Oleh: Hafis Azhari
Film The Brutalist berhasil memenangkan dua kategori bergengsi dalam ajang perfilman dunia tahun ini, yakni Golden Globe Award dan Academy Award. Film ini mengandung visi yang sama dengan garapan Steven Spielberg, Shindler’s List (1993) perihal kekuatan kaum Yahudi dalam menghadapi cobaan dan ujian hidup yang bertubi-tubi mereka alami dari zaman ke zaman.
Film ini mengisahkan Laszlo Toth (Adrien Brody), seorang arsitek Yahudi kelahiran Hungaria, yang kemudian beremigrasi ke Amerika Serikat, setelah dirinya terbebas dari ancaman Holocaust oleh militerisme Nazi Jerman. Ia berjuang untuk menggapai impian Amerika, yang kemudian berjumpa dengan kliennya yang kaya raya.
Laszlo pernah mencari peruntungan nasib di daerah Philadelphia , lalu singgah di tempat tinggal sepupunya Attila, yang mempunyai istri berkebangsaan Amerika Serikat. Mereka mengizinkannya untuk tinggal bersama mereka, sementara Laszlo terus berusaha mencari pekerjaan. Pada tahun 1947, Laszlo dan Attila tidak percaya untuk menjalankan tugas merenovasi ruang belajar dan perpustakaan modern, oleh seorang putera Harrison, yakni seorang industrialis kaya-raya di Amerika.
Permasalahan konflik mulai mengemuka, ketika Laszlo dan Attila semakin menyadari hakikat manusia pasca industri yang tak berbeda perangainya sebagai musang musang yang berbulu domba. Kelihatan cantik dan mentereng, namun perilakunya tetap sebagai pemburu-pemburu ganas dan pembohong yang bersikukuh mempertahankan mental para tuan, dengan budak-budak yang harus mengabdi kepada induk semangnya.
Laszlo dan Attila, sebagai pemuda berdarah Yahudi yang cenderung liberal, akhirnya diusir oleh Harrison yang gagal paham. Keduanya pergi tanpa memperoleh bayaran untuk hasil pekerjaan dan material yang telah dibangunnya dengan susah payah. Tak lama kemudian, Laszlo harus hengkang dari kediaman sudaranya dan menggelandang kembali, karena khawatir terjadi perkawinan dengan Attila bersama istrinya yang cantik.
Mencari nafkah
Kisah pun bergulir hingga memasuki tahun 1950, ketika Laszlo memilih tinggal di perumahan amal di dalam Gereja Katolik. Ia berteman dengan Gordon, seorang imigran Afro-Amerika yang miskin dan berjuang mencari penghidupan untuk membesarkan seorang puteranya yang masih kecil. Pada saat bekerja sama dengan Gordon, si kulit hitam itu terheran-heran mendapatkan Laszlo mengonsumsi heroin, sebelum melakukan pekerjaan yang berisiko tinggi dan berbahaya di kapal galangan.
Di tengah kesibukannya sebagai pekerja kasar yang mengais “yang halal” dari hasil usahanya, Laszlo kemudian dipertemukan dengan Harrison, yang akhirnya mengakui secara jujur bahwa hasil kreasinya dulu, ketika merenovasi perpustakaan modern, tampaknya telah mendapat banyak pujian dari komunitas arsitektur. Ia pun akhirnya diterima secara layak, meskipun Laszlo bukanlah tipikal orang yang haus akan pujian dan penghargaan. Ia bahkan diundang dalam acara pesta khusus, di mana ia ditempatkan sebagai tamu kehormatan oleh keluarga besar Harrison.
Dengan terungkapnya masa lalu Laszlo di Eropa sebagai seorang arsitek, serta obsesinya yang tinggi akan kemajuan dunia arsitektur, Harrison akhirnya menugaskannya untuk membangun pusat komunitas, guna menghormati mendiang ibu dan leluhurnya, yang dilengkapi dengan perpustakaan modern, teater, gimnasium dan kapel. Itulah yang dikehendaki keluarga besar Harrison, agar warisan monumental yang didirikannya dapat menjadi amal sosial bagi kepentingan orang banyak.
Film The Brutalist, meskipun bukan diangkat dari kisah nyata laiknya Shindler’s List, namun ia mencerminkan kejeniusan Yahudi Diaspora yang merajai industri kesenian di belahan dunia manapun. Ia telah mengajarkan kita, bahwa untuk menjadi manusia brutal di era hiper modern ini, tidak harus menghalalkan segala cara, dengan main sikut kiri dan kanan, lalu menyeruduk sana sini untuk melakukan korupsi dan pelanggaran konstitusi.
