Oleh: Hafis Azhari
Di dalam Al-Quran ditegaskan mengenai peran setan yang selalu menggoda dan membisiki hati manusia agar merasa takut dan gentar menghadapi hari esok. Manusia dibikin cemas bahwa hari esok serba sulit dalam mencari penghidupan (rizki), lalu bergantung pada orang lain (negeri adidaya) yang dianggap sebagai satu-satunya “jalan” yang akan menguntungkan dan menyelamatkan hidup mereka.
Dalam eskatologi yang membicarakan tanda-tanda akhir zaman, Rasulullah mengisyaratkan sebagian manusia yang berebut kekayaan dengan saling sikut kiri dan kanan, bahkan meniscayakan adanya peperangan dan pertempuran. Peristiwa ini dinisbatkan dengan surutnya dan mengeringnya Sungai Eufrat akhir-akhir ini, yang mengakibatkan berbondong-bondongnya warga Suriah memperebutkan batu-batu berkilau yang muncul di sepanjang tepian sungai. Banyak pemuda membawa hamparan dan cangkul, berharap menemukan batu-batuan emas, yang ternyata hanya bongkahan mineral berwarna kuning (pirit) yang kilauannya hampir menyerupai logam mulia.
Lemahnya keimanan rupanya melanda umat muslim Indonesia juga, di era distraksi dan berebut viralitas saat ini. Mereka sibuk menghamba pada kekuasaan, jabatan, kekayaan, serta bergantung pada atasan (bos) yang dikiranya dapat menyelamatkan masa depan mereka. Padahal, bos-bos mereka juga mengandalkan penghidupan dari atasannya lagi, saling berhutang sana-sini (bank), lalu membangun kekuatan jamaah (karyawan) yang diharapkan dapat dikelabui dan “ditindas” agar dapat menciptakan perpanjangan stabilitas bagi lestarinya sistem eksploitasi manusia atas manusia lain.
Upaya para bawahan dapat diperintah dan diatur, peran setan berlaku bagi pribadi-pribadi yang ikut mengompori dan memprovokasi, bahwa masa depan terasa gelap dan suram, kecuali hanya bergantung pada instansi atau perusahaan yang pimpin mereka. Maka, muncullah pemimpin-pemimpin di berbagai bidang yang tak layak diteladani, dan pekerjaannya hanya membangun klik dan kroni kekuasaan, serta menakut-nakuti para bawahan, bahwa “keimanan” yang sejati hanyalah menghamba pada aturan perusahaannya.
Pada tataran agama, lalu yang paling dianggap suci dan sempurna hanyalah mazhabnya, bahkan aliran kepercayaannya, sambil mengompori para jamaah seolah-olah Tuhan takkan menjamin keselamatan jika mereka menginduk pada aliran dan kepercayaan lain (liyan).
Ini adalah upaya setan untuk membuat manusia bergantung pada kelompok mazhab, serta fanatik buta pada pemimpinnya sendiri, dengan mengabaikan peran dan fungsi Tuhan yang dianggap tak memihak kelompok lainnya. Pada tataran keluarga, dengan sendirinya nilai ketakwaan (keadilan) sulit diterapkan, karena ketika seorang individu memihak orang tua, juga menganggap mertua sebagai “pihak lain” yang harus dimusuhi. Dalam pola mengasuh anak-anak, akan selalu muncul tabiat, ketika orang tua mencintai satu anak yang paling berprestasi, maka anak lainnya yang tak (kurang) berprestasi, seolah layak dianggap saingan bagi yang lainnya.
Inilah gejala yang sedang melanda masyarakat dunia, baik skala mikro maupun makro. Di tingkat rumah tangga, tak jarang wanita peran sebagai simbol “hawa nafsu” hanya sibuk mengompori sang suami agar berusaha menyaingi dan mengalahkan pihak lain (tetangga kiri-kanan) yang dianggap rival dalam persaingan duniawi, baik dalam soal harta, kedudukan, hingga viralitas dan popularitas.
Tidak jarang peran orang tua yang sibuk mengompori dan meracuni pikiran anak-anak mereka, agar segera meraih dan mengejar pencapaian kesenangan dan kesuksesan duniawi, yang dalam perjalanan waktu, ternyata hanya kesuksesan semu dan ilusi belaka.
