Oleh: Matheos Viktor Messakh
Salah satu ketegangan paling menarik dalam Perjanjian Lama adalah pertarungan antara mereka yang disebut nabi istana dan nabi independen. Keduanya sama-sama berbicara atas nama Tuhan. Keduanya sama-sama mengaku menerima firman ilahi. Namun sejarah Israel menunjukkan bahwa tidak semua suara kenabian memiliki keberanian yang sama ketika berhadapan dengan kekuasaan. Bahkan tidak semua suara kenabian itu jujur.
Nabi istana hidup di lingkungan kerajaan. Mereka memiliki akses kepada penguasa, hadir dalam pertemuan-pertemuan penting, dimintai nasihat sebelum perang, dan sering menjadi bagian dari mekanisme legitimasi politik kerajaan. Mereka membantu meyakinkan rakyat bahwa kerajaan berjalan sesuai kehendak Tuhan. Tidak jarang mereka menjadi penghibur bagi penguasa, pemberi restu bagi kebijakan-kebijakan kerajaan, dan penyampai kabar yang ingin didengar raja. Sebaliknya, nabi independen sering muncul dari pinggiran. Mereka tidak memiliki jabatan resmi. Mereka tidak bergantung pada fasilitas kerajaan. Mereka tidak memperoleh penghasilan dari istana. Karena itu mereka memiliki kebebasan untuk mengatakan apa yang tidak ingin didengar oleh para penguasa.
Mikha bin Yimla adalah contoh yang jelas. Ketika sekitar 400 nabi kerajaan secara serempak meramalkan kemenangan bagi Raja Ahab dalam perang melawan Aram (1 Raja-raja 22:6, 12), Mikha justru menyampaikan nubuat yang berlawanan. Ia tahu bahwa pesannya akan membuat raja murka, dan memang setelah itu ia dipenjarakan dan diberi makan roti serta air penderitaan (1 Raja-raja 22:26-27). Namun ancaman hukuman tidak membuatnya mengubah pesannya. “Apa yang difirmankan TUHAN kepadaku, itulah yang akan kukatakan” (1 Raja-raja 22:14), tegasnya. Peristiwa berikutnya membuktikan bahwa Mikha benar: Ahab tewas dalam peperangan sebagaimana telah dinubuatkannya (1 Raja-raja 22:34-37), sementara ramalan para nabi kerajaan terbukti keliru.
Amos bahkan bukan seorang nabi profesional. Ia memperkenalkan dirinya sebagai gembala dan pemungut buah ara hutan dari Tekoa (Amos 1:1; 7:14). Ketika ia datang ke Betel, pusat ibadah kerajaan Israel Utara, ia mengecam para elite yang hidup mewah sementara orang miskin ditindas dan keadilan diperjualbelikan (Amos 2:6-7; 4:1; 5:11-12; 6:1-6). Imam Amazia, yang dekat dengan istana, memerintahkannya untuk pergi dan mencari nafkah di tempat lain (Amos 7:12-13). Namun Amos menolak dibungkam dan menegaskan bahwa Tuhanlah yang mengutusnya untuk bernubuat kepada Israel (Amos 7:14-15). Beberapa dekade kemudian, Kerajaan Israel Utara benar-benar runtuh di tangan Asyur pada tahun 722 SM, sehingga peringatan Amos tentang penghukuman atas ketidakadilan sosial dan kesombongan bangsa itu terbukti bukan sekadar ancaman kosong (bdk. Amos 5:27; 6:7; 7:17).
