Oleh: Aldo Fernandes
Di era modern ini dengan segala perkembangan teknologi yang semakin memukau dan hampir mengubah seluruh aspek kehidupan manusia. Realita yang terjadi bawasannya, kita hidup di dunia yang terhubung secara digital namun hampir sebagian besar orang yang masih merasa kesepian, terasing, bahkan kehilangan makna dalam hubungan dengan kehidupan sosial.
Dunia yang dulu terbatas oleh ruang dan waktu kini telah menjadi ruang yang tanpa batas, di mana orang bisa berkomunikasi secara instan dan dengan berbagai cara orang dapat mengaksesnya untuk mencaritahu segala sesuatu sesuai kebutuhan dari setiap personal. Teknologi, secara khusus media sosial (AI), telah menjadi alat bantu yang sangat fundamental untuk kebutukan manusia. Secara tidak sadar kita telah terhipnotis oleh teknologi, yang membuat kita berpikir instan. Muncul pertanyan mendasar adalah; Apakah dengan kehadiran teknologi dapat membuat kita lebih bersaudara atau justru menjauhkan kita satu dengan yang lain?
Paus Fransiskus, dalam ensikliknya Fratelli Tutti (2020), mengangkat pentingnya membangun persaudaraan secara universal dan budaya pertemuan di tengah dunia yang penuh dengan pertikaian, budaya konsumerisme dan individualisme. Mendiang Paus Fransiskus menekan bahwa setiap orang, tanpa membedakan agama, budaya, suku, serta golongan-golongan tertentu, dipanggil untuk hidup dalam kasih dan solidaritas. Dilihat dari realitas yang terjadi saat ini seruan itu semakin mendesak dan sangat relevan. Walapun sosok seorang bapa suci Paus Fransiskus telah tiada namun ajarannya terus bergema hingga kini dan memberi pengaruh besar bagi kehidupan di era modern.
Kelebihan dan Kekurangan Teknologi dan Seruan Paus Fransiskus
Perkembangan teknologi, khususnya dalam bidang komunikasi digital, telah membantu manusia untuk membangun relasi dengan orang lain yang tidak kita kenali serta memudahkan orang untuk menyebarluaskan berita-berita yang popular. Dengan hadirnya teknologi dapat membantu orang untuk bisa membagikan tulisan-tulisan, dapat menyebarluaskan tentang ajaran iman dan lain-lain. Namun dalam teknologi juga membawa dampak-dampak negatif jika orang tidak mengaksesnya dengan bijaksana serta kesadaran moral yang bertanggungjawab.
Paus Fransiskus menyampaikan keprihatinan dalam ensiklik Fratelli Tutti, khususnya terhadap penggunaan teknologi yang memperkuat narsisisme, eksklusivitas, dan perpecahan: “Komunikasi yang kita miliki saat ini terlalu sering hanya memperkuat ego dan kelompok sendiri. Media digital memungkinkan isolasi yang sangat halus: kita bisa memilih untuk hanya berinteraksi dengan mereka yang sepemikiran, dan mengabaikan atau menyerang yang berbeda pandangan.” (Fratelli Tutti, no. 42–44)
Fenomena ini dikenal sebagai filter bubble atau “ruang gema informasi”, dimana algoritma hanya menampilkan informasi-informasi yang sejalan dengan keyakinan kita, sehingga hal semacam ini dapat mempersempit wawasan pengetahuan dan menghambat dialog yang sehat.
Meningkatnya Individualisme
Pandangan Paus Fransiskus bukaklan semata-mata hanya sebuah refleksi moral, namun sejumlah studi ilmiah tentang pembuktian nilai-nilai individualisme memang meningkat secara global. Sebuah studi oleh Santos et al. (2017), yang meneliti data dari 78 negara selama lebih dari 50 tahun, menunjukkan bahwa tingkat individualisme meningkat secara signifikan, terutama di negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi yang cepat dan urbanisasi yang pesat. Indikator dari meningkatnya individualisme antara lain; Jumlah rumah tangga dengan satu orang meningkat, dan tingkat partisipasi dalam komunitas lokal menurun.Selain itu hubungan kekeluargaan menjadi lebih longgar, orang menjadi candu teknologi, serta menjadi pribadi yang kurang terbuka terhadap sesama.
