Menyingkap Alam Bawah Sadar Manusia Indonesia

oleh -1742 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Ruslan Rusron

“Tanpa mengetahui apa yang terjadi di masa lalu, kita akan sulit memahami apa-apa yang sedang terjadi hari ini,” sapaan dari sastrawan Leo Tolstoy yang mendasari penulisan novel Pikiran Orang Indonesia (POI), karya Hafis Azhari. Ketika saya jumpai di kediamannya (Rangkasbitung), ia menceritakan secara lugas perihal proses kreatif untuk penulisan novelnya.

Berawal dari tokoh “Saya” yang lahir sekitar tahun 1960-an, di kota Cilegon bagian utara provinsi Banten. Seperti Nabi Adam yang ditakdirkan memakan buah terlarang, hingga sulit untuk dicarikan kebenarannya, apakah menikmati buah itu atas kehendak Adam sendiri, ataukah memang sudah tercatat dalam buku abadi Tuhan di Lauhul Mahfudz . Mau tidak mau si tokoh (Haris) harus menerima peran yang dititipkan Sang Pemilik hidup, yang identik dengan si pemilik cerita sebagai narator utama. Setiap individu harus menerima kenyataan hidup sejak keberadaannya di alam rahim, masa kanak-kanak, hingga tumbuh dewasa di tengah iklim militerisme Orde Baru. mirip dengan tokoh Laszlo Toth dalam film “The Brutalis” (2025) yang memahami situasi dan kondisi militerisme NAZI yang membuatnya terusir dari negeri Hongaria hingga kemudian terdampar di Amerika Serikat.

Perjumpaan tokoh Haris dengan kekasihnya, Ida Farida seolah menjadi pemberontakan abadi oleh sang pencari kebenaran, hingga mengalami jatuh-bangun antara mempertahankan iman dan kekafiran. Haris yang dibesarkan di tengah keluarga religius Banten, kemudian bermetamorfosa menjadi manusia yang menolak religiusitas (homo non-religius), terutama setelah menghadapi rentetan peristiwa tak senonoh yang dipraktikkan oleh iklim militerisme Orde Baru.

Pengetahuan nutrisi

Setelah membebaskan diri dari bayang-bayang militerisme, Haris semakin memiliki nutrisi pengetahuan yang memerdekakan jiwa. Selama bertahun-tahun ia mengembara, seolah berkhalwat di dalam Gua Hira, untuk memikirkan hakikat hidup manusia, sampai kemudian terhubung dengan Yang Transenden dan Yang Maha mengendalikan segala nasib hidup manusia dan alam semesta ini.

Pada prinsipnya, dan POI baru mengajak untuk mengingat siapa kembali diri ini dan seberapa bijak kita menghargai proses hidup yang kita jalani hingga detik ini. Ia seolah membimbing pembaca pada kebaikan moral dan kesantunan yang wajib dipegang teguh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Di sisi lain, novel tersebut mengingatkan kita, bahwa segala aspek dalam kehidupan manusia adalah tentang rasa. Kehilangan cara merasa sama artinya dengan kehilangan hidup.

Kita juga harus berlatih dengan perih, karena dengan adanya penderitaan, kita belajar untuk terus bangkit dan bertahan (survive). Tokoh Haris yang dilanda kepedihan dalam fase hidupnya, pada pasangannya akan mengenalkan kita tentang arti kenikmatan dan kebahagiaan hidup. Sebab, manusia akan sulit menjiwai dan mensyukuri kenikmatan, tanpa pernah terjatuh ke dalam kesempitan dan penderitaan.

Secara eksplisit, narasi-narasi filosofis dalam POI juga menuangkan gagasan sederhana tentang arti cinta dan kasih-sayang. Sebab, tanpa adanya rasa kasih maka akan banyak menimbulkan pertikaian dan permusuhan. Dalam sudut pandang psikologis, perasaan kasih sayang adalah hal paling mendasar yang dibutuhkan oleh jiwa-jiwa manusia.

Barangkali penulisnya ingin menyatakan, bahwa rasa susah dan penderitaan itu perlu diketahui dengan baik. Seseorang perlu mengenali makna pengorbanan dan perjuangan, hingga kemudian mencapai titik kemenangan, baik secara fisik maupun spiritual.

Mental pedalaman

Di antara kita, ada satu hal yang tak mungkin terlampaui oleh satu sama lain, yaitu usia. Dalam perjalanannya, terkandung serbaneka kisah yang selalu ingin kita singkapkan rahasia dan maknanya. Itulah mengapa sebagian besar cerita yang kita alami, dapat diingat dengan baik. Nafas kehidupan berhembus dari kedalaman rahasia perjumpaan kita dengan keagungan Cahaya Kebenaran. Itulah pula yang dialami Haris pada ending kisah dalam POI. Pada akhirnya, sejarah telah menggurat jalan cerita bagi dirinya.

