya yang sempurna.”

Ihwal Bumi Manusia

Beberapa pertanyaan dari kalangan sastrawan dan penerbit dalam ruangan luas di TIM itu harus diulang beberapa kali karena pendengaran Pramoedya yang sangat minim. Bahkan, ketika menjawab persoalan Orde Baru, Pram banyak terdiam di tengah-tengah kalimat, sehingga Joesoef menyambungkan apa yang dimaksudkan si penanya. Namun pada prinsipnya, permainan Orba dan elit global sebagai peran “dajjal” dinyatakan secara lugas melalui pengantar Joesoef dalam buku Liber Amicorum itu. Sehingga, validitas pesan Bung Karno tampak selaras dengan karya-karya Pram, bahwa nilai-nilai kebenaran sejatinya harus diperjuangkan dan dinyatakan agar menjadi benar.

Bagi Joesoef, dalam iklim kesewenangan dan ketidakadilan, Pram tidak sepakat dengan adagium “sedikit bicara dan banyak bekerja”. Sebagai seorang muslim yang memahami konteks “amr ma’ruf dan nahi munkar”, Pramoedya berpendapat bahwa sikap diam dan sedikit bicara, di tengah iklim kekuasaan yang zalim, adalah pengingkaran atau kesepakatan dengan pelaku kezaliman itu sendiri.

Secara keseluruhan, penampilan Joesoef Isak dalam acara tersebut menjadi bahan pembicaraan banyak orang untuk waktu yang cukup lama. Seorang warga Jakarta, yang selama beberapa dekade mengurung diri dengan sikapnya yang introvert, kini semakin dielu-elukan ribuan hadirin di pusat kesenian dan kebudayaan ibukota Jakarta.

Beberapa tahun kemudian, setelah saya bergelut dengan beberapa kegiatan untuk mewarnai era reformasi, saya merasa bersyukur ketika mendengar adanya inisiatif dari sejarawan muda Banten, Bonnie Triyana yang berencana menulis buku Liber Amicorum: 80 Tahun Joesoef Isak (Seorang Wartawan, Penulis, dan Penerbit), yang kemudian diterbitkan oleh ISAI, Komunitas Bambu, dan Praxis (2008).

Buku setebal 366 halaman itu disunting oleh Max Lane, yang dipersembahkan sebagai hadiah ulang tahun ke-80 Joesoef Isak sebagai tokoh penting dan otak di balik berdirinya penerbit Hasta Mitra, yang mempublikasikan karya-karya Pramoedya Ananta Toer, satu-satunya manusia Indonesia yang beberapa kali meraih nominasi nobel di bidang kesusastraan. (*)

Penulis adalah Peneliti historical memory, penulis novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.