Racun pemikiran yang diagendakan setan-setan telah menjelma sebagai kekuatan “dajjal” di akhir zaman, ketika para penguasa global berhasil “mendakwahkan” kehendak dan cita-citanya. Hal ini sejalan dengan simbolisasi perjanjian setan yang disampaikan kepada Tuhan, bahwa kelak di akhir zaman mereka akan berupaya merekrut para pengikut dari kalangan manusia sebanyak mungkin, hingga mereka berada dalam satu golongan yang saling mencelakakan dan membinasakan.
“Aku akan menghalangi mereka dari jalan yang benar, mendatangi mereka dari muka, belakang, bahkan kanan dan kiri, hingga Engkau akan melihat kebanyakan mereka tidak bersyukur.” (al-A’raf : 16-17)
Pada prinsipnya, apa-apa yang menjadi agenda setan (dajjal) adalah menciptakan manusia-manusia “kufur nikmat” dengan upaya meracuni pemikiran anak-anak bangsa, hingga mereka menjadi kecewa dan gemar menyesali masa lalu, kemudian mereka dibuat cemas dan takut akan nasibnya di masa depan. Dengan dua karakteristik itu, maka manusia akan selalu berada dalam keadaan risau dan gundah pada hari ini.
Ayatullah Ali Khamenei, pemimpin besar Iran, menegaskan dalam pidatonya bahwa budaya dan peradaban semacam ini “harus segera dihentikan”. Apa yang menjadi harapan beliau, sejatinya kita harus bersatu untuk melawan ideologi “dunia bebas” yang sebenarnya sedang diagendakan “dajjal’ dan para pengikutnya. Kita harus bersatu dalam beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa (Allah).
Kita ini bukan siapa-siapa. Kita ini hanya hamba-hamba-Nya, yang apabila Tuhan membiarkan dan meninggalkan kita, maka tak ada kekuatan apapun yang membantu kita jika terserempet kendaraan di jalanan, tertimpa pohon atau atap plafon yang menabrak kepala, bahkan tersengat serangga seukuran nyamuk yang tiba-tiba menerobos ke lubang telinga kita. Secara pribadi, kita semua tak punya teropong secanggih apapun untuk mengetahui, seberapa banyak amal kita yang diterima oleh Allah, dan dengan cara bagaimana kita semua bakal mati?
Kita harus melawan agenda para setan (dajjal) yang tak menghendaki pelestarian alam semesta, keharmonisan keluarga, maupun perdamaian dunia. Mereka hanya berpacu pada kebenaran yang mereka yakini, dan selamanya akan menghendaki dan mengagendakan perpecahan dan pertumpahan darah sesama umat manusia. Lihatlah para pendukung dan orang-orang yang bersimpati pada Zionisme, mereka mampu tertawa-bahak, berpesta bahkan berjogat-joget di tengah memperoleh dan menderita warga Palestina (Islam maupun Kristen) yang mati karena tertembak dan kelaparan.
“ Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah bermaksud menguji kamu untuk memberi-Nya dikirimkan, maka berlomba-lombalah melakukan pengabdian. Hanya kepada Allah-lah kembalimu semuanya, lalu diberitahukan kepadamu tentang apa-apa yang kamu perselisihkan itu.” (al-Maidah: 48)
Lalu, apa alasan kita menganggap kelompok mazhab kita paling suci, lalu menjelek-jelekkan mazhab lainnya? Adakah alasan bagi kita untuk menganggap Syiah, Sunni, Kapitayan, Kejawen sebagai ahli-ahli neraka yang dimurkai Allah? Mengapa mudah sekali kita menganggap diri kita paling soleh, paling mengenal hakikat dan makrifat, sehingga kita menganggap satu-satunya makrifat yang akan mencapai “Nur Ilahi” adalah makrifat dari mazhab kita saja?
Bukankah semua ilmu-ilmu itu bersumber dari Allah, dan kita semua belum mengetahui secara pasti soal kebenarannya, karena Kebenaran Sejati hakikatnya bukanlah milik hamba-hamba yang lemah dan sangat terbatas, tetapi hanya milik Allah semata.
“Tak ada bisikan-bisikan yang lebih baik, kecuali seseorang yang menjadikan kebenaran sebagai pegangannya, dan keadilan sebagai tujuannya.” Barangkali, kesimpulan terakhir dalam novel saya (Pikiran Orang Indonesia) , sehaluan dengan pernyataan Ali Khamenei akhir-akhir ini, bahwa dengan kekuatan iman kepada Allah, kita harus berani berpihak dan melawan mereka yang melakukan ketidakadilan, serta menjadikan kesewenangan sebagai motor penggeraknya. (*)
Penulis adalah Peneliti memori sejarah Indonesia, penulis novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten







