Oleh: Aven Jaman
Aku masih ingat pagi itu. Matahari belum tinggi, embun menempel di dedaunan halaman kantor. Suasana seharusnya segar. Namun yang pertama tercium justru aroma sisa kopi sachet, plastik makanan, dan kardus lembap yang menumpuk di sudut belakang gedung. Sebagai seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang juga seorang Katolik, pemandangan itu menohok hati.
Bagi sebagian orang, sampah hanyalah konsekuensi hidup modern. Namun bagiku, tumpukan itu seperti cermin. Cermin yang memantulkan wajah kita sebagai manusia: anak-anak Allah yang dipercaya menjaga bumi, tetapi kerap melupakannya. Dalam sunyi halaman kantor, aku bertanya dalam hati, “Tuhan, apa Kau ingin menerima persembahan seperti ini? Sampah ini?”
Iman di Tengah Tugas ASN
Menjadi ASN berarti mengabdi kepada negara. Sedang menjadi Katolik berarti mengabdi kepada Allah. Dua panggilan itu seharusnya berjalan seiring. Namun di balik rapat-rapat, target kinerja dan tumpukan dokumen, ada satu pertanyaan yang kerap terabaikan: apakah cara ASN Katolik bekerja menjaga kehidupan ciptaan Allah?
Gereja Katolik mengingatkan bahwa pekerjaan bukan sekadar profesi tetapi panggilan. Gaudium et Spes artikel 34 menegaskan, “Pekerjaan manusia, yang berasal dari manusia, diarahkan kepada Allah. Dengan bekerja, manusia ikut mengambil bagian dalam karya penciptaan.” Artinya, apa pun tugas ASN yang Katolik, termasuk hal-hal sederhana seperti mengatur kebersihan kantor, adalah bagian dari karya Allah sendiri.
Namun kenyataan di hadapanku pagi itu seakan menggugat kesadaran tersebut. Tumpukan sampah kantor bukan sekadar masalah teknis. Itu adalah tanda bahwa kami, para pelayan negara sekaligus pelayan Allah, bisa saja sedang mempersembahkan sesuatu yang salah kepada-Nya yakni tumpukan sampah yang melukai lingkungan.
Ekoteologi, Seni Menemukan Allah pada Alam
Beberapa waktu sebelumnya aku dipercayakan sebagai moderator talk show rohani yang membahas ekoteologi, menghadirkan seorang imam Katolik sebagai narasumber. Di sana, untuk pertama kalinya aku mendengar kalimat yang mengubah cara pandangku: bumi adalah altar yang hidup. Setiap pohon, tanah, air dan udara adalah bagian dari sakramen kosmik. Ketika manusia merusaknya, ia tidak hanya mencederai alam tetapi juga menghina altar tempat Allah mewahyukan kasih-Nya.
Ensiklik Laudato Si’ Paus Fransiskus mengingatkan, “Kerusakan lingkungan adalah dosa melawan ciptaan. Bumi adalah rumah bersama yang dipercayakan kepada kita.” Kata-kata itu seketika terngiang saat aku menatap sampah pagi itu.
Perlahan, kesadaran ekologis pun menyeruak, mengguncang-guncang bathinku selaku umat Katolik yang mengabdi sebagai ASN. Maka, cara pandangku pun berubah. Sampah bukan lagi sekadar benda mati. Ia adalah tanda hubungan manusia dengan bumi dan dengan Allah.
Sebagai ASN Katolik, aku sadar pekerjaanku bukan hanya soal angka kinerja. Pekerjaanku adalah bagian dari liturgi hidup. Jika altar kantor penuh sampah, bagaimana mungkin aku mengaku sedang mempersembahkan pelayanan yang kudus?
Sampah sebagai Doa atau Dosa?
Dalam Gereja, kita selalu berbicara tentang persembahan: roti, anggur dan hidup kita sendiri. Namun hari itu aku merasa seolah mempersembahkan sampah. Sampah plastik, sampah kertas, sampah kebiasaan buruk. Bahkan lebih dalam, aku merasa mempersembahkan sampah rohani: sikap abai, rasa malas mengubah kebiasaan dan egoisme yang menempatkan kenyamanan di atas tanggung jawab ekologis.
Padahal, Katekismus Gereja Katolik mengajarkan, “Manusia menerima dunia sebagai sebuah anugerah dan harus menggunakannya dengan penuh hormat serta tanggung jawab.” Setiap kali aku membiarkan sampah menumpuk tanpa sistem yang ramah lingkungan, setiap kali aku memilih cara mudah membuang tanpa memilah, aku sejatinya sedang menolak anugerah itu.
Aku tersadar, sampah bisa menjadi doa atau dosa. Jika aku mengelolanya dengan cinta, itu adalah doa syukur. Jika aku mengabaikannya, itu adalah dosa kelalaian. Hari itu aku berbisik dalam hati, “Tuhan, jangan biarkan aku merayu-Mu dengan persembahan yang busuk.”
Pergulatan di Dalam Diri
Pergulatan ini tidak hanya terjadi di kantor tetapi juga di dalam batin. Sebagai ASN, aku terikat prosedur dan anggaran. Sebagai Katolik, aku terikat nurani iman. Kadang keduanya bertemu, kadang saling bertabrakan.
Dalam Laudato Si’ Pasal 217, Paus Fransiskus menulis, “Pertobatan ekologis menuntut perubahan hati yang dalam.” Itu berarti perbaikan bukan hanya soal program kebersihan kantor tetapi juga soal pertobatan pribadi. Aku sadar percuma mengadakan sosialisasi pengelolaan sampah jika hatiku sendiri masih menganggap itu hanya proyek tambahan, bukan bagian dari iman.
Pergulatan ini membuatku merenung: menjadi ASN Katolik bukan hanya soal membawa salib di ruang kerja tetapi membawa Injil ke dalam sistem birokrasi. Termasuk Injil yang berbicara tentang bumi, pohon, sungai dan sampah.
Dari Sudut Kantor ke Altar Dunia
Maka, pagi itu pun aku memutuskan tidak lagi berdiri mematung di hadapan sampah. Karenanya, aku mengajak beberapa rekan untuk mulai memilah. Ini bukan langkah besar, tetapi awal yang penting. Dalam hati aku berkata, “Jika bumi adalah altar, maka sudut kantor ini adalah bagian dari altar itu.”
Aku teringat homili Paus Yohanes Paulus II pada Hari Perdamaian Dunia 1990: “Penghormatan terhadap ciptaan adalah bentuk hormat kepada Pencipta.”
Kata-kata itu menjadi doa yang mengiringi tanganku saat mengambil plastik-plastik ringan yang beterbangan. Mungkin terlihat kecil, tetapi aku percaya Allah tidak pernah mengukur persembahan dari besar kecilnya tindakan. Ia melihat hati yang mau berubah.
Sejak hari itu, setiap kali kami membersihkan halaman kantor, aku membayangkannya seperti membersihkan altar gereja. Sampah tidak lagi dilihat sebagai beban tetapi pengingat bahwa kami sedang merayu Tuhan, bukan dengan kata-kata, melainkan dengan tanggung jawab.
Iman dan Harapan ASN Katolik
Perjalanan perubahan paradigma ini belum selesai. Setiap hari adalah pergulatan baru. Terkadang masih ada rekan yang menganggap urusan sampah bukan prioritas. Ada juga keterbatasan anggaran untuk membuat sistem pengelolaan yang lebih ramah lingkungan. Namun iman mengajarkan harapan.
Compendium of the Social Doctrine of the Church artikel 466 menegaskan, “Komitmen terhadap lingkungan bukan pilihan tambahan tetapi bagian integral dari iman Kristiani.” Kalimat itu menguatkanku. Sebagai ASN Katolik, aku tidak bisa lagi melepaskan urusan sampah dari iman. Ini bukan hanya pekerjaan teknis, tetapi bagian dari perutusan Injil.
Aku membayangkan jika setiap ASN Katolik membawa semangat ini ke kantornya masing-masing, tentu setiap kantor akan menjadi altar kecil. Setiap kebijakan akan menjadi doa. Sedang setiap sampah yang dikelola dengan cinta akan menjadi persembahan harum bagi Allah.
Merayu Tuhan dengan Persembahan yang Benar
Pada pagi demi pagi selanjutnya, di tengah tumpukan plastik dan kardus, aku sadar “merayu Tuhan dengan sampah” bukanlah tentang mempersembahkan kekotoran, melainkan mempersembahkan pertobatan. Tuhan tidak menuntut kesempurnaan sekaligus. Ia meminta hati yang mau dibentuk.
Sejak saat itu aku selalu memulai doa pagiku dengan kalimat sederhana: “Tuhan, jangan biarkan aku mempersembahkan hidup yang kotor kepada-Mu. Ajari aku membersihkan altar bumi ini.” Doa itu membimbing tanganku saat bekerja, mataku saat melihat sampah dan hatiku saat memutuskan kebijakan kecil di kantor.
Kini setiap kali mencium aroma sampah pagi, aku tidak lagi merasa muak. Aku merasa diundang. Diundang untuk mempersembahkan sesuatu yang lebih baik kepada Tuhan. Diundang untuk mengubah sampah menjadi doa, bukan bahan untuk berdosa. Diundang untuk mengingat bahwa menjadi ASN Katolik berarti menghadirkan Injil bahkan di sudut halaman kantor yang tengah tersengat bau tak sedap..
Merayu Tuhan pada akhirnya, bukan lagi dengan kata-kata manis, bukan dengan liturgi megah, melainkan dengan kehidupan sehari-hari yang menghormati bumi. Itulah pergulatan ASN Katolik dalam ekoteologi. Pergulatan yang dimulai dari satu sudut kantor yang dipenuhi sampah, lalu perlahan berubah menjadi altar kecil yang membawa doa ke surga. (*)
Penulis adalah Staf Pelaksana Bimas Katolik Kanwil Kemenag Daerah Istimewa Yogyakarta