Sang penulis seakan menghayati penokohan di dalamnya dengan penuh kesadaran diri. Seakan tak ada yang sungguh-sungguh bisa dimengerti selain Sang Pencipta sekenario hidup itu sendiri. Pembaca akan menilai dirinya baik-buruknya, hitam-putihnya, meski kekuatan militerisme yang memperalat si tokoh selalu tampil dengan warna abu-abu.

 Selain itu, novel POI juga mengabarkan kita akan berdampak buruk dari mentalitas militerisme, hingga mempengaruhi sendi-sendi kehidupan umat beragama. Semua aksesoris dan label-label keagamaan, baik yang namanya kiai, ulama, pendeta dan pendeta, sejatinya muncul di tengah kebobrokan moral umat manusia di sekitarnya. Misi kemanusiaan yang mereka emban, seolah-olah anjuran “agama”, padahal mereka hanya menjalani laku hidup dalam ketidaksadaran, karena dininabobokan oleh penguasa rezim.

Novel POI seakan menghubungkan kita pada situasi kekinian berikut dampak psikologis yang akut akibat stigmatisasi yang disusupkan ke dalam pikiran jutaan anak bangsa. Kita seolah terus menelan buah simalakama yang pohonnya telah ditanam sejak tahun 1965. Secara sepintas, Anda akan mengalami kegalauan jika Anda tidak sabar dalam membaca novel ini hingga mencapai endingnya. Apalagi , jika Anda sukanya hanya sepotong-sepotong, hingga terjerumus memahaminya secara absurd belaka.

Meskipun kenangan dan kenangan masa lalu yang ditampilkan, pada prinsipnya novel POI bicara tentang hari ini dan hari esok. Pembaca diingatkan untuk terus mendewasakan diri, hingga memahami rahasia perjalanan diri. Kita hanya sedang menunggu giliran. Pergi dan ditinggalkan. Memberi jalan pada yang lain. Hadir mengisi ruang kosong kehidupan. Untuk meratakan kelahiran yang bahkan tiada pernah diminta. Segala yang terjadi hari ini, juga sudah terjadi sebelumnya, dan akan terjadi lagi pada masa yang akan datang.

Setiap hidup manusia punya alur ceritanya sendiri. Demikianlah yang dialami tokoh-tokoh POI. Di setiap rangkaian, terselip sejarah panjang penciptaan. Dari cahaya kita mengada, kemudian menuju ketiadaan abadi. Ia akan terus memberikan segala sesuatu yang bahkan tak pernah kita minta, dan meminta apa yang seharusnya kita beri pada kehidupan ini.

Takdir hidup yang dijalani Haris dimulai dari tangan yang bersembunyi, juga ia pergi jauh menungganginya. Diri yang menyadarinya, tidak terseret oleh ruang waktu. Haris berusaha untuk mawas dalam perjalanan usia. Kendati begitu, kehadirannya di muka bumi ini adalah rangkaian mutiara ketidaktahuan purba, yang sulit terpecahkan.

Novel POI mengajarkan kita agar melakukan aksi yang nyata dan manusiawi. Segala yang menyusahkan kita tak lain karena kabut-kabut yang telah kita ciptakan sendiri. Untuk itu, singkaplah kabut-kabut kelabu itu, tanamlah kebaikan sebanyak-banyaknya, karena hasil akhir yang akan diraih, baik maupun buruk, akan sesuai dengan apa-apa yang telah kita tanam saat ini.

Sepertinya jarang sekali kita menemukan corak sastra sejenis Pikiran Orang Indonesia, baik dalam teknik pewartaan maupun gaya bahasa yang tidak terikat oleh istilah-istilah konvensional. Hal ini tiada lain karena para penulis dan sastrawan Indonesia (sejak era Orde Baru), kebanyakan lahir dari tempurung peradaban inlander, yang dengan sendirinya mentalitas mereka memang lahir dari DNA kaum terjajah.

Bisa dibenarkan jika Hafis Azhari tak pernah bosan untuk selalu mengutip pernyataan Bung Karno: “Kemerdekaan tahun 1945 hanyalah jembatan emas, yang jadi persoalan adalah bangsa ini masih belum punya keberanian untuk menutupi jembatan yang sudah disediakan para bapak bangsa ini.” (*)

Penulis adalah Peneliti neurosains dan pemerhati sastra milenial Indonesia.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.