Yeremia menghadapi harga yang lebih berat lagi. Selama tahun-tahun terakhir Kerajaan Yehuda, ia terus memperingatkan bahwa bangsa itu sedang menuju kehancuran karena ketidaktaatan kepada Tuhan dan ketidakadilan yang mereka pelihara (Yeremia 7:1-15; 22:13-17; 25:8-11). Karena pesannya dianggap melemahkan semangat bangsa, ia dihina, dipukul, dipasung, dan dipenjarakan (Yeremia 20:1-2; 37:15-16). Bahkan ia pernah dilemparkan ke dalam sumur berlumpur dan dibiarkan hampir mati (Yeremia 38:6). Yeremia tidak berhenti bernubuat meskipun dianggap pengkhianat bangsa. Ia pernah mengaku ingin berhenti berbicara atas nama Tuhan, tetapi firman itu menjadi seperti api yang menyala di dalam tulang-tulangnya sehingga ia tidak sanggup menahannya (Yeremia 20:9). Ketika Yerusalem akhirnya jatuh ke tangan Babel dan Bait Allah dihancurkan pada tahun 586 SM (2 Raja-raja 25:1-10), bangsa itu menyaksikan bahwa nubuat Yeremia mengenai kehancuran Yerusalem dan pembuangan ternyata benar (Yeremia 25:8-11; 39:1-8).
Dalam ketiga kisah ini, sejarah memperlihatkan pola yang sama: para nabi yang paling dekat dengan kekuasaan memperoleh dukungan dan kenyamanan pada masanya, tetapi para nabi yang berani menyuarakan kebenaranlah yang akhirnya dibenarkan oleh perjalanan sejarah dan penggenapan firman Tuhan. Mereka tidak memiliki kekuatan politik, tetapi memiliki kemerdekaan moral.
Perbedaan paling mendasar antara nabi istana dan nabi independen bukanlah soal lokasi pelayanan, melainkan soal loyalitas. Kepada siapakah mereka sesungguhnya setia? Kepada Tuhan atau kepada pusat kekuasaan?
Pertanyaan itu ternyata tidak berhenti pada zaman Israel kuno. Ia terus bergema dalam kehidupan gereja hingga hari ini.
Di banyak tempat, gereja menghadapi godaan yang sama seperti yang pernah dihadapi para nabi istana. Kedekatan dengan kekuasaan sering kali menawarkan berbagai keuntungan yang sulit ditolak. Kehormatan sosial, akses kepada pengambil keputusan, kesempatan memperoleh proyek, kemudahan birokrasi, fasilitas tertentu, bahkan bantuan finansial. Semua itu dapat membuat gereja merasa memiliki hubungan yang baik dengan pemerintah.
Hubungan baik dengan pemerintah tentu bukan sesuatu yang salah. Nabi Natan dekat dengan Raja Daud. Yesaya memiliki akses kepada istana Yehuda. Bahkan Rasul Paulus memanfaatkan hak-haknya sebagai warga negara Romawi. Persoalannya muncul ketika kedekatan tersebut menghilangkan kemampuan untuk mengkritik. Di titik inilah gereja berisiko berubah dari suara kenabian menjadi pengeras suara atau corong kekuasaan.
Gejalanya sering tampak jelas. Para pemimpin gereja lebih mudah ditemukan dalam acara-acara seremonial bersama pejabat dibandingkan di rumah-rumah warga jemaat miskin. Kamera lebih sering merekam senyum bersama penguasa daripada air mata bersama korban ketidakadilan. Kehadiran dalam peresmian proyek dianggap lebih penting daripada pendampingan terhadap masyarakat yang kehilangan tanah, mata pencaharian, atau hak-haknya. Saya dengar ada yang gemar mengklaim bahwa mimbar semakin dekat dengan pasar atau dapur, tetapi yang saya lihat adalah mimbar makin dekat kepada istana, rumah jabatan atau takhta.
