Indonesia kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya. Try Sutrisno telah berpulang, meninggalkan jejak panjang dalam sejarah militer dan politik negeri ini. Kepergiannya bukan sekadar duka personal bagi keluarga dan kolega, melainkan momen refleksi bagi bangsa yang pernah ia layani dengan disiplin dan keyakinan.
Try Sutrisno adalah anak zamannya. Ia tumbuh dalam suasana revolusi dan ancaman disintegrasi, ketika republik masih rapuh dan stabilitas menjadi kebutuhan mendesak. Karier militernya dibangun di atas doktrin pengabdian total kepada negara. Dalam struktur yang keras dan hierarkis, ia dikenal sebagai prajurit yang tertib, tegas, dan loyal. Tidak banyak retorika, tidak gemar pencitraan—ia lebih memilih bekerja dalam diam.
Ketika mendampingi Soeharto sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia periode 1993–1998, Indonesia berada di persimpangan. Pembangunan ekonomi menunjukkan capaian yang signifikan, tetapi ruang kebebasan politik kian menyempit. Sejarah mencatat masa itu dengan tinta yang tidak tunggal: ada kemajuan, ada pula koreksi tajam melalui Reformasi 1998.
Dalam konteks tersebut, Try Sutrisno menjadi bagian dari satu generasi militer yang percaya bahwa stabilitas adalah fondasi utama pembangunan. Ia berdiri dalam sistem yang kemudian direvisi oleh arus reformasi. Tetapi menilai sosoknya hanya dari kerangka perubahan politik semata akan mereduksi kompleksitas sejarah yang ia jalani.
Secara personal, ia dikenal bersahaja. Banyak yang mengenangnya sebagai figur yang tidak meledak-ledak, tidak provokatif, dan relatif bersih dari kontroversi pribadi. Di tengah pusaran kekuasaan yang sering memabukkan, ia tetap tampil sederhana. Integritas personal inilah yang kerap disebut oleh mereka yang pernah bekerja bersamanya.
Kepergian Try Sutrisno mengingatkan kita bahwa bangsa ini dibangun oleh beragam generasi dengan pengalaman historis yang berbeda. Generasinya dibentuk oleh trauma konflik ideologis dan ancaman perpecahan nasional. Bagi mereka, persatuan dan ketertiban adalah harga mati. Generasi sesudahnya dibentuk oleh pengalaman pembatasan kebebasan, sehingga demokrasi dan hak asasi menjadi nilai utama. Kedua pengalaman itu adalah bagian dari perjalanan Indonesia.
Try Sutrisno bukan tanpa kritik, karena tidak ada pemimpin yang bebas dari konteks dan keterbatasan zamannya. Namun ia juga bukan figur yang layak disederhanakan dalam dikotomi hitam-putih. Ia adalah prajurit yang setia pada sistem yang diyakininya sebagai jalan terbaik bagi republik.
Kini, ketika ia telah berpulang, yang tersisa adalah pelajaran. Bahwa stabilitas tanpa kontrol dapat menyimpang, tetapi kebebasan tanpa disiplin juga dapat rapuh. Bahwa loyalitas pada negara adalah kebajikan, selama negara itu terus diperjuangkan agar adil bagi seluruh rakyatnya. Dan bahwa sejarah harus dibaca dengan kepala dingin serta hati yang lapang.
Selamat jalan, Jenderal. Republik ini mungkin telah berubah dari masa ketika engkau berdiri di pusat kekuasaan. Namun pengabdianmu tetap tercatat sebagai bagian dari mosaik panjang perjalanan bangsa. Dalam doa dan ingatan, namamu akan selalu terpatri sebagai salah satu saksi dan pelaku sejarah Indonesia.
Tim Redaksi







