Oleh: Redegundis Kesa
Di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang sering kali diwarnai oleh polarisasi, penghakiman instan, dan kecemasan eksistensial yang mendalam, Gereja Katolik merayakan sebuah pesta yang mungkin terdengar paradoks bagi logika manusia: Minggu Kerahiman Ilahi. Dirayakan setiap hari Minggu Paskah kedua, hari raya ini bukan sekadar penutup dari oktaf Paskah atau devosi tambahan belaka.
Ia adalah manifestasi puncak dari misteri keselamatan Kristen, sebuah pernyataan teologis yang berani bahwa inti dari kebangkitan Yesus Kristus bukanlah sekadar kemenangan biologis atas kematian, melainkan kemenangan ontologis kasih Allah atas dosa dan keputusasaan manusia. Melalui perwahyuan pribadi yang diterima oleh Santa Faustina Kowalska pada tahun 1931, dan kemudian diteguhkan secara magisterial oleh Paus Yohanes Paulus II pada tahun 2000, pesan “Aku mau ada Pesta Kerahiman” bergema sebagai jawaban ilahi atas kerinduan terdalam jiwa manusia akan pengampunan dan pemulihan.
Secara liturgis, penempatan perayaan ini pada hari kedelapan sesudah Paskah menyimpan makna simbolis yang sangat kaya. Dengan menahbiskan hari ini sebagai Minggu Kerahiman, Gereja menegaskan bahwa esensi dari ciptaan baru tersebut adalah kasih Allah yang tak bersyarat. Dunia lama, yang diatur oleh hukum yang kaku, pembalasan setimpal, dan ketakutan akan hukuman, telah berlalu.
Dunia baru adalah dunia di mana logika “mata ganti mata” digantikan oleh logika “kasih menutupi segala sesuatu”. Injil yang dibacakan pada hari ini, kisah pertemuan Yesus dengan Thomas yang ragu ( Yohanes 20:19-31), menjadi fondasi naratif yang kuat. Di sini, kita melihat wajah Allah yang tidak menghukum keraguan manusia, melainkan mendekatinya dengan lembut, menunjukkan luka-luka-Nya sebagai bukti nyata bahwa kasih-Nya telah melewati penderitaan demi keselamatan kita. Luka-luka kebangkitan Yesus bukanlah tanda kelemahan, melainkan medali kehormatan kerahiman yang menjadi jembatan bagi iman kita.
Pesan inti dari devosi Kerahiman Ilahi dapat dirangkum dalam dua kata sederhana namun revolusioner: percaya dan berbuat. Yesus berulang kali menekankan kepada Santa Faustina, “Aku rindu kepercayaanmu.” Dalam konteks teologis, kepercayaan ini bukan sekadar optimisme psikologis atau perasaan positif semata, melainkan sikap fundamental manusia di hadapan Allah. Ini adalah pengakuan jujur bahwa manusia tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri melalui prestasi, moralitas, atau kekayaan.
Di era humanisme sekuler yang sering menempatkan manusia sebagai pusat segalanya (anthropocentrism), pesan ini menjadi kontra-budaya yang menyegarkan. Kerahiman Ilahi mengundang kita untuk meruntuhkan tembok kesombongan dan mengakui ketergantungan radikal kita pada kebaikan Allah. Kepercayaan ini membebaskan manusia dari beban berat untuk menjadi “sempurna” dengan kekuatannya sendiri, dan sebaliknya, membuka pintu bagi rahmat untuk bekerja secara maksimal. Seperti kata Santa Faustina, “Bejana semakin besar, semakin banyak air kerahiman yang dapat ditampungnya”; bejana itu adalah kepercayaan kita.
Namun, kepercayaan tanpa tindakan adalah mati. Aspek kedua dari kerahiman adalah kewajiban untuk menjadi salurannya. Yesus meminta agar kerahiman dinyatakan melalui perbuatan, perkataan, dan doa. Kita tidak bisa mengklaim menerima kerahiman Allah sambil menutup hati terhadap penderitaan saudara kita. Dalam ensiklik Dives in Misericordia, Paus Yohanes Paulus II menegaskan bahwa kerahiman adalah dimensi cinta yang paling konkret dan nyata.
