Menyoroti Orang-Orang Banten 

oleh -807 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Supadilah Iskandar

Saya bersekolah di SMU unggulan boarding school di daerah Tangerang Selatan. Kamar asrama saya cukup luas, sekitar 6 x 7 meter, dihuni oleh enam orang siswa, di antaranya dua orang dari suku Sunda, dua dari suku Betawi, satu dari etnis Tionghoa, dan satu lagi adalah saya, dari suku Jawa Banten. Kalau bicara dan berkomunikasi, logat saya dikenal medok, sehingga teman-teman sering memanggil saya dengan julukan “Jawa Koek”. Kelima teman saya, kadang meminta saya mengulangi kalimat yang saya ucapkan, sesuai aksen Jawa Banten. Mereka saling tertawa geli, sambil bertanya apakah dalam kehidupan sehari-hari keluarga saya menggunakan logat medok seperti itu.

“Saya memang bukan dari Sunda, Betawi, bahkan bukan dari Jawa. Karena Jawa Banten jelas berbeda dalam segala hal ketimbang Jawa Solo maupun Surabaya,” kata saya.

Ibu saya tidak suka dengan sebutan “Jawa Koek” yang terkesan udik, kuno dan marjinal. Karena itu, jika ada teman yang bertanya, dari mana asal saya, Ibu menekankan agar menjawab tegas, “Bilang saja dari Banten.” Tetapi, kalau ada sebagian orang menyatakan, bahwa Banten itu identik dengan suku Sunda dan logatnya tidak medok, maka jawab saja terus terang, bahwa saya berasal dari Kota Cilegon.

Orang Betawi tak peduli apakah saya punya logat medok atau halus, begitu pun dengan Liem yang berasal dari etnis Tionghoa. Hanya saja, karena warna kulitnya putih dan matanya sipit, maka saya dan teman-teman sering memanggilnya dengan sebutan “Encek”, dan Liem menerima saja, tak peduli apakah dia dipanggil Si Encek, Si Cina, Si Sipit dan seterusnya. Meskipun, dia juga diperintahkan ayahnya, agar menyatakan leluhurnya berasal dari Tionghoa, dan jangan menggunakan kata “Cina”.

Salah satu teman yang dari suku Betawi adalah Tolib, tetapi kedua orang tuanya kelahiran Kota Tangerang dan Jakarta Barat. Mungkin garis leluhurnya dulu berasal dari Daratan Cina yang datang ke wilayah Nusantara. Logat bahasa Liem serupa dengan Tolib, berbeda dengan Wawan yang ibunya berasal dari Pandegelang dan ayahnya berasal dari Rangkasbitung. Logat Wawan cenderung keras dan kasar, tetapi tak bisa dikatakan medok seperti halnya saya yang berasal dari Jawa Banten. Selain memiliki kesamaan dalam dialek, Tolib memiliki karakter yang mirip dengan Liem. Meskipun, Tolib terbilang lebih religius ketimbang Liem yang leluhurnya berasal dari Kong Hu Cu, yang baru eksis di Indonesia setelah kekuasaan Orde Baru tumbang, lalu berganti pemerintahan ke era Gus Dur (reformasi).

Dan setelah ayah Liem menjadi mualaf dan memeluk Islam, tampaknya keluarga Liem lebih menekankan aspek spiritualitas Islam yang dihubungkan dengan filsafat Confucius. Sedangkan, Tolib lebih menekankan aspek syariah Islam, dan terbilang paling soleh di antara kami semua dalam soal melaksanakan ritual-ritual keagamaan.

Jika ada yang menanyakan berasal dari mana, saya lebih nyaman untuk menjawab dari daerah Cilegon, seperti yang ditegaskan Ibu. Kecuali jika ada yang mengomentari soal logat medok saya, barulah saya mengatakan bahwa wilayah Kota Cilegon, dari delapan kecamatan, memang seluruh penduduknya berbahasa Jawa Banten.

Ayah tak terlampau memusingkan saya mengaku sebagai orang Banten atau orang Jawa, tetapi Ibu selalu membangga-banggakan leluhurnya, betapa istilah “Wong Banten” sangat bermakna dan sangat bersejarah baginya. Kadang ia bercerita tentang heroisme para wali di kampungnya, bahwa konon seorang wali bernama Kiai Sohib menghilang tiapkali melaksanakan solat Jumat, karena ia telah terbang dengan sejadahnya untuk mengikuti jamaah Jumat di kota suci Mekah. Konon, di kampung seberang ada juga wali bernama Kiai Kusen, yang dulu dapat mengendalikan api yang mengakibatkan kebakaran tenda-tenda para jamaah haji, lalu dapat segera dipadamkan hanya dengan menyiram halaman rumah dengan beberapa ember air.

