Keluarga: Ruang Perlindungan, Bukan Penderitaan

oleh -723 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Polykarp Ulin Agan

Keluarga bukan didirikan dengan sebuah tujuan fungsional. Ia didirikan sebagai sebuah “sekolah cinta personal“. Sayangnya, keluarga sering menjadi sumber keterasingnan emosional karena banyak faktor. Viktorie Hanišová tidak sedang meromantisasi makna sebuah keluarga ketika ia menulis novelnya “Sonntagnachmittag“ (2025). Ia melukiskan fenomen yang lumrah di seantero dunia, bagaimana rumitnya sebuah hubungan antara orangtua dan anak dalam keluarga yang tidak dijiwai oleh sebuah “sekolah cinta personal“. Hanišová menyentuh ziarah batin kita untuk selalu berusaha memaknai keluarga sebagai institusi yang seharusnya melindungi, bukan menjadi medan pertempuran emosional.

Alienasi Keluarga dan Dampaknya pada Identitas

Dalam Sonntagnachmittag (Minggu Sore) Hanišová melukiskan hubungan antara ibu dan anak perempuannya dalam sebuah alur drama yang menegangkan. Di sana sini ada aroma manipulatif, ketiadaan empati, serta suara-suara kritis yang merongrong harga diri sang putri. Rumah pun dialami sebagai sebuah medan pertempuran emosional, bukan rahim yang teduh. Situasi rumah ini memporak-porandakan identitas anak sebagai akibat dari alienasi emosional. Bagaimana mungkin tonggak kepercayaan dalam rumah bisa ditegakkan, sementara rasa asing dalam rumah sendiri kian hari kian terasa?

Di samping alienasi emosional, tanpa disadari benih-benih kekerasan psikologis pun pelan-pelan bertumbuh dalam situasi keluarga seperti itu. Tidak selamanya kekerasan seperti ini kasat mata. Sering ia hadir dalam diam yang menusuk hati karena sindiran atau kritik. Bagi sang ibu, ia melihat situasi ini sebagai sebuah cara untuk membangun monumen dominasinya dalam rumah. Tanpa ia sadari, ternyata dominasi ini berbuah merosotnya kesehatan mental anak yang semakin memperlebar jarak emosionalnya dengan keluarga.

Sudah jatuh tertindih tangga pula! Dominasi sang ibu ini tidak dibarengi dengan kehadiran figur seorang ayah dalam keluarga. Dua wanita yang saling diam mempertaruhkan nasib dan masa depan sebuah keluarga. Kesunyian berbahaya menjadi ciri khasnya. Kalaupun satu pihak ingin memecahkan kebekuan kesunyian itu, itu pun hanya terbatas pada small talk, komunikasi yang dangkal.

Trauma akibat ketegangan keluarga ini pun tidak hilang seiring waktu. Alienasi yang dimulai sejak kecil berkembang hingga dewasa, membentuk kesulitan dalam membangun hubungan sehat dan menumbuhkan perasaan rendah diri. Alienasi ini menjadi bagian dari identitas, terus berlanjut dalam kehidupan sosial.

Budaya Patriarki dan Alienasi Anak/Remaja Perempuan dalam Keluarga di NTT

Berbeda dengan alur ceritra Viktorie Hanišová dalam Sonntagnachmittag, kehampaan dan stagnasi dalam relasi keluarga di Nusa Tenggara Timur (NTT) justru ditempa oleh budaya patriarki dan penekanan norma-norma sosial yang lebih banyak menyudutkan anak-anak dan remaja perempuan. Kasus kekerasan domestik dan ketidakadilan gender sangat sering muncul dari keluarga yang sudah selalu ditempa oleh budaya patriarki ini. Parahnya, anak-anak dan remaja perempuan yang terjebak dalam lingkaran kekerasan ini sering tidak memiliki akses atau kekuatan untuk dapat keluar dari sistem yang mengekangnya.

Tanpa disadari, alienasi emosional dalam keluarga pun tumbuh subur. Sebagai pihak yang paling rentan, anak-anak dan remaja perempuan hanya dapat belajar memainkan peran yang sangat terbatas, sejauh yang dimungkinkan oleh keadaan. Sayangnya, peran tersebut tidak pernah benar-benar lepas dari tuntutan adat patriarki yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat.