Di tengah budaya digital yang sering kali memicu “budaya membatalkan” (cancel culture) di mana kesalahan masa lalu seseorang digunakan untuk menghancurkan martabatnya seumur hidup, panggilan untuk menjadi instrumen kerahiman adalah tantangan profetik yang mendesak. Menjadi agen kerahiman berarti berani memaafkan musuh, mendengarkan mereka yang berbeda pendapat tanpa prasangka, membela mereka yang tersingkirkan oleh sistem sosial, dan menawarkan harapan bagi mereka yang merasa tidak layak dicintai. Ini adalah bentuk “revolusi kelembutan” yang ditawarkan Gereja kepada dunia yang semakin keras dan tidak toleran.
Lebih jauh, Minggu Kerahiman Ilahi membawa dimensi eskatologis yang memberikan harapan teguh bagi umat beriman. Jika keadilan memberikan apa yang menjadi hak kita (yang seringkali adalah konsekuensi dari dosa), kerahiman memberikan apa yang sama sekali tidak layak kita terima: kehidupan, pemulihan, dan persahabatan dengan Allah. Dalam konteks ini, Sakramen Tobat atau Pengakuan Dosa berubah wujud dari ruang pengadilan yang menakutkan menjadi “bilik kerahiman”, tempat di mana drama penyelamatan terjadi secara personal dan intim. Di sanalah individu mengalami pertemuan langsung dengan Kristus yang menyembuhkan luka dosa terdalam dan mengembalikan martabat anak Allah.
Bagi masyarakat kontemporer yang dilanda krisis makna, kesepian, dan trauma kolektif akibat perang, dan ketidakadilan, pesan Kerahiman Ilahi adalah oase di padang gurun. Banyak orang hidup dalam belenggu rasa bersalah masa lalu, merasa bahwa kesalahan mereka terlalu besar untuk diampuni. Pesan Santa Faustina menghancurkan kebohongan itu: “Tidak ada dosa yang sebesar kerahiman-Ku.” Ini adalah undangan untuk bangkit dari kubur keputusasaan. Gereja, melalui perayaan ini, diingatkan kembali bahwa misi utamanya bukan untuk mengutuk dunia, melainkan untuk menjadi sakramen kerahiman bagi dunia. Seperti sinar putih dan merah yang memancar dari gambar Yesus Kerahiman yang melambangkan air pembaptisan yang menyucikan dan darah Ekaristi yang memberi kehidupan—Gereja dipanggil untuk mengalirkan kehidupan dan penyucian bagi kemanusiaan yang terluka.
Sebagai penutup, merayakan Minggu Kerahiman Ilahi harus melampaui ritualitas tahunan semata. Ini adalah panggilan untuk melakukan transformasi batin yang berkelanjutan. Kita diajak untuk bertanya pada diri sendiri: Apakah saya sudah benar-benar percaya pada kerahiman Allah, atau saya masih hidup dalam belenggu rasa takut dan penghakiman diri? Apakah saya sudah menjadi saluran kerahiman bagi keluarga, rekan kerja, dan masyarakat sekitar? Ataukah saya justru menjadi hakim yang kejam bagi kesalahan orang lain? Dunia hari ini tidak membutuhkan lebih banyak penghakiman; dunia membutuhkan saksi-saksi kerahiman.
Mari kita jadikan setiap hari dalam hidup kita sebagai “Minggu Kerahiman”, di mana kita tidak hanya menerima kasih Allah secara pasif, tetapi secara aktif menjadi wajah kerahiman-Nya bagi sesama. Karena pada akhirnya, ukuran kekudusan kita bukanlah seberapa banyak aturan yang kita hafal atau seberapa sempurna ibadah kita, tetapi seberapa besar kerahiman yang kita hidupi, kita alami, dan kita bagikan kepada mereka yang paling membutuhkannya. Di sanalah letak inti dari Injil: bahwa kasih Allah lebih kuat daripada maut, dan kerahiman-Nya adalah satu-satunya jalan menuju damai sejahtera yang sejati.
“Yesus, Engkau Andalanku, aku percaya pada-Mu.”
Penulis adalah Mahasiswi Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang









