Negara Harus Memperkuat Ketahanan Pangan

oleh -178 Dilihat
banner 468x60

Oleh: K.H. Ahmad Rafiuddin

Menarik sekali ketika mengkaji karya-karya klasik dari sesepuh pesantren Tebuireng di seputar kemerdekaan RI (1945). Khususnya ketika Hadratussyekh Kiai Hasyim Asy’ari menggalang kekuatan para petani Jombang agar terus bersinergi dengan front kekuatan nasionalis untuk melawan pihak penjajah.

Dalam majalah Soeara Moeslimin Indonesia, beliau menulis bahwa: keteraturan kehidupan umat beragama bergantung pada tertibnya suatu negara, sedangkan teraturnya negara bergantung pada rakyatnya. Tetapi tidak sampai di situ, beliau juga menandaskan: “Rakyat akan teratur manakala pembesar-pembesarnya berbuat adil.”

Sebagai seorang ulama dan perintis kemerdekaan, Hadratussyekh Kiai Hasyim Asy’ari bergerak secara independen, dengan perangkat teknologi yang sangat minim pada masa itu. Beliau tekun menulis kitab, artikel, menggelar pengajian, bahkan terus berupaya mengobarkan semangat rakyat untuk mewujudkan Negara Kesatuan RI. Untuk itu, saya sebagai pengasuh Tebuireng 09 di Rangkasbitung, Banten, sangat mengapresiasi pemikiran progresif beliau untuk selalu menyelaraskan dan menggalang kekuatan front, demi mempertahankan hak milik bangsa, termasuk menekankan para petani agar mempekokoh ketahanan pangan.

Upaya ini sebenarnya sedang dilakukan oleh Presiden Prabowo, meski pendekatan dan komunikasi dengan rakyat harus terus diupayakan agar terjalin kerjasama dari dalam hati. Sebab, sesuatu yang berasal dari hati akan merasuk ke dalam hati. Ma yakhruju minal qalbi yashilu ilal qalbi.

Jika pemerintah memang berniat baik demi rakyat, demikian penegasan Hadratussykeh, maka nilai kebaikan itu pun akan kembali kepada dirinya sendiri. Tetapi jika keburukan yang ditanam, maka keburukan itu pula yang kelak akan dituainya.

Orang Jawa mengatakan “Sopo sing nandur bakal ngunduh”. Ini dapat diartikan, jika pemerintah memang punya hati yang tulus untuk bekerjasama dengan rakyat, maka dijamin Allah akan senantiasa membalas dan menolongnya. Namun, tentu saja balasan dari Allah bisa secara kontan bisa juga lewat perantara yang entah dari mana tanpa kita ketahui. Demikian pula secara individu, jika seseorang berbuat baik dan beramal soleh, maka kebaikan itu pun akan kembali kepada dirinya sendiri, baik di dunia maupun di akhirat.

Kebaikan-kebaikan seperti meringankan beban orang lain saat kesusahan, menjenguk orang sakit, senang bersilaturahim, menuntut ilmu, dan lain sebagainya. Semuanya dilakukan dengan penuh keikhlasan, tanpa bermaksud untuk mengumbar sikap ujub atau sombong. Amal perbuatan yang kita lakukan juga bisa menjadi ajang berlomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat), tidak banyak mengumbar riya yang semata-mata ditujukan untuk pamer dan popularitas.

Allah Maha Memiliki agenda dan rencana terbaik bagi perjalanan hidup manusia dan makhluk ciptaan-Nya. Allah is the best planner. Dia punya cara tersendiri untuk men-treatment hamba-hamba-Nya. Banyak sekali hikmah yang didapatkan jika kita konsisten untuk banyak berpikir, merenung, hingga sanggup memetik hikmah dan pelajaran berharga dari keagungan ayat-ayat Tuhan. ***

Penulis adalah Pengasuh Pesantren Tebuireng 09, Banten, penulis buku Marwah Pesantren, juga penulis esai keislaman di berbagai media lokal dan nasional, luring dan daring

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.