Kesadaran Kritis Para Penulis

oleh -1490 Dilihat
Writer
banner 468x60

Oleh: Muhamad Pauji

Karya-karya Pramoedya Ananta Toer tak terlepas dari cermin perjuangannya membangun kesadaran dan keberpihakan kepada kaum tertindas dan termarjinalkan. Ia telah menyalakan api kesadaran dan kebangkitan imajinasi rakyat, bukan sekadar sastra yang bertaburan petuah-petuah seakan mengisi ember kosong.

Secara tidak langsung, ia pun memperkenalkan konsep kesadaran kritis (critical consciousness) yang hingga saat ini tetap relevan, terutama di tengah kompleksitas persoalan sosial yang melingkupi masyarakat global. Ia mengajarkan kita agar memahami secara mendalam kondisi sosial, politik, ekonomi, dan budaya yang membentuk kehidupan manusia Indonesia, serta mengembangkan keberanian untuk mengubah kondisi tersebut. Berbeda dengan karya sastra seniman yang seumumnya bersikap netral, bahkan cenderung bersifat pasif. Tetapi karya-karya Pram, selain membangkitkan kesadaran kritis juga mendorong tindakan aktif.

Pram juga membangkitkan kesadaran kolektif, bahwa problem kemiskinan dan ketimpangan sosial bukanlah nasib yang harus diterima begitu saja, tetapi buah dari sistem yang harus dirombak dan diubah. Untuk itu, sastra baginya adalah alat untuk memahami dunia dan membentuknya kembali agar lebih adil, manusiawi, dan inklusif.

Tentu konsep seni untuk kebebasan berekspresi dianggap jauh panggang dari api. Sebab, dunia seni dan sastra harus juga mendidik pembaca dan penikmat karya sastra, yang tentu harus menunjukkan pemihakannya, bukan menjadi bagian dari struktur yang menindas. Karena itu, antara pencipta karya sastra dan pembaca harus mampu berdialog, dan sama-sama merefleksikan dirinya. Bukan hanya menginduksi pengetahuan ke dalam pikiran pembaca yang dianggap masih kosong. Melalui refleksi ini, kesadaran kritis akan tumbuh dan mendorong tindakan transformatif. 

Pendidikan sastra

Menurut Hafis Azhari, tantangan pendidikan sastra di Indonesia bukan hanya soal infrastruktur dan akses yang terbatas, tetapi juga soal metode pembelajaran, serta pendidik sastra yang mumpuni. Banyak siswa diajarkan untuk menghafal jawaban, siapakah Duta Baca Indonesia? Program apakah yang sedang dijalankan? Setelah itu, kurikulum sastra dan bahasa lantas terfokus pada ujian, bukan pada pemahaman karya sastra itu sendiri.

Akibatnya, ketika saya mengulas novel Pikiran Orang Indonesia di jurusan sastra Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), boleh dibilang hanya beberapa gelintir yang mampu membahas karya tersebut, selebihnya hanya tahu bentuk covernya, serta siapakah pengarangnya.

Persoalan sastra, tidak cukup hanya mengandalkan nilai akademik yang bagus, tetapi harus menumbuhkan pola pikir yang kritis, bahkan melek budaya dan politis. Inilah alasan mengapa kesadaran kritis menjadi sangat penting. Ketika pembaca sastra mampu membahas soal “mengapa” dan “bagaimana”, mereka akan tumbuh menjadi individu yang mampu melihat hubungan antara karya sastra dan kehidupan nyata. Mereka tidak akan puas dengan teori kesusastraan, tetapi akan terdorong untuk bertanya, berdiskusi, dan bertindak.

Karya-karya Pramoedya, khususnya Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa, bukan lahir dari kontemplasi kosong, tetapi ia mengandung kekuatan imajinasi, data yang valid, bahkan sanggup melahirkan individu yang tidak hanya memahami masalah, tetapi juga berani dan mampu mengambil langkah-langkah untuk mencari solusinya. Sebagaimana novel “Jenderal Tua dan Kucing Belang”, ia juga membuka ruang-ruang dialog, serta menghargai pengalaman hidup para tokohnya. Ia tidak memaksakan kebenaran, tetapi bersama-sama mencari makna tentang hidup yang bermaslahat.

Kesadaran kritis yang ditimbulkan dari mendalami karya sastra, dapat memosisikan pembaca selaku subyek dalam sejarahnya. Pram maupun Hafis tidak mendorong dogma baru, tetapi membuka jalan bagi dialog, refleksi, dan tindakan nyata. Dalam dunia yang semakin kompleks dan terpolarisasi, kesadaran kritis membantu kita menjadi lebih peka dan humanis, mampu memilah informasi, serta menghindari berbagai manipulasi. Kesadaran kritis juga mendorong kita memahami berbagai perspektif, bahkan sanggup mengubah sudut pandang baru. Ia memungkinkan manusia menyadari realitas sosialnya. Sebab, dengan kesadaran itu akan lahir keberanian, dan dengan keberanian, akan lahir tindakan nyata.