Dengan demikian, ia telah menjadi kritik sosial terhadap warisan abadi yang berkembang dan bermutasi dalam iklim kapitalisme, seolah-olah manusia dapat disebut “sukses” manakala mampu menyikut dan menyingkirkan lawan, saingan atau pesaing-pesaingnya.
Kredo Amerika
Dalam pidato kemenangannya Donald Trump seakan telah memelintir The American Creed, menjadi slogan bagi manusia-manusia hukum rimba belantara. Kemenangan itu laiknya kemenangan para mafia, penyelundup, orang-orang bisnis yang egois dan serakah. Ironisnya, mereka itulah yang sering dianggap menang dan jaya, sedangkan orang-orang baik yang serba mengalah harus menerima posisi yang serba terjepit dan terpinggirkan.
Prinsip hidup dalam The American Creed telah lama dianggap sebagai ideologi dan agama masyarakat. Sama halnya dengan ideologi Pancasila , ia pun berbicara tentang persatuan dan kesatuan nasional, bahkan melindungi seluruh perkembangan agama agama yang dihilangkan dari Nasrani. Butir butir The American Creed, yang menyatakan bahwa Amerika adalah tanah air kekasih Tuhan, telah dipraktekkan secara konsekuen oleh Laszlo Toth, dengan segala kekurangan dan kelemahannya sebagai manusia biasa.
Imajinasi Laszlo terus mengembara dan melanglang buana. Di negeri mana pun, tipikal semacam itu sering dianggap “senewen” oleh para penguasa maupun hartawan seperti Harrison, namun ia tetap menjaga identitas dan harga dirinya. Bagi Laszlo, manusia hidup dalam suatu sistem, lalu mengembara dari sistem ke sistem, sampai akhirnya ia berusaha untuk bersandar pada sistem terbaik yang harus ia pilih. Silakan saja memahami konsep sableng, tidak dibayar atas jerih-payahnya, bahkan terusir dari tempat tinggalnya. Tetapi, yang terus diperjuangkan Laszlo adalah konsistensi menjaga harga dirinya, serta martabat kemanusiaannya.
Tentu saja Laszlo bukan tipikal kaum sufi yang idealis, serta menganggap para hartawan dan penguasa laiknya para pasien yang sedang mengalami sakit kronis. Ia mengalami kekecewaan dan keterpurukan, tetapi ia sanggup mengambil hikmah dan pelajaran darinya untuk tetap bertahan menjaga harga diri dan nilai-nilai kemanusiaannya.
Laszlo juga bukan tipikal pengkhotbah atau penceramah, dengan mulut-mulut berbusa melafalkan teks-teks kitab suci. Gaya hidupnya sering menapaki jejak-jejak yang menimbulkan tanda-tanya. Tetapi, Gordon, seorang imigran Afro-Amerika akhirnya memaklumi, bahwa Laszlo adalah manusia biasa yang sarat kekhilafan. Setidaknya, ia bukanlah bagian dari sistem yang korup dan tidak adil, yang selalu saja dapat dibuktikan bahwa kolaborasi tritunggal jahat (pengusaha, penguasa dan tokoh agama) lagi-lagi muncul pada varian-varian yang sama .
Kekuasaan status quo dan harta yang dihimpun dan dijaga ketat, yang dikira dapat melestarikan kesenangan hari tua, ternyata hanya ilusi yang semu dan fana belaka. Itulah yang membuat keluarga besar Harrison menyadari kekhilafan masa lalunya yang pernah mempekerjakan Laszlo secara tidak layak.
Keluarga besar yang kaya-raya itu akhirnya harus mendermakan harta kekayaannya untuk amal-amal sosial, guna menghormati mendiang ibunya dan leluhurnya. Bagi mereka, justru nilai-nilai kebaikan yang dilakukan tanpa pamrih (keikhlasan), itulah yang menghasilkan kebahagiaan dan kasih sayang terhadap sesama, yang tidak terdapat pada kekuasaan dan kekayaan sebanyak apapun.
Pada prinsipnya, film The Brutalist mengandung pesan-pesan religiusitas yang mudah ditangkap dan dicerna. Ia memberikan peringatan akan pentingnya narasi-narasi yang menyejukkan. Bukan narasi mafsadah yang menimbulkan balas dendam dan angkara murka terhadap nilai-nilai kemanusiaan. (*)
Penulis adalah Pendidik dan pegiat organisasi Gerakan Membangun Nurani Bangsa








