Menjaga Kemanusiaan dalam Birokrasi: Epistemologi Humanis dan Isu Kesehatan Jiwa ASN

oleh -787 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Yoseph Suri Bitin

Akhir-akhir ini pemerintah provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) kerap membicarakan persoalan yang terjadi berhubungan dengan kinerja aparatur sipil negara (ASN) yang tidak teratur. Penegasan pemerintah provinsi yang disuarakan gubernur, Emanuel Melkiades Laka Lena sebagai bentuk keprihatinan yang mendasar dalam membangun suatu daerah yang tidak berjalan secara baik dan teratur. Keprihatinan ini disampaikan oleh Gubernur NTT pada saat membuka Bimbingan Teknik Penyusunan Indikator Kinerja Utama (IKU) dan Penjejangan Kinerja ASN lingkup Pemprov NTT di Hotel Aston Kupang, Rabu (8/4/2026).

Ada beberapa poin penting sebagai penegasan yang disampaikan oleh Gubernur. Namun, salah satu poin penting yang mau kita perhatikan bersama adalah pendekatan humanis. Ia mengatakan bahwa tingginya tekanan kerja ASN yang memiliki potensi terhadap kesehatan mental mereka. Mengingat bahwa, hal demikian tentu tidak membantu dan menjamin kinerja ASN. Maka Gubernur berencana untuk mewajibkan pemeriksaan kesehatan jiwa secara berkala. Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk semua pejabat eselon II, III dan IV yang dilakukan minimal setahun sekali guna menjaga stabilitas dan tekanan kerja yang semakin tinggi.

Tindakan yang dilakukan Gubernur NTT merupakan tindakan epistemologi humanis (Humanizing Epistemology). Tindakan ini berlandaskan pada suatu pengetahuan yang memperlihatkan pada tujuan moral dan kemanusiaan. Ia benar-benar tegas terhadap kinerja ASN akan tetapi Ia tidak lupa dan penuh perhatian terhadap penyelesaian masalah nyata manusia dan meningkatkan kesejahteraan hidup. Tindakan ini pula bisa dikatakan sebagai tindakan yang selaras dengan kebutuhan manusia. Tindakan yang menjaga kemanusiaan di dalam suatu sistem oraganisasi yang menjalankan fungsi pelayanan publik.

Terkadang kita dapat menemukan orang-orang yang memiliki pengetahuan tentang banyak hal, akan tetapi pengetahuan itu hanya tinggal dalam konsep-konsep yang indah dan memanipulasi orang lain. Pengetahuan yang hanya berada dan berhenti pada taraf atau disposisi intelektual semata tidaklah cukup. Melainkan pengetahuan harus diwujudnyatakan dalam perilaku aktual yang membawa manfaat bagi orang lain. Pengetahuan epistemologi yang dimiliki Gubernur kita adalah pengetahuan yang lengkap karena mengandung dimensi moral dan humanistik.

Kita banyak membahas tentang pengetahuan. Namun, apa sesungguhnya arti dari pengetahuan? Dalam kamus Filsafat Lorens Bagus dan Chambers Encyclopaedia English (1994:703) yang mendefinisikan bahwa, pengetahuan sebagai salah satu dari hal-hal berikut seperti: “menyadari sesuatu; yakin terhadapnya; mempelajari dan mengingat sesuatu; memiliki pemahaman atau penguasaan terhadap objek pengetahuan; akrab dengan sesuatu; mampu mengenali atau mengidentifikasikan sesuatu; kemampuan membedakan antara hal-hal; memiliki pengelaman dan pelatihan cukup; akrab secara mendalam dengan sesuatu.

Gubernur, Emanuel Melkiades Laka Lena secara tidak langsung telah bertindak sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya. Ia meyadari dan yakin bahwa tingginya tekanan kerja ASN berpotensi terhadap kesehatan mental mereka. Ungkapan ini sebagai cerminan dari hasil pengetahuan sebelumnya yang dimiliki yang telah menggungkapkan kebenaran dan telah terbukti atau terjustifikasi (Justified true belief).

Gubernur NTT, tidak hanya bertindak tegas terhadap birokrasi dengan kuasa kepemimpinan yang Ia peroleh. Tetapi Ia juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga kemanusian birokrasi. Tindakan menjaga kemanusiaan dalam hal ini membantu dan menjamin kinerja ASN dengan cara melakukan pemeriksaan kesehatan jiwa mereka.

Tindakan Gubernur sebenarnya didasarkan atas pengetahuan yang ada dalam dirinya. Pengetahuan yang dimaksukan ini adalah epistemologi humanis (Humanizing Epistemology). Pengetahuan yang dimiliki Emanuel Melkiades Laka Lena, mau mengarahkan dan menerangi pikiran kita bahwa untuk menjadi seorang pemimpin dibutuhkan pengetahuan yang baik dan benar agar bisa mengarahkan dan membantu orang lain tepat sadar terutama terhadap kemanusian.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.