Oleh: Brogian Ribhato
Pada tahun 2014, Tom Nicholas menulis sebuah artikel yang berjudul “The Death of Expertise” atau “Matinya Para Pakar” yang kemudian diterbitkan menjadi sebuah buku oleh Oxford University Press pada tahun 2017. Artikel itu berisi kritikan terhadap praktik politik di Amerika yang secara sistematis melawan pengetahuan yang mapan dan suara dari para ahli. Para ahli yang berbicara dengan bertolak dari fakta dan logika ditanggapi secara sentimental demi ego-politik.
Donal Trump misalnya mengatakan bahwa tidak akan ada pemanasan global, meskipun para ilmuwan dengan objektifitas ilmiah menunjukan adanya pemanasan global. Inilah yang disebut dengan gejala post-truth. Kebenaran adalah milik siapa saja atau siapapun dapat merancang kebenaran dengan versinya meskipun itu berseberangan dengan fakta. Yuval Noah Harari dalam sebuah bukunya menunjukan sebuah gejala post-truth. “ketika fakta berseberangan dengan keyakinan, maka fakta itu perlu dikoreksi, bukan keyakinannya” demikian kata Harari.
Sejak pemerintahan Prabowo, salah satu kebijakan yang dibuat yang menimbulkan banyak pro-kontra adalah program makan bergizi gratis. Program itu memiliki tujuan yang sangat mulia. Anak-anak harus diberi asupan gizi dengan makanan yang sehat. Masalah stunting harus diatasi. Namun ketika program itu dibuat, banyak pihak yang berkeberatan.
Keberatan yang diajukan misalnya, pemberian makan bergizi gratis terhadap anak sekolah sebagai upaya mengatasi stunting tidak efektif karena masalah stunting harus diatasi sejak bayi berumur 0-2 tahun. Selain itu sebagaimana disampaikan oleh para pakar sanitasi, program MBG dalam jumlah yang sangat besar beresiko pada kontaminasi mikroba yakni proses masuknya mikroba (seperti bakteri, virus dan jamur) ke dalam suatu lingkungan, bahan atau produk tertentu.
Namun meskipun hal itu sudah diperingati sedini mungkin, program itu tetap dijalankan. Sekarang kita menyaksikan di banyak tempat, banyak anak yang mengalami keracunan setelah mengonsumsi “makan bergizi gratis” itu. Ironisnya, peristiwa keracunan itu dinilai secara sepihak yakni hanya melimpahkan kesalahan pada dapur pengelola dan bukan dilihat sebagai sebuah kegagalan system secara keseluruhan. Para pembuat kebijakan lebih memilih mencuci tangan dari fenomena itu.
Selain itu, bukannya segera menghentikan program itu, pemerintah malah membangun argumen berdasarkan data stattistik bahwasannya karena peristiwa keracunan hanya terjadi sekitar nol koma sekian persen (10 ribu yang mengalami keracunan sejak program itu dibuat dari sekitar 1 miliar porsi), maka program itu harus tetap dijalankan. Inilah logika sesat. Nilai kemanusiaan tidak bisa dikalkulasi berdasarkan data statistik. Bahkan jika hanya satu orang manusia yang keracunan karena “makan bergizi” itu, maka itu adalah masalah kemanusiaan.
Beberapa waktu lalu, sebuah pernyataan muncul dari bibir Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai tanggapan atas peristiwa keracunan yang dialami oleh para siswa/siswi di beberapa sekolah. “Hal ini biasa dan lumrah”. Inilah yang disebut dengan pembunuhan terhadap fakta dan juga “the Death of Expertise”. Hanya demi implementasi program politik, narasi para ahli diabaikan. Fakta sudah bicara. Tetapi itu semua dibungkam oleh narasi yang dangkal. Ini mengikatkan kembali akan sebuah mitologi Yunani Kuno. Seorang perempuan yang bernama Casandra dikaruniai oleh Dewa Apolos kemampuan untuk meramalkan segala hal di masa depan dan ramalannya itu tidak pernah salah.
Namun oleh karena ia menolak cinta dari sang Dewa, maka dia juga diberi sanksi. Meskipun ramalannya tidak pernah salah, tidak seorangpun yang akan mempercayainya. Sekarang para ahli seperti tokoh Casandra. Mereka tidak akan pernah didengarkan karena dalam tubuh pemerintah sekarang, narasi ego politik mengaung lebih keras daripada suara kebenaran dari laboratorium ilmuwan.
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang dan Anggota Komunitas Sodalitas Sui