Sementara itu, laporan dari The Guardian (2024) mencatat bahwa negara-negara maju tengah mengalami epidemi kesepian, yang disebabkan oleh pola hidup individualistik dan tergantung pada dunia digital. Bahkan di Inggris, pemerintah membentuk Kementerian Kesepian untuk menanggulangi krisis isolasi sosial.
Konteks Lokal: Tanda-Tanda Individualime di NTT
Meskipun Masyarakat Indonesia dikenal kolektif, perubahan nilai juga mulai terasa. Di wilayah seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), perubahan soial menunjukan gejala serupa:
Menurut data Good Stats (2024), 77 persen kepala rumah tangga di NTT adalah perempuan, yang menandakan bahwa banyak keluarga dijalankan oleh satu individu. Ini bisa terjadi akibat migrasi, perceraian, atau faktor sosial ekonomi lain. Perubahan ini menunjukkan kecenderungan individualisasi peran keluarga.
Selain itu, data BPS 2024 menunjukkan bahwa rata-rata jumlah anggota rumah tangga di NTT relatif stagnan di angka sekitar 5,8 orang, namun data kualitatif menunjukkan peningkatan rumah tangga kecil dan keluarga tidak utuh, terutama di daerah perkotaan seperti Kupang.
Dilihat dari kondisi semacam ini, tidak langsung dapat disimpulkan sebagai “krisis sosial.” Hal ini dapat memperkuat narasi bahwa ikatan kolektif mulai bergeser ke struktur sosial yang lebih bersifat individualistik bahkan di daerah-daerah yang dikenal kuat dengan budaya komunal.
Persaudaraan Universal: Seruan Kemanusiaan yang Mendesak
Dalam menghadapi tantangan-tantangan semacam ini, Paus Fransiskus tidak mengajak kita menolak doktrin-doktrin gereja, seperti cinta kasih, kepedulian, solidaritas dan persaudaraan. Sebaliknya, ia menantang kita untuk menggunakaanya secara etis, inklusif, dan berorentasi pada nilai-nilai kemanusiaan. Ia menegaskan bahwa di dunia digital pun, kita harus menciptakan budaya pertemuan (cultural of encounter) ruang dimana kita saling mendengarkan, menghormati perbedaan, dan bekerja sama demi kesejahteraan hidup bersama. “Kita tidak dapat menyelamatkan diri sendiri. Kita hanya dapat diselamatkan bersama.” (Fratelli Tutti, no. 32)
Membangun persaudaraan di era diagital memang bukanlaha hal yang mudah. Namun, hal ini bukan berarti tidak mungkin. Bapa suci hPaus Fransiskus menegaskan bahwa tugas membangun dunia yang lebih bersaudara harus dimulai dari diri kita sendiri. Mulai dari cara kita menggunakan media sosial, memilih konten, hingga keputusan untuk hadir secara nyata dalam kehidupan orang lain. “Apa yang bisa dilakukan teknologi untuk kita?” pertanyaan ini dapat dikritisi lebih jauh dengan mengubahnya “Apa yang bisa kita lakukan, melalui teknologi, untuk sesama?”
Teknologi adalah suatu alat yang dapat membantu manusia dalam berbagai aspek kehidupan, tetapi juga bisa menjadi alat penghambat kehidupan manusia jika tidak digukan dengan bijak. Paus Fransiskus mengajak kita utuk tidak terjebak dalam arus digital yang dangkal tetapi mengarahkan teknologi menjadi sarana persaudaraan dan kasih. Di mana kehidupan persaudaraan, solidaritas dan cinta kasih melampui sekat-sekat perbedaan yang ada.
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang







