Konsistensi Mengalahkan Motivasi 

oleh -1554 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Indah Noviariesta

Ledakan semangat atau motivasi yang disusupkan kepada para penulis muda, seringkali bersifat instan dan sesaat. Akan tetapi, konsistensi dan ketekunan mendalami sesuatu, itulah yang harus diutamakan untuk menghadirkan suatu pandangan yang membumi. Dari sisi tertentu, motivasi memang menggairahkan, tetapi ia cenderung memicu emosi yang bersifat fluktuatif dan temporer, sehingga oleh perjalanan waktu akan lenyap dan padam.

Motivasi seringkali memicu optimisme seorang penulis muda, hingga terobsesi untuk mengubah dunia hanya dalam waktu satu malam. Selain itu, motivasi kadang muncul ketika suasana hati sedang mood, tetapi akan mudah sirna ketika seorang penulis sedang merasa kelelahan, kecapekan, atau dalam menghadapi cobaan dan ujian hidup. Karena itu, ingin saya tegaskan bahwa konsistensi dan ketekunan adalah kekuatan yang sesungguhnya, ketimbang semangat sesaat yang tak kebal menghadapi rintangan.

Suatu hari, seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah yang terkait dengan amal perbuatan yang baik. “Lakukan kebaikan, walaupun sederhana namun konsisten dan terus-menerus,” demikian jawab Rasulullah.

Di sini, jelas bahwa Rasulullah menegaskan pentingnya rutinitas dan kebiasaan sebagai landasan untuk mencapai kemajuan nyata. Para penulis sukses bukanlah mereka yang selalu termotivasi, melainkan mereka yang tetap ulet dan tekun menulis dan berkarya, meski sedang tak bersemangat. Mereka tidak menghambur-hamburkan waktu dalam menyelesaikan tugas, serta tak menjadikan perasaan sesaat sebagai penentu tindakan.

Pada prinsipnya, semangat dan tabiat seorang penulis serba terbatas. Siapapun tak mungkin mengendalikan emosi, cuaca, atau keadaan di luar dirinya. Tetapi, seorang penulis yang baik sanggup mengendalikan kebiasaan sehari-hari, disiplin, dan paham cara menanggapi masalah dan keadaan. Karena itu, dibutuhkan sikap konsisten sebagai upaya pengendalian diri.

Memang, sepintas ia tak terlihat keren dan spektakuler, tetapi dengan konsistensi, hidup seorang penulis akan lebih efektif. Lihatlah orang-orang besar dan sukses semisal Dostoyevski, Anton Chekov, Naguib Mahfouz, Abdulrazak Gurnah atau Pramoedya Ananta Toer, mereka senantiasa melatih dirinya agar eksis dan melangkah maju, meski di tengah kejenuhan, kebosanan bahkan ketidakpastian. Mereka paham bahwa kunci kesuksesan, bukan terletak pada sekali tampak wah dan hebat, tetapi tampil dengan baik setiap hari. Mereka paham bahwa akumulasi tindakan kecil akan menghasilkan sesuatu yang besar, karenanya rela mengulangi hal-hal kecil dan sederhana dengan penuh ketekunan dan kesabaran.

Konsistensi juga akan memperkuat identitas dan membentuk karakter yang kuat. Nilai kebanggaan seorang penulis bukan terletak pada pencapaian besar, tetapi pada kebiasaan baik yang dipertahankan dalam jangka panjang. Pada prinsipnya, kita bukanlah apa yang kita lakukan sesekali atau sekonyong-konyong, tetapi apa yang kita lakukan secara tekun dan konsisten setiap hari.

Seorang penulis yang baik, senantiasa meyakini bahwa hakikat perubahan sejati dibangun secara perlahan dan bertahap, dan tidak datang dari motivasi sesaat. Perubahan akan lahir dari niat kuat agar tetap berada di jalur, apapun risiko yang akan dihadapi. Ketekunan seorang penulis identik dengan dedikasi dan komitmennya terhadap proses.

Ketika seorang penulis terus-menerus melakukan tindakan yang sejalan dengan nilai dan tujuannya, sebenarnya ia sedang membangun karakter yang lebih penting ketimbang hanya citra atau pencapaian luar. Dan karakter kokoh akan terbangun melalui kebiasaan yang dijalani secara sadar dan konsisten setiap hari.

Pada prinsipnya, setiap penulis mengakui adanya hari-hari yang terasa berat dan penat, ide dan gagasan saling tumpeng-tindih, dan semangat berada di titik nol. Pada momentum itu, dibutuhkan jangkar di tengah badai dan prahara. Di situlah konsistensi dan kesabaran diperlukan sebagai pemandu jalan, agar tetap setia di tengah semangat yang memudar.

Kadang seorang pakar motivator di kelas-kelas sastra memberi semangat menggebu-gebu. Padahal, faktanya, hidup tak selamanya ideal seperti apa yang ia bayangkan. Untuk itu, biarlah semangat memudar pada waktu dan tempo tertentu, tetapi seorang penulis yang baik senantiasa menjalankan apa yang telah menjadi komitmen dalam batinnya.

Hidup yang baik bagi seorang penulis, adalah hidup yang dijalani secara sadar, dengan keberanian dan ketekunan, bukan dengan menuruti nafsu sesaat atau perasaan hati yang berubah-ubah. Karena itu, konsistensi mencerminkan prinsip, bahwa seorang penulis harus bertindak benar, bukan karena mengharap pujian dan sanjungan penggemar, tetapi karena apa-apa yang dilakukannya adalah sesuatu yang baik dan mendatangkan kemaslahatan.

Panulis seperti itu, tak akan menunggu-nunggu suasana hati untuk mulai berkarya dan berkreasi, tetapi terus berkomitmen pada proses, bukan pada hasil instan dan sesaat. Untuk itu, di tengah dunia yang penuh gebyar sensasi, motivasi dan semangat palsu, ketekunan dan konsistensi adalah nilai langka yang justru paling dibutuhkan. Ketahuilah, bahwa kekuatan seorang penulis bukan dari semnagat yang menggebu-gebu dalam waktu sekejap, tetapi dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara tekun, terus-menerus, dan pantang menyerah.

Terkait dengan itu, penulis novel Pikiran Orang Indonesia, Hafis Azhari menandaskan, bahwa jika seorang penulis ingin mencapai tujuan dengan baik, maka jangan bergantung pada motivasi-motivasi musiman yang bersifat sesaat. Tetapi, bergantunglah pada komitmen harian secara istiqomah, hati yang lapang, meskipun dilakukan dengan hening, senyap, tanpa memerlukan sorotan publik. **

Penulis adalah Pegiat organisasi Gerakan Membangun Nurani Bangsa, menulis esai dan prosa di berbagai media cetak dan online

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.