Ketika rakyat kecil mengalami kesulitan, gereja memilih diam dengan alasan menjaga hubungan baik. Namun ketika seorang pejabat menghadapi persoalan hukum atau tekanan politik, simpati gereja mengalir begitu cepat untuk menunjukkan bahwa mereka mempunyai hubungan baik dengan pejabat. Ketika kebijakan pemerintah merugikan masyarakat, gereja memilih bahasa yang aman dan netral. Khotbah-khotbah tak pernah menyingung kebijakan-kebijakan itu atau menyinggung secara umum saja tanpa sikap yang jelas. Ketika proyek-proyek pembangunan menimbulkan konflik sosial atau kerusakan lingkungan, gereja lebih sibuk menjadi mitra pelaksana daripada suara yang mempertanyakan. Lambat laun, keberpihakan gereja bergeser. Bukan lagi berpihak kepada mereka yang tertindas, melainkan kepada mereka yang memiliki akses terhadap sumber daya.
Pada saat itu gereja mungkin masih berkhotbah tentang keadilan, tetapi khotbah mereka hambar dan mereka kehilangan keberanian untuk memperjuangkannya. Gereja masih berbicara tentang kasih, tetapi enggan mengambil risiko demi membela korban. Kasih mereka lebih besar kepada orang berkuasa daripada kepada yang tidak punya kuasa. Gereja masih mengutip para nabi, tetapi tidak lagi meneladani mereka.
Masalah terbesar dari nabi istana bukanlah bahwa mereka mengatakan kebohongan. Masalah terbesar mereka adalah bahwa mereka hanya mengatakan sebagian kebenaran yang aman bagi kekuasaan.
Mereka berbicara tentang berkat tetapi tidak tentang pertobatan. Mereka berbicara tentang perdamaian tetapi tidak tentang ketidakadilan. Bukankah perdamaian tanpa keadilan adalah penindasan? Mereka berbicara tentang pembangunan tetapi tidak tentang korban pembangunan. Mereka mungkin bicara tentang proyek-proyek besar seperti MBG, KMP, tapi bukan tentang tentang ‘Pesta Babi’. Mereka berbicara tentang stabilitas tetapi tidak tentang penderitaan rakyat yang dibayar untuk menciptakan stabilitas tersebut.
Padahal dalam Alkitab, suara kenabian justru paling jelas terdengar ketika berhadapan dengan penyalahgunaan kekuasaan. Amos berbicara tentang orang miskin yang dijual karena sepasang kasut. Mikha mengecam para pemimpin yang “menguliti” rakyatnya sendiri. Yesaya mengutuk mereka yang membuat hukum-hukum yang tidak adil. Yeremia berdiri di gerbang Bait Allah dan memperingatkan bangsa yang merasa aman karena simbol-simbol keagamaan sambil mengabaikan keadilan sosial.
Suara-suara itu tidak lahir dari kedekatan dengan istana dan rumah jabatan pejabat, melainkan dari kedekatan dengan hati Tuhan.
Karena itu, tantangan terbesar gereja masa kini bukanlah bagaimana memperoleh akses kepada penguasa. Gereja sudah cukup dekat dengan kekuasaan. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana tetap memiliki kebebasan untuk mengatakan “tidak” ketika kekuasaan menyimpang.
Gereja kehilangan identitasnya ketika ia hanya menjadi mitra pembangunan. Gereja menemukan kembali identitasnya ketika ia berani menjadi suara kenabian. Tugas gereja bukan sekadar berdoa memberkati penguasa, menjadi saksi pelantikan pejabat, melainkan juga mengingatkan penguasa bahwa mereka berada di bawah penghakiman Tuhan yang sama dengan rakyat biasa.
Jika gereja hanya hadir di ruang-ruang kekuasaan, ia akan kehilangan pendengarannya terhadap jeritan rakyat. Namun jika gereja tetap berjalan bersama mereka yang miskin, tertindas, dan tidak memiliki suara, maka ia akan terus mendengar gema panggilan para nabi.
Di situlah gereja harus memilih: menjadi nabi istana yang nyaman atau nabi independen yang mungkin tidak populer, tetapi tetap setia kepada kebenaran.[]
Penulis adalah warga GMIT Jemaat Rehobot Bakunase, Kupang








