Keutamaan “Jalan Tengah” Menurut Aristoteles di Zaman Ini

oleh -1096 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Antonius Guntramus Plewang

Selayang Pandang

Siapa yang tak mengenal seorang filsuf bersejarah bernama Aristotels? Dia adalah sosok pemikir di zaman Yunani Kuno yang berkontribusi dalam peradaban pemikiran filsafat barat. Aristoteles lahir di Stageira pada tahun 384 SM, sebuah kota di Tharke, Yunani Utara (Bertens, 2018). Ayahnya bernama Nikomakhus yang berprofesi sebagai dokter pribadi Amynitas II, raja Makedonia. Ibunya bernama Phaestis, seorang wanita kaya dari keluarga yang berasal dari Khalsis, Euboia. Pada tahun 367 SM ketika Aristoteles berusia 18 tahun, ia pindah ke Athena. Di sana ia bergabung dalam Akademia Plato. Akademia Plato merupakan kelompok intelektual yang berada di bawah bimbingan Plato.

Dalam akademia, dia menerbitkan banyak karya sekaligus menjadi pengajar untuk anggota-anggota yang lebih muda. Salah satu di antara karya-karyanya, yang sangat terkenal ialah Etika. Ada tiga kelompok karangan tentang Etika antara lain: Ethica Nicomachea, Magna Moralia, Ethica Eudaimonia.

Di sini, penulis akan lebih menyoroti karangan Aristoteles yang berjudul Ethica Nicomachea.. Dari buku tersebut, penulis mendalami tema mengenai keutamaan etis secara khusus “Doktrin Jalan Tengah”. Tulisan ini hendak mendalami etika keutamaan “Jalan Tengah” menurut Aristoteles dalam konteks implementasinya sekarang ini.

Gagasan Aristoteles Mengenai Keutamaan Etis (Doktrin Jalan Tengah)

Doktrin “jalan tengah” merupakan salah satu model keutamaan Aristoteles yang populer. Dalam bukunya Ethica Nicomachean, “jalan tengah” dapat diartikan sebagai “keutamaan yang berada di posisi tengah (mean) antara sikap berlebihan (excess) dan kurang (deficiency)” (David Ross, 2009). Aristoteles menekankan bahwa keutamaan tidak akan terajadi pada dimensi ekstrimitas tetapi dalam “jalan tengah” (Gufron, 2016).

Sejatinya, Aristoteles ingin menggambarkan sesuatu yang berlebihan dan yang kurang itu dengan sebutan vice atau “sikap buruk”.
Berikut satu contoh yang bisa digunakan untuk memahami keutamaan jalan tengah. Ketika saya sedang menceritakan tentang pengalaman hidup pribadi, saya harus menceritakan seluruh pengalaman itu secara apa adanya (truth atau sikap jujur). Saya tidak bisa dengan sengaja menceritakan kelemahan saya untuk menarik simpatik (self-deprecation atau sikap merendahkan diri). Pada saat yang sama, saya juga tidak menceritakan pengalaman itu secara berlebihan untuk memamerkan diri (boastfullnes atau sikap sombong).

Dalam konteks ini, kejujuran menjadi “jalan tengah” yang bisa saya pakai karena itu menyangkut “cara yang tepat” (right manner). Sementara sikap merendahkan diri dan kesombongan tergolong dalam sikap yang buruk. Sikap perendahan diri hanya mengurai segala kelemahan saya yang pada kenyataannya tidak seperti itu. Begitu pun dengan kesombongan, sikap ini buruk karena saya menambahkan atau melebih-lebihkan cerita yang sebenarnya tidak ada. Oleh karena itu, Aristoteles mengatakan bahwa keutamaan “jalan tengah” berorientasi pada; “saat yang tepat” (right time), “kesempatan yang tepat” (right occasion), “orang yang tepat” (right people), “tujuan yang tepat” (right purpose), dan “cara yang tepat” (right manner).