Untuk itu, jika kita sepakat bahwa karya sastra (seni) tidak boleh netral, maka setiap penulis punya tanggung jawab untuk secara jujur memilih: apakah akan menjadi bagian dari proses pembebasan, ataukah ikut-serta melanggengkan ketimpangan dan ketidakadilan? 

Ruang hampa

Dunia sastra kita, terlebih di era Orde Baru, seakan telah berlangsung dalam ruang hampa, seakan dijadikan ajang sebagai transfer ilmu dari penulis kepada pihak pembaca. Padahal, setiap karya sastra, terlebih dalam iklim yang tidak adil, harus membawa konsekuensi sosial dan politik. Jika karya sastra hanya berfungsi layaknya guru SD yang mengajar bahwa murid harus patuh tanpa bertanya, bahwa sistem yang ada tidak boleh dikritik, bahwa sukses hanya milik segelintir orang, maka karya sastra seperti itu (disadari atau tidak) hanya berperan sebagai alat penindasan. Tetapi, jika ia mampu mendorong pembaca agar berpikir kritis, memahami realitas sosialnya, dan mengambil peran aktif dalam perubahan, maka karya sastra tersebut sedang membebaskan dan memerdekakan jiwa.

Bolehlah suatu karya sastra membicarakan fakta, rumus-rumus, atau bahkan syariat agama, tetapi juga ia harus mampu mempersoalkan, mengapa banyak paradoks dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita? Bahkan, mengapa “aku” yang terlahir pasca 1965 menjadi tumpul secara imajinatif, bahkan buta (dibutakan?) dari sejarah bangsanya sendiri? Siapa yang diuntungkan dari segala ketimpangan dan penggelapan sejarah ini? Lalu, apa peran saya dalam menciptakan perubahan ke depan?

Jadi, penulis atau narator harus berlaku sebagai subjek aktif, bukan objek pasif. Ia bukan hanya penerima dan penyampai informasi, tetapi juga pencipta makna. Ada korelasi antara penulis dan pembaca hingga terjadi keselarasan untuk belajar bersama, saling bertanya, dan bertumbuh. Untuk itu, pembaca sanggup mencermati dan menerima dunia apa adanya, bahkan juga memiliki ruang untuk menyoal dan mempertanyakan sistem yang berlaku tidak adil dan sewenang-wenang.

Jika karya sastra ikut-ikutan meniru gaya film Pengkhianatan G30S/PKI yang disponsori Orde Baru, yang merasa berhak mengklaim sebagai satu-satunya sumber kebenaran, sementara penikmat seni diposisikan sebagai penurut, maka apa bedanya dengan elit-elit penguasa yang takut akan kebangkitan kesadaran rakyat.

Duta Baca Indonesia di Banten, kini semakin menyemarakkan konsep tentang gerakan pendidikan sastra, sekolah komunitas, hingga kelas-kelas literasi, yang sejatinya pendidikan sastra harus diarahkan untuk pembebasan. Terkait dengan karya sastra yang dibahas, anak-anak didik perlu diajak mengenali isu sosial, mengembangkan empati, serta merancang solusi nyata. Karena bagaimana pun, karya sastra tak bakal mengubah dunia, tetapi para pembaca buku sastra-lah yang akan melakukan perubahan itu.

Penulis atau sastrawan yang membebaskan bukan berarti seniman yang menghasut atau memaksakan ideologi tertentu. Ia harus menjadi pendidik yang membuka ruang dialog, mengajukan pertanyaan reflektif, serta menanamkan keberanian untuk berpikir mandiri.

Untuk itu, kepada para mahasiswa La Tansa dan UIN Jakarta, beberapa waktu lalu, Hafis Azhari menegaskan, bahwa mencipta karya sastra di negeri korup yang masih dilumuri kesewenangan, perlu diarahkan kepada tindakan politis agar mengajak pembaca kepada kesadaran kritis dan reflektif. Jadi, bukan semata-mata lulus menjadi sarjana sastra sambil mengejar nilai tinggi (cum laude). 

Tetapi, jika target pendidikan sastra sebatas kurikulum, lulus ujian, metode belajar-mengajar, dan mencecoki siswa dengan seperangkat informasi dan teori kesusastraan, tanpa disadari bangsa ini sedang membuat pilihan: apakah dunia sastra kita untuk membebaskan dan memerdekakan, ataukah tetap masih dipakai untuk menindas? (*)

Penulis adalah Penikmat dan kritikus sastra milenial Indonesia, pegiat organisasi OI (Orang Indonesia), menulis artikel dan prosa di berbagai media lokal dan nasional, diantaranya kompas.id, ruangsastra.com, espos.id, nusantaranews.co, radarntt.net, bantenpos.co, solopos.com, tangselpos dan lain-lain.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.