Luka di Tanah Damai: Saat Toleransi Hanya Slogan

oleh -2005 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Ermelinda Noh Wea

Indonesia dibangun dari keberagaman. Negeri ini lahir bukan dari satu warna, satu suku, satu agama, atau satu bahasa, tetapi dari keberanian untuk merangkul perbedaan menjadi kekuatan bersama. Namun, peristiwa intoleransi yang terjadi di Sukabumi beberapa hari lalu seolah mencabik kembali kain persaudaraan yang selama ini kita jaga dengan susah payah.

Saat sekelompok pelajar Kristiani sedang melaksanakan kegiatan retret rohani di sebuah vila di Kampung Tangkil, Kecamatan Cidahu, mereka justru dihadapkan pada kekerasan yang tidak berperikemanusiaan. Sebuah salib yang menjadi simbol keagamaan kristiani dijatuhkan, diinjak, bangunan vila dirusakkan, dan kegiatan kerohanian dipaksa dihentikan. Ini bukan sekadar tindakan vandalisme atau keributan biasa. Ini adalah bentuk nyata intoleransi dan kebencian yang mengancam sendi dasar kehidupan berbangsa dan bernegara.

Yang lebih menyedihkan, para peserta kegiatan tersebut adalah para pelajar. Mereka adalah anak-anak muda yang sedang bertumbuh, mencari makna hidup, dan membangun identitas spiritualnya. Kini mereka justru mengalami trauma mendalam akibat perlakuan yang mereka terima. Ketakutan dan kebingungan menyelimuti mereka mengapa mereka yang hanya ingin beribadah, justru diserang? Bagaimana mungkin pengalaman spiritual yang seharusnya menjadi momen damai berubah menjadi luka batin yang membekas?

Tindakan itu menyayat hati siapa pun yang masih menjunjung nilai kemanusiaan. Ia merusak rasa aman warga negara yang mestinya dilindungi oleh hukum dan konstitusi. Apa salahnya beribadah dengan tenang? Apa dosanya memuliakan Tuhan menurut cara dan iman masing-masing?

Lebih dari itu, insiden ini menunjukkan bahwa masih ada kelompok-kelompok tidak bertanggung jawab yang merasa berhak menentukan siapa yang boleh beribadah, di mana, dan bagaimana. Mereka bertindak seolah-olah di atas hukum, memaksakan kehendak, dan mencederai prinsip kebhinekaan yang menjadi roh Indonesia.

Sebagai Ketua Pemuda Katolik Komisariat Cabang Nagekeo, kami dengan tegas mengecam keras tindakan-tindakan intoleran seperti yang terjadi di Sukabumi. Tindakan itu tidak hanya mencoreng nilai-nilai kemanusiaan dan keagamaan, tetapi juga mengkhianati semangat Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang selama ini menjadi dasar kita hidup berdampingan.

Kami menegaskan bahwa Indonesia bukan milik satu agama, satu etnis, atau satu golongan saja. Indonesia adalah rumah bersama bagi semua warga negaranya, tanpa kecuali. Siapa pun yang merusak rumah ini dengan kebencian, ancaman, atau kekerasan, maka dia sedang merobek janji kebangsaan kita.

Lebih lanjut, kami mendesak pemerintah dan aparat penegak hukum untuk tidak menutup mata. Ini bukan waktunya untuk netral atau sekedar imbauan damai. Tindakan tegas dan transparan terhadap para pelaku intoleransi harus segera dilakukan. Hukum harus berdiri tegak untuk semua, bukan hanya bagi mereka yang kuat atau mayoritas. Bila tidak, maka kita sedang mengizinkan benih-benih kebencian itu tumbuh dan menyebar ke penjuru negeri.

Kami juga meminta pemerintah memberikan perhatian khusus terhadap pemulihan psikologis para pelajar yang menjadi korban. Mereka tidak hanya mengalami gangguan kegiatan, tetapi juga luka emosional yang dapat membekas seumur hidup. Negara harus hadir, bukan hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai pelindung dan penyembuh bagi warganya.

Kami juga mengajak seluruh elemen masyarakat tokoh agama, pemuda lintas iman, akademisi, dan tokoh adat untuk bersatu melawan intoleransi. Ini bukan hanya persoalan agama, tetapi tentang masa depan bangsa. Jika hari ini kita diam melihat satu kelompok ditindas, maka jangan terkejut jika besok giliran kita yang menjadi korban.

Toleransi bukan sekadar slogan. Ia adalah kerja keras setiap hari. Ia adalah keberanian untuk berdiri di sisi yang benar, meskipun itu sulit. Ia adalah keputusan untuk mencintai sesama meski berbeda dan menjunjung martabat setiap manusia sebagai ciptaan Tuhan.

Mari kita rawat luka ini dengan keadilan. Mari kita jaga Indonesia, agar tidak menjadi negeri yang hanya indah dalam pidato, tetapi sepi dalam kasih. ***

Penulis adalah Ketua Pemuda Katolik Komisariat Cabang Nagekeo Flores

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.