Pada titik ini, keutamaan jalan tengah bisa dipahami sebagai keseimbangan sikap diri (equilibrium) (Gottlieb, 2009). Keseimbangan yang dimaksud dapat dianalogikan dengan sebuah timbangan yang sama muatannya. Analogi ini sangat efektif jika diterapkan dalam keutamaan “jalan tengah”. Seseorang yang berkeutamaan harus selalu berada pada posisi yang seimbang. Setiap tindakan yang dilakukan perlu mempertimbangkan cara, tujuan, saat, kesempatan, dan orang yang tepat.

Selain keseimbangan sikap diri, keutamaan “jalan tengah” juga merupakan sesuatu yang relatif bagi kita atau tergantung pada setiap orang. Aristoteles menegaskan bahwa keutamaan jalan tengah itu relatif-subjektif dan tidak bisa objektif. Sebab, keutamaan “jalan tengah” selalu memperhitungkan unsur-unsur ketepatan seperti yang telah disebutkan. Lebih dari itu, sangat mustahil bagi seseorang mengukur pertengahan antara dua kutub ekstrem dengan metode yang matematis.

“Jalan Tengah”: Model Keutamaan Etis Zaman Ini

Di tengah dunia yang penuh dengan ketidakpastian, ambiguitas, kompleksitas, dan perubahan yang serba cepat, keutamaan “jalan tengah” menjadi solusi untuk membuat hidup manusia menjadi seimbang. Keutamaan “jalan tengah” bisa diterapkan dalam berbagai sektor kehidupan seperti Pendidikan, sosial-ekonomi, politik, dan kebudayaan. Sebagai misal dalam bidang pendidikan, siswa-siswi membutuhkan kedisiplinan sebagai “jalan tengah”.

Kedisiplinan akan berada di titik tengah antara sikap amburadul dan peraturan yang terlalu keras. Di antara dua kutub ekstrem yang buruk, kita mesti memilih “jalan tengah” yang tepat untuk mencapai kebahagiaan (eudaimonia) (Yulanda, 2020).

Aristoteles mengakui bahwa “jalan tengah” menjadi kriteria mencapai kebahagiaan. Apabila “jalan tengah” merupakan kriteria untuk mencapai kebahagiaan, maka ia harus menjadi keutamaan, karena apapun yang menyangkut kebahagiaan harus menjadi keutamaan (Ayemere, 2019). Keutamaan itu dapat termanifestasi ketika seseorang menempatkannya sebagai habitus diri. Kebiasaan yang baik untuk mengeliminasi tindakan yang buruk dan memilih jalan tengah yang tepat, akan menuntun seseorang mencapai kebahagiaan.

Selain itu, keutamaan “jalan tengah” tidak selalu bisa diterapkan pada semua tindakan. Bagi Aristoteles, beberapa tindakan seperti pembunuhan, kedengkian, pencurian, atau perzinahan merupakan tindakan yang berimplikasi pada kejahatan (David Ross, 2009). Dengan kata lain, ada tindakan tertentu yang secara intrinsik jahat dan kita tidak dapat menemukan jalan tengahnya. Lebih dari itu, tindakan-tindakan tersebut tidak bisa dibenarkan karena letaknya jauh di luar unsur-unsur ketepatan. Istilah pembunuhan hanya dipakai dalam konteks membunuh dalam situasi yang salah dan waktu yang salah.

Epilog

Bagaimanapun juga, karya Aristoteles mengenai keutamaan jalan tengah yang tertuang dalam bukunya Ethica Nicomachea masih amat relevan dewasa ini. Namun, keutamaan ini bukanlah sebuah konsep yang berhenti pada kajian teoretis, melainkan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Semua orang yang terpelajar belum tentu dapat mempraktikkan keutamaan jalan tengah dalam hidupnya. Akan tetapi, orang yang bijaksana mampu menentukan jalan tengah di antara dua kutub (kelebihan dan kekurangan) dengan mempertimbangkan keadaan konkret.

Penulis adalah Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.