Menjadi Diaspora yang Hidup, Bukan Sekadar Bertahan

oleh -1288 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Polykarp Ulin Agan

Diaspora adalah sebuah kenyataan yang sangat tua dalam sejarah umat manusia. Secara historis istilah ini mulai dikenal sejak pembuangan bangsa Israel ke Babilonia tahun 587 sebelum Masehi. Meskipun demikian, diaspora adalah sebuah fenomen yang penuh dengan ambiguitas.

Mengapa ambigu? Karena dalam fenomen diaspora ini ada dua hal yang sangat berbeda secara kasat mata, tetapi secara esensial tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Di satu pihak ada fenomen kehilangan yang dapat memporakporandakan bangunan eksistensi kehidupan. Di lain pihak— didorong oleh “energi kehilangan“ yang menyulut inspirasi— mulai ada pencarian dan usaha menuju inovasi dalam banyak bidang kehidupan.

Fenomen inilah yang menginspirasi Felix Philipp Ingold ketika ia menulis bukunya “Paris als Exil: Die Diaspora aus Russland 1910 bis 1940“ (2025). Dalam buku ini Felix menorehkan alur eksistensial kehidupan para pengungsi Rusia di Paris yang datang pada awal abad ke-20 karena revolusi Rusia dan Perang Dunia I. Di Paris mereka memilin eksistensinya dengan membangun sebuah komunitas diaspora. Tujuannya bukan untuk sekedar mempertahankan hidup, tetapi bagaimana menjadikan kehidupan di tanah rantau berguna bagi banyak orang.

Pengasingan yang Subur

Ketika diaspora Rusia di Paris menyadari bahwa mereka harus “hidup“ dan bukan hanya “mempertahankan hidup“, pada saat itulah mereka mulai mengukir Paris sebagai tanah air kedua dan medan perjuangannya. Keterasingan pelan-pelan berubah menjadi sebuah kekuatan baru, sebuah dunia paralel yang tidak membangun monumen oposisi bagi dunia hidupnya yang baru, melainkan bahu membahu menatanya dalam sebuah kolaborasi kreatif tanpa kehilangan pijak budayanya. Dalam “dunia paralel“ ini sebuah identitas baru pun mulai terbentuk, identitas yang lahir sebagai hasil sintese dari keterberian situasi yang ada dengan nilai-nilai budaya yang dibawa dari tanah kelahirannya.

Namun, kehidupan dalam diaspora tidak selalu seindah yang tampak. Di satu pihak diaspora Rusia di Paris berusaha untuk tetap menenun budayanya di pengasingan, di lain pihak mereka pun berhadapan dengan realitas baru yang tidak selamanya memberikan tempat bagi pengejawantahan budaya secara harfiah. Kebanggaan terhadap budayanya “direm“ oleh tuntutan-tuntutan baru dalam dunia hidup yang baru. Tidak mustahil kalau terjadi pergesekan dan perbenturan budaya yang menyita waktu dan energi untuk mencari sebuah jalan tengah. Mereka berada di tapal batas dua kekuatan dikotomis: Antara Paris yang belum sepenuhnya sebagai “rumah“ dan Paris yang tidak boleh dianggap sebagai tempat persinggahan semata.

Di tengah dua kekuatan dikotomis ini, diaspora Rusia masih tetap memiliki kepedulian terhadap tanah kelahirannya. Mereka mengukir kepeduliaan ini dengan aneka macam cara, baik keterlibatan dalam isu politik maupun dalam kritik kemasyarakatan Rusia lewat karya-karya seni dan sastra. Dalam bidang politik, misalnya, mereka membentuk kelompok anti-Bolshevik yang terus menabuh genderang pembubaran pemerintahan Soviet. Menyadari bahwa kekuatan seni dan sastra adalah kekuatan yang memiliki dinamika kekuatan yang besar bagi perubahan tata masyarakat, mereka terus berusaha menuangkan gagasannya lewat seni dan sastra—suatu hal yang mampu merombak tata kehidupan masyarakat secara perlahan dari dalam. Usaha kelompok diaspora Rusia di Paris ini ternyata memiliki kontribusi bagi dinamika sosial dan politik yang lebih luas.

