Oleh: Pieter W.M. Naikofi
Di era modern ini, dapat kita saksikan bersama suatu fenomena sosial baru. Di berbagai ruang publik seperti sekolah, kampus, rumah ibadah, hingga ruang keluarga, pemandangan anak-anak dan remaja yang fokus menatap layar handphone (HP) kini menjadi hal yang lumrah. Anak-anak generasi Z dan generasi Alpha kini hidup dalam keseharian yang nyaris tak terpisahkan dari HP, baik untuk belajar, berkomunikasi, bermain game, maupun mengakses media sosial.
Di Nusa Tenggara Timur (NTT), fenomena ini tampak begitu jelas ketika anak-anak lebih akrab dengan layar daripada bermain bersama teman-teman sebaya lingkungan sekitarnya. Interaksi tatap muka perlahan mulai digantikan dengan interaksi virtual. Ketergantungan ini sering kali dipahami sebagai konsekuensi wajar kemajuan teknologi oleh para orang tua. Padahal jika kita mencermati lebih jauh dan mendalam, ini merupakan fenomena sosial yang membawa dampak serius bagi pengembangan anak-anak dan remaja.
Secara umum, Generasi Z merujuk pada mereka yang lahir sekitar akhir 1997-an hingga awal 2010-an, sementara generasi Alpha adalah anak-anak yang lahir sejak 2010-2024. Kedua generasi ini mempunyai perbedaan dalam hal tahun kelahiran dan usia saat ini. Meski berbeda usia, kedua generasi ini memiliki kesamaan, yakni tumbuh sebagai digital native. Sejak usia dini, mereka sudah belajar berinteraksi dengan internet, media sosial, dan perangkat pintar. Meskipun mereka masih anak-anak dan remaja, kemampuan mereka dalam mengoperasikan media digital bahkan sudah melebihi orang tua mereka. Bagi generasi Z dan Alpha, HP hadir bukan sebagai teknologi baru yang harus dipelajari, tetapi sebagai bagian alami dari kehidupan sehari-hari. Secara tidak sadar HP mulai membentuk pola pikir, kebiasaan dan pola interaksi sosial mereka.
Revolusi digital yang begitu pesat dalam dua dekade terakhir ini, menjadikan generasi Z dan Alpha hidup dalam konteks masyarakat digital. Masyarakat digital yang dimaksud di sini yakni masyarakat yang ruang sosialnya dijembatani oleh teknologi, algoritma, dan platform digital. Pola interaksi manusia mulai bertransformasi secara nyata. Interaksi manusia tidak lagi sepenuhnya terjadi secara tatap muka, tetapi bergeser ke ruang virtual yang dikendalikan oleh sistem teknologi. Dalam kondisi seperti ini, HP berubah peran menjadi penunjuk identitas sosial dan perpanjangan tubuh. Melalui ruang virtual, manusia berusaha berinteraksi dengan sesama, membangun citra diri, dan mencari pengakuan sosial.
Dari sudut pandang filsafat sosial, fenomena ini dapat dianalisis melalui konsep Herbert Marcuse, seorang filsuf Jerman-Amerika, yang memperkenalkan konsep “Manusia Satu Dimensi”. Dalam karyanya yang berjudul One-Dimensional Man (1964), Marcuse mengkritik manusia modern yang tidak mampu untuk berpikir kritis dan mendalam.
Ketidakmampuan ini disebabkan karena manusia modern sudah terlalu larut ke dalam sistem teknologi dan konsumsi yang bersifat candu. Akibatnya muncul kecenderungan untuk menerima realitas tanpa mempertanyakannya lagi. Dalam konteks masyarakat digital saat ini, dominasi teknologi membuat manusia selalu hidup nyaman dalam suatu sistem digital yang sudah diatur tanpa mereka sadari. Fenomena ini membuat manusia kehilangan eksistensinya sebagai pribadi yang bebas.