Kiai Kusen ini diakui oleh masyarakat kampungnya sebagai wali yang lebih senior ketimbang Kiai Wasid, tokoh pergerakan melawan penjajah Belanda di Banten Utara. Konon, Kiai Kusen memiliki banyak karomah dan kesaktian, karena bertahun-tahun ia pernah bersemedi melakukan khalwat, sampai melakukan wirid dan tirakat yang pernah diamalkan oleh Nabi Sulaiman.

Ketika berbelanja di toko kelontong milik keturunan etnis Tionghoa di Cilegon, Ibu selalu menyebut toko mereka dengan sebutan “Toko Cina”. Seakan ingin menunjukkan bahwa mereka adalah orang asing, sementara Wong Banten adalah warga pribumi yang berhak mendiskreditkan mereka yang dianggap pendatang. Dari ribuan warga keturunan Tionghoa di Cilegon, tentu ada saja satu-dua orang yang berulah dan menjengkelkan, sehingga Ibu dengen entengnya menjuluki dia sebagai “Wong Kafir” yang tidak berhak baginya untuk memasuki pintu-pintu surga.

“Kenapa kamu malas solat seperti Wong Cina?” demikian seloroh Ibu ketika mengomeli kakak saya, “Lihat itu Haji Mahmud, padahal dia haji tetapi suka main judi, kaya Wong China saja. Mungkin, dia juga doyan makan daging babi. Ting bating!”

Ibu juga paling fasih menyebut kata “Astaghfirullah” ketika takjub menyaksikan sesuatu yang mengagetkan, kurang lebih sama ketika ia menyebut “Na’udzu billah” ketika ia mengalami phobia atau antipati terhadap hal-hal yang tak dia sukai atau sepakati. Ketika kami menyaksikan tayangan siaran televisi, yang menurut Ibu di luar akal sehat dan nalarnya, ia akan menyebut ucapan itu berkali-kali sambil disertai kata “ting bating” yang menunjukkan rasa najis atau jijik, agar jangan sampai kejadian itu menimpa dirinya, atau dialami keluarganya sendiri.

Sepulang ibadah haji ke Mekah bersama Ayah, setelah memasuki milenum ketiga lalu, Ibu senang menempelkan kaligrafi Arab berikut foto-foto perjalanan haji dalam ukuran besar di sekeliling dinding rumah, dari ruang tamu hingga ruang tengah. Tulisan Allah dan Muhammad terpampang jelas di dinding ruang tamu, yang di tengahnya terdapat lukisan gambar Ka’bah diselimuti kiswah dengan bentuk kaligrafi naskhi yang sering dikenal untuk gaya penulisan dalam lembaran mushaf Al-Quran. Ibu juga dengan bangga menceritakan pengalaman hajinya, pernah berdesak-desakan dengan ribuan warga Afrika dan Timur Tengah untuk berebut menjangkau Hajar Aswad, hingga ia berhasil menciumnya.

Sebagai orang Banten, orang tua saya sudah meninggalkan tradisi membakar kemenyan atau menyediakan kembang tujuh rupa, seperti kebanyakan orang Jawa yang berakar dari kepercayaan Kejawen (Hindu-Budha). Setelah berdatangan para mubaligh dari Hadramaut (Yaman) menjelang abad ke-20 untuk misi penyebaran Islam, kebiasaan membakar kemenyan dianggap perbuatan “syirik” yang diharamkan oleh agama. Dan segala hal yang bertentangan dengan ajaran agama, baik dari tradisi leluhur maupun non-muslim, dengan gampangnya orang tua kami menyebut sebagai perbuatan “orang kafir”.

Suatu hari, keluarga kami kedatangan tamu dari daerah Anyer yang berbahasa Sunda, lalu Ibu menyodorkan suguhan pisang goreng dan teh manis, sambil berujar dengan logat Jawa Banten: “Ayo, Nong, dahar gedangnya tuh.” Dia menggunakan bahasa “bebasan” yang halus menurut bahasanya sendiri, tetapi si tamu enggan memakan pisang goreng, tetapi hanya meminum teh manis saja. Ibu saya tidak paham, bahwa kata “dahar” itu bermakna kasar (dalam bahasa Sunda), yang biasa dipakai untuk menyuruh makan binatang ternak. Sedangkan, kata “gedang” bermakna pepaya (dalam bahasa Sunda), sementara Jawa Banten mengartikannya sebagai pisang.

