Orang Tua, Guru dan Pendidikan Tauhid

oleh -1837 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Ahmad Rafiuddin

K.H. Mustain Syafii, seorang pakar dan ahli tafsir dari Tebuireng, Jombang, sempat menginap selama dua hari (5-6 September 2024) di pesantren Nurul Falah, Rangkasbitung, Banten. Beliau bertegur sapa sambil mengisi tausiyah untuk santri-santri Nurul Falah, para alumni Tebuireng dan masyarakat sekitar.

Dalam beberapa kali tausiyahnya, Kiai Mustain menyatakan, bahwa berkat asuhan dan arahan pendidikan di rumah, seorang anak akan tumbuh dengan kapasitas ilmu agama yang sesuai dengan bimbingan orang tuanya. Sangat langka seseorang yang lahir dari orang tua yang memeluk agama tertentu, lalu sang anak tumbuh dengan memeluk agama lainnya, kecuali jika sang anak dibesarkan oleh orang tua asuh yang berbeda agama. 

Untuk itu, anugerah hidup, iman dan Islam tak lain merupakan anugerah Allah yang patut disyukuri. Peran orang tua sebagai wujud insani, pada hakikatnya sebagai wasilah dan perantara saja. Mensyukuri anugerah identik dengan menikmati pemberian Allah. Karena itu, suatu karunia dan pemberian hanya akan terasa nikmat bila disyukuri.

Namun, lagi-lagi, kualitas seorang hamba dalam mensyukuri nikmat Allah sangat erat hubungannya dengan asuhan dan pendidikan orang tua, kemudian para guru (pendidik) yang membimbing dan mengarahkannya. Orang tua yang bijak akan selalu peka dan peduli, ke mana seorang anak menapaki jenjang pendidikannya secara layak, hingga akan terus terarah kualitas dan rasa syukurnya.

Rasulullah menyatakan bahwa mensyukuri yang kecil, identik dengan mensyukuri yang besar. Orang yang berterimakasih dan mensyukuri orang tuanya (apapun kondisinya), identik dengan mensyukuri Tuhannya. Dengan demikian, pendidikan terbaik dari orang tua kepada anaknya, adalah pendidikan iman dan tauhid yang berpangkal pada sikap husnudzon (berbaik sangka) kepada Sang Pencipta. Itu artinya, mengajarkan anak agar “menikmati hidup”, baik dalam susah maupun senang, lapang maupun sempit, serta senantiasa bersyukur dan tersenyum atas nikmat dan karunia Allah.

“Ya Allah, tunjukkan kami jalan yang lurus,” demikian surah al-Fatihah, “yakni jalan orang yang Kau beri kenikmatan dalam hidup ini. Bukan jalan orang-orang yang Kau murkai, juga bukan jalan orang-orang yang tersesat.”

Siapakah gerangan orang yang dimurkai, dan yang tersesat itu? Terkait dengan ini, Gus Dur pernah menyatakan, bahwa, bahwa orang beriman yang tanpa dibekali ilmu pengetahuan, niscaya imannya akan mandek, statis dan tidak dinamis. Tipologi semacam itu, meskipun ia punya agama, namun akan menjadikan agamanya sebagai berhala. Itulah kategori orang tersesat (ad-dlallun), sehingga kepercayaannya pada Tuhan, akan membuatnya senantiasa “kebingungan” dan selalu bertanya-tanya: “Benarkah Tuhan itu Maha Adil? Benarkah Dia Maha Penyayang? Ataukah justru sebaliknya?”

Kekuatan iman niscaya akan membawa seorang hamba pada derajat “yaqin” hingga mencapai derajat “haqqul yaqin” yang tak mungkin tergoyahkan, dalam situasi dan kondisi apapun. Inilah derajat orang yang sudah mampu menggenggam seluruh dunia. Sehingga, ketika banyak orang berambisi menjadi pusat kosmos dalam segala hal, di mana mereka terobsesi untuk membeli dunia, akan tetapi orang yang haqqul yakin telah mencapai maqam “qanaah”, di mana seluruh dunia takkan sanggup membeli dirinya.

Keimanan yang teguh dan kokoh, sejak Muhammad masih seorang pemuda belia, itulah yang membuat orang-orang kaya berkedudukan tinggi di kalangan kaum Qurays tak sanggup “membeli” dirinya. Partai apapun dari penguasa kabilah tersohor sekalipun, akan sulit berkompromi dengan Muhammad, jika yang mereka andalkan hanyalah materi dan pragmatisme kehidupan dunia yang bersifat nisbi dan semu belaka.