Secara umum, Generasi Z dan Alpha tidak menyadari realitas bahwa HP mempunyai dampak negatif yang nyata dalam kehidupan. HP dalam praktiknya bekerja sebagai alat dominasi yang halus melalui algoritma media sosial (TikTok, Instagram, Facebook, dll) dan iklan digital. Generasi Z dan Alpha tanpa sadar terus disuguhi arus konten yang seolah tak ada habisnya. Scrolling kini menjadi suatu kebiasaan yang dilakukan secara otomatis, tanpa kesadaran kritis. Mereka dapat menggunakan waktu berjam-jam hanya untuk scrolling. Keadaan semacam ini melahirkan apa yang disebut oleh Marcuse sebagai false needs atau kesadaran palsu, yakni kebutuhan dan keinginan yang dibentuk oleh sistem digital, bukan lahir dari kebutuhan nyata dalam kehidupan.
Saat ini, ketergantungan pada HP menimbulkan dampak yang sangat signifikan pada pola pikir dan cara berelasi generasi Z dan Alpha. Kemampuan mereka untuk berpikir kritis cenderung melemah karena mereka sudah terbiasa mengonsumsi informasi yang tidak berbobot dari konten-konten media sosial. Waktu mereka di luar rumah untuk bersama orang lain sudah menurun drastis. Mereka lebih senang berhadapan dengan layar HP di dalam rumah. Identitas dalam kehidupan sosial pun mulai ditentukan dari seberapa banyak jumlah follower, likes, dan views. Realitas ini membuktikan bahwa Generasi Z dan Alpha saat ini sedang terjebak dalam pola hidup manusia satu dimensi; manusia yang tidak mampu berpikir kritis sehingga selalu dikendalikan oleh logika platform dan arus tren.
Selain membawa dampak negatif, perkembangan teknologi juga membawa dampak positif. Dengan memanfaatkan perkembangan teknologi, generasi muda mendapatkan kebebasan untuk mengakses dunia pendidikan, ruang kreativitas, dan partisipasi sosial. Saat ini, banyak generasi muda mengeksploitasi teknologi untuk belajar mandiri di mana saja dan menyampaikan gagasan. Kendati demikian, generasi muda membutuhkan kesadaran kritis dalam menggunakan teknologi. Tanpa kesadaran kritis, teknologi justru akan memperkokoh dominasi kapitalisme digital yang menjadikan perhatian manusia sebagai suatu komoditas baru. Inilah problematika masyarakat digital: teknologi menyediakan kebebasan, namun juga menciptakan bentuk penjajahan baru yang tidak kasatmata.
Dalam menghadapi realitas ini, peran aktif dari orang tua, masyarakat, dan dunia pendidikan sangat dituntut. Di rumah, orang tua harus menjadi yang pertama mengajarkan bagaimana anak-anak harus menggunakan teknologi dengan baik dan benar. Di dalam masyarakat, kaum akademisi harus mengajarkan kepada generasi muda bagaimana etika penggunaan teknologi. Dan dalam dunia pendidikan, para pengajar harus lebih menekankan literasi kritis bagi para pelajar. Orang tua, masyarakat, dan sekolah-sekolah harus mampu menciptakan suatu ruang sosial yang bersifat non-digital agar generasi muda dapat membangun relasi nyata, empati, relasi sosial yang utuh. Upaya ini harus disadari sebagai suatu usaha untuk membentuk generasi muda (generasi Z dan Alpha) yang kuat dan berdaya guna.
Bertolak dari semua ini, muncul pertanyaan refleksi: apakah generasi Z dan Alpha masih dapat tumbuh sebagai manusia multidimensi? Ataukah justru akan terjebak sebagai manusia satu dimensi dalam masyarakat digital? Teknologi yang terus berkembang saat ini seharusnya menjadi alat penunjang kehidupan dan kebebasan manusia. Teknologi diciptakan untuk membantu manusia, bukan untuk menggantikan atau bahkan menguasai manusia. Oleh karena itu, kesadaran kritis dalam menggunakan teknologi menjadi kunci agar kemajuan peradaban manusia bukan malah sebaliknya.
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang









