Oleh: Yoga Duwarto
Kepercayaan adalah Mata Uang Terbaik yang Amanah
Rencana mendirikan Family Office di Indonesia, khususnya di Bali dan IKN, muncul dari Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan. Dengan maksudnya ingin dapat menarik investor besar dan mengelola kekayaan orang-orang super kaya di tanah air. Tapi rencana ini kemudian ditanggapi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang langsung bilang tidak setuju kalau pembiayaan mendirikan bisnis Family Office memakai uang negara.
Ini jelas bukan sekadar beda pendapat biasa. Karena sebenarnya ada tiga hal penting yang membuat publik dan pemerintah harus ekstra hati-hati dalam melihat rencana ini. Intinya untuk menjaga agar uang rakyat yang digunakan melalui APBN tetap aman dan keuangan negara tidak kacau.
Apa itu Family Office dan Bagaimana di Dunia
Sederhananya, Family Office adalah kegiatan usaha dari perusahaan swasta untuk jasa urus urusan keuangan keluarga kaya raya. Dari investasi sampai pajak hingga kegiatan sosial. Sebenarnya konsep ini sudah sangat umum dan sukses di beberapa negara.
Sebagai contohnya di Singapura terdapat hampir dua ribu bisnis mengelola Family Office. Usaha ini telah jadi tempat favorit para orang kaya Asia karena situasi ekonomi negara ini stabil dan sangat jelas aturan pajaknya. Demikian juga jika melihat di Hong Kong dengan dukungan politik yang kuat dibarengi oleh regulasi yang mudah.
Sedangkan di Amerika Serikat jelas ada contoh yang terkenal seperti Walton Enterprises yang mengelola uang keluarga pendiri Walmart, juga ada Cascade Investment milik Bill Gates. Sedangkan kalau di Swiss, terkenal dengan kepercayaan serta kerahasiaan sungguh sangat dijaga, sehingga membuat Family Office di sana sangat dipercaya.
Jadi wajar saja kalau Indonesia kemudian pengin punya yang semacam itu supaya dana orang-orang kaya yang ada di sini tidak lari ke luar negeri.
Kenapa Pemerintah Khawatir Soal Risiko
Perlu diketahui bahwa di balik semua itu, ada kekhawatiran besar yakni soal pencucian uang. Yang sangat mungkin terjadi kalau pengawasannya lemah, maka Family Office bisa jadi jalur buat dana ilegal masuk ke pasar resmi Indonesia.
Terlebih banyak juga orang kaya di Indonesia yang asal usul kekayaannya masih sulit dilacak. Yang kalau tidak didetailkan dan dicek dengan ketat, ini bisa-bisa malah membuat negara menjadi kena cap negatif di mata dunia.
Maka pemerintah harus pastikan tidak sampai Family Office membuat Indonesia jadi tempat berlabuh uang gelap.
Apakah Kita Sudah Siap Mengelola Family Office?
Mengelola Family Office jelas sangat butuh kepercayaan dan profesionalisme tata kelola keuangan tinggi. Infrastruktur hukum dan sumber daya manusia di Indonesia sampai saat ini masih perlu banyak perbaikan.
Pengelolaan kekayaan satu keluarga saja rumit, apalagi jika melibatkan banyak keluarga Richie Rich berbeda. Maka potensi konflik kepentingan tinggi kalau tidak dibarengi pengawasan serta aturan main yang jelas.
Kalau tidak siap dan tetap dipaksakan, maka proyek ini justru bisa menarik dana bermasalah yang ujungnya sulit diurus.
Mengapa APBN Tidak Boleh Dipakai untuk Ini
Menteri Keuangan Purbaya punya alasan kuat melarang penggunaan uang negara. APBN harus diprioritaskan buat hal-hal yang langsung dirasakan masyarakat seperti pelayanan kesehatan, pendidikan, dan pembangunan infrastruktur.
Kalau Family Office mau dibangun, maka seharusnya biayanya didapat dari dana swasta. Kalau DEN yakin bisa, ya minta dan lakukan atas dana sendiri, jangan memaksakan menggunakan uang rakyat.
Ini jelas soal tanggung jawab dan transparansi pengelolaan keuangan negara.
Pengalaman Negara Lain soal Family Office
Singapura jadi contoh paling sukses di Asia. Pemerintahnya bikin aturan yang jelas dan memberikan insentif pajak menarik. Jadi banyak orang kaya dari seluruh dunia mau membuka Family Office di sana. Ada banyak Family Office di Singapura, yang sebagian besar melayani keluarga kaya dari Asia, Australia, dan Eropa. Mereka juga dilengkapi punya lembaga pengawas yang sangat ketat untuk mencegah pencucian uang.
Hong Kong juga punya cerita mirip. Meski sempat mengalami gejolak politik, pemerintah tetap konsisten menjaga lingkungan investasi dan iklim keuangan agar nyaman dan aman. Ini bikin Hong Kong tetap jadi pusat Family Office yang populer di kawasan ini.
Di Amerika Serikat, banyak Family Office besar yang sudah puluhan tahun beroperasi. Misalnya Walton Enterprises yang mengelola kekayaan keluarga pendiri Walmart, mereka punya sistem manajemen yang sangat ketat dan profesional. Contoh lain Cascade Investment milik Bill Gates yang juga fokus pada investasi serta filantropi. Di sana, regulasi keuangan dan pengawasan anti pencucian uang sangat ketat, jadi reputasi mereka sungguh sangat terjaga.
Swiss punya reputasi istimewa soal Family Office karena keamanannya. Mereka punya sistem hukum dan privasi yang membuat keluarga kaya merasa aman menitipkan asetnya di sana. Demikian juga Switzerland telah dikenal sangat ketat dalam memerangi pencucian uang dan kegiatan ilegal.
Membangun Family Office di Indonesia memang bisa jadi peluang besar. Namun semua harus dijalankan dengan penuh kehati-hatian. Dana pendirian harus berasal dari modal swasta, regulasi harus tegas, dan pengawasan ketat tanpa kompromi. Dengan begitu, Indonesia bisa menjaga reputasi serta melindungi uang rakyat dari risiko yang tidak perlu, sekaligus membuka pintu untuk pertumbuhan investasi yang sehat dan berkelanjutan.
Penulis adalah Peneliti dan Pemerhati Kebijakan Publik