Ibu dan ayah bertengkar setelah saya menjelaskan hal itu. “Makanya, kalau mau ngomong dipikir dulu! Kita ini sudah punya bahasa Indonesia. Ngapain menerima tamu dengan memakai bahasa kita sendiri, lalu di mana muka kita ditaruh ketika kita bertamu ke rumahnya nanti?”

Tetap saja Ibu tak merasa bersalah, malah menganggap semua yang bukan bahasa ibunya, adalah bahasa asing yang aneh, dan tak layak ada di muka bumi ini.

Itu pertengkaran yang sering dilakukan, terutama jika menyangkut perbedaan tradisi, bahasa bahkan kepercayaan agama. Meskipun, tidak sekeras pertengkaran orang tua Liem yang dari Tionghoa, juga orang tuanya Tolib dari Betawi, yang konon jika dilanda rasa dengki dan kecemburuan, orang tua mereka main banting-banting gayung dan ember, bahkan tak jarang gelas dan keramik di ruang tamu ikut menjadi sasarannya.

Ibu suka memasak ayam bekakak, atau daging yang dimasak dengan kecap dan rampah-rempah. Jarang ia membeli ayam yang sudah dipotong kecuali dari piaraan sendiri, atau membelinya hidup-hidup, lalu Ayah yang menyembelihnya. Mungkin ia kurang percaya kalau ayam yang diperjualbelikan di pasar telah disembelih sesuai syariat ajaran Islam. Tiapkali ia memasak sayur sop, ia menyuruh saya memakannya bersama nasi dan lauk-pauk, seakan ia mengamati tenggorokan saya saat menelannya, sampai masakannya itu benar-benar turun dan bersemayam di dalam lambung.

Menjelang acara maulid Nabi atau hari-hari besar keagamaan lainnya, rumah kami penuh sesak oleh saudara-kerabat dan para koki yang memasak rupa-rupa masakan dan penganan khas Banten, misalnya rabeg, gerem-asem, sate bandeng, hingga kue-kue seperti bugis, papais, apem, hingga kue-kue gipang dan rangginang. Mereka saling bercengkerama dan bersenda gurau menggunakan bahasa Jawa Banten. Saat itu, Ibu memaksa saya agar keluar kamar dan bergabung bersama-sama. Mereka saling menyapa dengan memakai bahasa Jawa Banten, padahal hanya sekelumit saja saya masih mengingat kosa kata bahasa itu. Sampai mereka pamit satu persatu, setelah acara ngeriung usai, tetap saya menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan siapa pun.

Beberapa hari setelah Idul Fitri, biasanya teman-teman saya datang ke rumah. Tolib pernah menyamper Liem dan Wawan, lalu mereka konvoi mengendarai dua sepeda motor ke Cilegon. Mereka senang mengobrol mengenai tradisi orang-orang Banten, misalnya pada saat buka puasa hingga sahur di bulan Ramadan, lalu disusul dengan tradisi lebaran. Saya menjelaskan, bahwa kebiasaan orang NU dan Muhammadiyah berbeda dalam banyak hal, misalnya soal jumlah solat taraweh, penentuan waktu lebaran, hingga tradisi nyekar dan ziarah kubur.

Liem adalah teman yang paling kritis dan banyak bicara di antara kami. Sambil memaparkan buku Perasaan Orang Banten, Liem menilai bahwa ajaran Islam harus dipahami secara rasional, agar dapat mudah dicerna oleh berbagai kalangan mazhab, termasuk yang non-muslim. “Tetapi bagaimana pun, saya bangga menjadi orang Indonesia yang konsisten pada semboyan bhinneka tunggal ika, persatuan dan kesatuan nasional yang dicanangkan oleh para bapak bangsa,” tegas Liem agak diplomatis. “Bayangkan, apa jadinya bangsa yang terdiri dari ribuan bahasa, suku, bahkan ribuan pulau ini, jika tidak dipersatukan oleh kekuatan Bung Karno dan para founding fathers RI lainnya.”