Diaspora NTT antara Stigma, Integrasi, dan Tanggung Jawab Sosial

Diaspora Nusa Tenggara Timur (NTT) di berbagai wilayah Indonesia akhir-akhir ini kerap disorot di media sosial sebagai sumber keresahan sosial. Di Bali, misalnya, perilaku negatif yang dilakukan oleh segelintir oknum perantau asal Sumba menimbulkan dampak sosial yang luas dan mencoreng citra seluruh diaspora NTT di daerah tersebut. Hal serupa juga terjadi di Kutai Barat, Kalimantan Timur. Teguran seorang pemilik rumah kos terhadap enam pemuda pendatang asal NTT yang mengonsumsi minuman keras sambil memutar musik dengan volume tinggi berbuntut panjang, bahkan berujung pada pemberlakuan denda adat yang fantastis bagi seluruh warga NTT di Kutai Barat.

Fenomena ini menyapa batin untuk bertanya: Bagaimana membangun identitas budaya yang dinamis dan terintegrasi bagi diaspora NTT di Indonesia, supaya identitas itu bisa menciptakan ruang bagi keragaman yang dapat memperkaya kehidupan sosial di daerah tempat mereka tinggal?

Pertama, diaspora NTT hendaknya menyadari bahwa kehidupan sebagai diaspora itu bukan hanya sekedar mempertahankan hidup, melainkan sungguh “hidup“ di tengah sebuah masyarakat baru dengan segala hak dan kewajiban serta konsekwensi yang menyertainya. Hidup yang integratif sebagai diaspora di suatu tempat/daerah berarti mengubah keterasingan menjadi sebuah kekuatan dinamis dengan mengakomodasi budaya-budaya setempat dan mengintegrasikannya dengan kekayaan budaya yang dibawah dari tanah kelahiran.

Keunggulan masyarakat diaspora dibandingkan masyarakat lokal terletak pada keragaman warna budaya serta tingkat keuletan yang lebih tinggi dalam menghadapi tantangan, sejauh mereka mampu mengadaptasi nilai-nilai lokal dan memperkayanya melalui sintesis dengan nilai-nilai yang telah melekat dalam diri. Diaspora NTT bukan sekadar sebuah fenomena migrasi, melainkan sebuah proses aktif dalam pembentukan identitas budaya yang terus bergerak, saling mempengaruhi, dan terintegrasi dengan masyarakat lokal, memperkaya keberagaman sosial yang ada.

Kedua, diaspora NTT hendaknya memiliki kebanggaan yang sehat terhadap budayanya sendiri. Kebanggaan terhadap budaya sendiri harus diakomodasikan dalam eksekusi peran di berbagai bidang usaha yang dapat memberikan dampak langsung terhadap perekonomian lokal. Dengan cara ini kelompok diaspora NTT dapat membuktikan dirinya sebagai penggerak ekonomi lokal dan semakin memperlihatkan pentingnya keberadaan mereka dalam kehidupan ekonomi masyarakat setempat. Apresiasi terhadap keberadaan diaspora ini adalah pintu menuju kehidupan bersama yang integratif dalam perbedaan.

Ketiga, diaspora NTT hendaknya tetap mengasah kesadarannya untuk selalu peduli pada tanah kelahirannya. Perspektif dan daya pikir sintetis yang terbentuk melalui perjumpaan intensif dengan budaya lain dapat menghadirkan sudut pandang baru dalam mengkritisi realitas sosial dan kemasyarakatan di daerah asal. Namun, yang perlu dihindari adalah sikap arogansi yang lahir dari efek “grass is greener”—pandangan bahwa rumput di tanah rantau selalu lebih hijau daripada rumput di tanah sendiri. Jika efek ini dijadikan pijakan dalam kepedulian terhadap daerah asal, maka setiap saran dan kritik, sebaik apa pun niat di baliknya, berpotensi terbentur pada tembok penolakan.

Diaspora bukan semata-mata soal bertahan hidup dalam keterasingan, melainkan tentang membangun sesuatu yang baru—sebuah dunia paralel yang tidak hanya memperkaya budaya tempat berlabuh, tetapi juga memperkaya dunia secara keseluruhan. Hal ini tercermin, misalnya, dalam fenomena diaspora Rusia di Paris. Melalui karya-karya monumental yang memadukan kekayaan tradisi mereka dengan elemen-elemen baru, diaspora Rusia meninggalkan jejak yang tak terhapuskan dalam sejarah budaya dan intelektual Eropa.

Penulis adalah Dosen Sekolah Tinggi Teologi KHKT (Kölner Hochschule für Katholische Theologie), Keuskupan Agung Köln, Jerman

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.