Kokohnya keyakinan Muhammad tak lepas dari bekal ilmu pengetahuan yang matang. Sebab, orang-orang yang ilmunya setengah-setengah, akan mudah digoyang oleh kepentingan-kepentingan hedonistik (freemasonry) yang meninabobokan. Hidup mereka hanya bertumpu pada kebanggaan dan kesenangan duniawi yang semu dan sesaat. Dalam hal ini, mementingkan dan memprioritaskan kesenangan sesaat, justru bertolak-belakang dengan kesabaran dan ketakwaan yang lebih mengutamakan kebahagiaan yang bersifat langgseng dan abadi.

Ambisi untuk mengejar kesenangan sesaat, terobsesi pada kehidupan duniawi yang sekejap mata ini, selalu menghendaki adanya korban (tumbal) yang menguntungkan satu pihak namun merugikan pihak-pihak lainnya. Perjuangan semacam itu selalu meniscayakan ketidakadilan dan kesewenangan sebagai motor penggeraknya.

Di dalam Alquran ditegaskan, “Mereka yang berusaha menempuh jalan Kami, maka akan Kami tunjukkan jalan-jalan itu.” Artinya, biar sesulit apapun kita menuntut ilmu, maupun mencari rizki yang baik, pada waktunya kelak akan ditemukan jalan keluarnya. Ketika Allah sudah menjamin itu, maka jaminan siapa lagi yang pantas diandalkan selain Allah? Untuk itu, jika kita konsisten mensyukuri nikmat hidup, nikmat iman dan Islam, maka rizki yang akan kita peroleh, baik berupa ilmu, kesehatan maupun kekayaan, pasti akan mengundang kebaikan dan keberkahan.

Lalu, untuk apa kita menuntut ilmu dan mencari rizki? Bukankah berjuang keras dan berpangku tangan, toh hasilnya segitu-segitu juga? Seorang pengusaha yang hanya uncang-uncang kaki di depan komputer, namun puluhan kali bisa berangkat umroh dan haji ke Mekah, sementara tukang bubur yang sibuk melayani pembeli dan mendorong gerobak sepanjang kampung, baru bisa melaksanakan haji setelah puluhan tahun memgumpulkan uang? Lalu, muncul lagi pernyataan pesimis, untuk apa kita mencari ilmu mengenai tips-tips melaksanakan salat khusyuk, sementara kualitas kekhusyukan itu diberikan oleh Allah, sebagaimana kualitas kesabaran dan rasa syukur? Jika Allah tidak menjadikan kita sebagai ahli syukur, mana mungkin rasa syukur itu bisa hadir dalam hidup kita?

Pada prinsipnya, mencari rizki, menuntut ilmu yang baik, bahkan berusaha untuk menjalani salat dengan khusyuk, hakikatnya merupakan “amal saleh” bagi kita semua. Manusia beriman selalu disandingkan dengan amal saleh di dalam teks-teks Al-Quran (alladzina amanu wa’amilus-shalihat). Dengan demikian, beriman tanpa amal saleh identik dengan keimanan yang mandek, statis, tanpa sanggup mencapai dinamika dan kualitasnya yang lebih baik. Untuk itu, menyandang keimanan yang diwariskan orang tua (leluhur), jika tanpa disertai ilmu yang mumpuni, boleh jadi manusia akan memandang agama (Islam) sebagai berhala yang mati, dan jalan di tempat.

Jika keimanan tidak disyukuri, maka keislaman pun jauh dari rasa syukur. Dengan demikian, anugerah hidup akan sulit dinikmati. Sebab, amal saleh itu identik dengan kerja atau usaha manusia di muka bumi ini, yang telah dilandasi oleh keimanan yang kokoh.

Untuk itu, dalam cover belakang buku saya “Marwah Pesantren”, saya mengutip dua kata mutiara dari Hadratussyekh K.H. Hasyim Asy’ari (Tebuireng) sekaligus dari K.H. Rifai Arief (Banten), bahwa umur manusia tidak bermakna jika tanpa dibekali ilmu. Karena, ilmu dan iman yang kokoh pasti menelurkan amal-amal saleh. Sebaliknya, amal-amal yang baik pasti diproduksi oleh iman dan ilmu yang kuat. Wassalam. (*)

Penulis adalah Penulis buku “Marwah Pesantren”, juga pengasuh pondok pesantren Nurul Falah, Pasirmalang, Rangkasbitung, Banten.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.