Alienasi emosional hadir di sini sebagai proses objektivasi diri sekaligus pereduksian martabat manusia sebagai subjek yang berhak menentukan nasibnya sendiri. Anak-anak dan remaja perempuan yang hidup dalam kondisi alienasi semacam ini digiring memasuki suatu domain kekuasaan, di mana ia memandang dirinya semata-mata sebagai instrumen pemenuhan tuntutan eksternal.

Kepatuhannya kepada individu-individu maupun institusi dalam keluarga bukan lahir dari kehendak bebas dan suara batinnya, melainkan dipaksakan oleh hegemoni sistemik. Relasi dalam keluarga pun tereduksi menjadi kewajiban yang mekanistis. Siklus keterasingan ini berputar dalam pusaran antara “hati yang ingin memberontak” dan ketaatan hegemonial yang perlahan menggerus makna subjektivitas diri.

Pemberdayaan dan Intervensi Sosial untuk Mengatasi Kekerasan Domestik

Alienasi emosional tidak hanya ditandai oleh diam yang menusuk dalam keluarga, melainkan juga oleh kekerasan sebagai manifestasi dari kekuasaan patriarki yang menindas. Studi yang dilakukan oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menunjukkan bahwa di tahun 2025, rata-rata ada 47 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak per bulan (Kompas, 2025). Kekerasan semacam ini berpotensi menimbulkan distorsi psikologis yang berujung pada alienasi, yakni perasaan terasing di dalam keluarga itu sendiri.

Keluarga yang semestinya menjadi ruang perlindungan dan pemulihan, dalam kenyataannya kerap berubah menjadi ruang penderitaan. Kondisi ini semakin nyata ketika anak-anak dalam keluarga—terutama anak dan remaja perempuan—kian terisolasi dalam struktur dan budaya patriarki. Dampak yang ditimbulkan pun beragam, mulai dari kekerasan fisik, runtuhnya rasa percaya diri, keretakan hubungan sosial, hingga penarikan diri yang dapat berujung pada depresi dan berbagai gangguan psikologis lainnya. Tanpa intervensi sosial yang memadai, mereka akan terus terperangkap dalam labirin persoalan ini.

Usaha apa saja yang dapat dilakukan dalam kerangka intervensi sosial ini?

Pertama, anak-anak/remaja dalam keluarga atau masyarakat perlu disadarkan dari awal bahwa upaya menuju kesetaraan gender bukanlah perjuangan yang semata-mata dibebankan kepada kaum perempuan. Perjuangan ini kerap disalahpahami seolah-olah merupakan bentuk revolusi sosial yang mengancam stabilitas masyarakat. Oleh karena itu, program-program pemberdayaan, khususnya melalui pelatihan keterampilan, harus terus digalakkan dengan mengedepankan partisipasi gender. Dalam konteks ini, anak-anak/remaja pria diharapkan tidak hanya menjadi penonton dalam usaha pemberdayaan ini, melainkan dilatih untuk turut berperan sebagai penggerak dan mitra perubahan di masa depan.

Kedua, anak-anak/remaja dalam keluarga dan masyarakat juga perlu diberi pemahaman dini mengenai pentingnya partisipasi kaum perempuan dalam program-program pemberdayaan berbasis komunitas. Mereka harus terus dilatih untuk memahami bahwa sudah saatnya perempuan pun dilibatkan secara aktif dalam berbagai persoalan kemasyarakatan yang selama ini dianggap tabu bagi mereka, terutama dalam ranah pengambilan keputusan adat. Berbagai daerah menunjukkan bahwa keberhasilan program pemberdayaan perempuan melalui peningkatan partisipasi sosial berbanding lurus dengan menurunnya tingkat kekerasan dalam rumah tangga.

Melalui novel Sonntagnachmittag, Hanišová mengingatkan kita akan bahaya luka batin dan alienasi emosional dalam keluarga. Keluarga semestinya menjadi ruang perlindungan, bukan sumber penderitaan emosional yang perlahan menggerus subjektivitas anak-anak. Hanišová menegaskan pentingnya komunikasi yang sehat serta kepekaan terhadap kebutuhan emosional setiap anggota keluarga agar relasi antarsubjek dapat terbangun di dalam institusi keluarga.

Penulis adalah Dosen pada Sekolah Tinggi Teologi KHKT (Kölner Hochschule für Katholische Theologie), Keuskupan Agung Köln, Jerman

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.