Di asrama sekolah kami, bahkan ada juga yang orang tuanya berasal dari NTT dan Bali, juga dari Madura yang memiliki dialek lebih medok dari bahasa Jawa Banten. Ibu saya menganggap Bali itu adalah negeri tersendiri, dan bukan menjadi bagian dari salah satu provinsi di Indonesia. Ketika melihat tayangan tradisi Hindu Bali di layar teve, ia memandang seolah Bali adalah bagian dari negeri India. Padahal, leluhur orang-orang Jawa (termasuk kami) juga banyak yang berasal dari negeri India. Bahkan, penyebaran agama Islam di wilayah barat, justru berawal dari Gujarat India, menuju Samudera Pasai di wilayah Aceh.

Butuh waktu bagi Wawan yang Sunda untuk menjalin hubungan cinta bersama Jamilah yang dari Jawa Banten. Konon, orang Sunda lebih mudah menjalin cinta dengan wanita Bali ketimbang wanita Jawa Banten. Sebab, Anda akan berurusan banyak dengan orang tuanya yang akan terus menyelidiki apakah Anda seorang religius atau bukan. Jika pun Anda pintar bersandiwara untuk menunjukkan diri rajin solat, lantas pihak orang tua akan terus mengamati mazhab apa yang Anda anut? Apakah Anda melakukan solat subuh disertai doa qunut atau tidak? Apakah Anda rajin ziarah kubur ke makam leluhur atau tidak, dan seterusnya dan sebagainya.

Dulu, ibu saya juga sangat berhati-hati ketika menjodohkan kakak saya yang perempuan. Apa jadinya jika ia memiliki pacar seorang lelaki Sunda Banten, lalu bagaimana jika berpacaran dengan Sunda Parahyangan, misalnya dari Bogor atau Bandung? Sewaktu saya bertugas di Denpasar, Ibu sangat mewanti-wanti jika saya mempunyai pacar seorang perempuan Bali yang berbeda agama. Saya tidak boleh makan di rumahnya. Tentu saja saya yang termasuk homo sapiens tak mau menyinggung perasaan calon mertua, dengan tidak menyentuh makanan apa pun yang disuguhkan kepada saya.

Apa mungkin saya harus mempersiapkan bekal di rantang, lalu ketika sang calon mertua menghidangkan berbagai rupa masakan di meja makan, lalu saya sibuk membuka ransel berisi rantang yang di dalamnya ada nasi, sayur dan lauk-pauk perbekalan dari rumah kontrakan saya?

Pernah waktu saya menjalin hubungan dekat dengan Poppy yang berasal dari Pandegelang, Ibu menyarankan agar saya tidak makan dulu sebelum mengajak Poppy ke rumah untuk menyantap masakan hasil racikannya. Coba bayangkan, bagaimana saya harus menjelaskan persoalan ini pada Poppy. Apakah perlu saya menyatakan terus terang, “Pop, kamu harus ke rumah saya dulu untuk menikmati masakan Ibu secepat mungkin… lalu setelah itu saya akan datang ke rumahmu untuk menikmati hasil masakan ibu kamu, bagaimana?”

Mungkin saja Poppy akan mencibir dan mengerutkan kening, seraya menimbang-nimbang, apakah sepantasnya kita jajan saja sambil jalan-jalan ke kebun binatang. Toh di samping kandang kera juga ada warung makan, begitu pun di sebelah kandang simpanse.

Suatu hari, ketika menikmati makan malam di rumah, Ibu menyuruh Poppy agar memanggilnya ‘Bu’ saja, daripada dipanggil ‘Mamah’ atau ‘Tante’. Biasanya, ibu-ibu pengajian memanggilnya ‘Bu Leha’ (dari nama Juleha). Ketika saya bergurau sambil mengusulkan panggilan ‘Emak’, Ibu melotot tajam ke arah saya. Ia tak bicara sepatah kata pun, mulutnya tetap sibuk mengunyah kepala ikan lele yang sejak tadi disantapnya. Karena itu, saya pun diam menunduk, tak perlu membalas tatapannya yang menimbulkan mulutnya melontarkan omelan dan sumpah-serapah dalam bahasa Jawa Banten.

Di hadapan Poppy ia mulai bercerita banyak tentang kejayaan masa lalu, tentang sejarah raja-raja Islam dan para sultan Banten. Kemudian, ketika ia melihat antusiasme Poppy saat mendengar kisah-kisah para nabi yang diceritakannya, ia pun memberikan lampu hijau bagi saya untuk terus berhubungan dekat dengannya, karena seperti yang disimpulkannya bahwa Poppy tergolong wanita Sunda yang solehah. (*)

Penulis adalah Peneliti sastra milenial dan antropologi, tinggal di Tangerang Selatan, juga aktif menulis esai dan prosa di berbagai media luring dan daring

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.