Kehendak Musa Versus Otoritas Tuhan

oleh -183 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Mu’min Roup

Kisah-kisah menarik tentang perjalanan hidup Nabi Musa memang mendominasi jagat kesusastraan dalam risalah nubuah dari zaman ke zaman. Tak ayal, namanya diabadikan dalam teks-teks Al-Quran sebanyak 136 kali, bahkan tidak kurang dari 800 kali tercantum dalam Injil (Alkitab). Setelah meninggalkan Mesir dan tenggelamnya Firaun dan balatentaranya di Laut Merah, Nabi Musa dan kaumnya (Bani Israel) melangkah menuju Yerusalem. Banyak ujian dan cobaan yang dialami mereka selama bertahun-tahun menjalani eksodus dan pengembaraan. Tidak jarang mereka melakukan dosa dan kemaksiatan, kemudian mereka kembali bertobat atas kesalahan dan dosa-dosa yang mereka perbuat.

Suhu udara padang pasir yang panas menyengat, membuat sebagian mereka banyak mengeluh dan kurang bersabar. Pernah dalam satu tahun hujan tidak turun, anak-anak merengek kehausan dan kelaparan, wabah penyakit tak lekang menyerang mereka yang memiliki imunitas rendah. Lemahnya keimanan (tauhid) membuat sebagian mereka berpaling, bahkan sebagian kambali kepada kesyirikan dan menyembah patung anak sapi.

Karena hujan tak turun-turun, sebagian yang bercocok-tanam gagal dan mengering. Mereka memohon pada Nabi Musa agar Tuhan berbaik-hati menurunkan hujan, sampai kemudian ribuan orang dikumpulkan dalam lapangan terbuka.

Sebenarnya kisah ini sering diulang-ulang oleh banyak penulis dan cendekiawan sesuai versi mereka. Namun, izinkan saya mengulang kisah religius yang menyentuh hati ini dalam bentuk sastra, sehingga pembaca dapat menangkap massages dan esensinya sesuai dalam konteks kekinian dan keindonesiaan.

Nabi Musa mengajak kaumnya lalu bermunajat bersama-sama, namun kemudian selama beberapa hari hujan tak kunjung turun. Nabi Musa duduk menyendiri, seraya menyoal kenapa Tuhan belum juga menurunkan hujan, sementara kaumnya sedang mengalami kekeringan di sana-sini.

“Wahai Musa,” tegur Allah, “sengaja hujan tidak Kami turunkan, karena di antara Bani Israel itu ada salah seorang yang terus-menerus melakukan maksiat selama 40 tahun, dan sampai sekarang belum juga mau bertobat.”

“Lalu, apa yang harus aku lakukan terhadap pelaku maksiat itu, ya Allah?”

“Usir dia dan perintahkan agar segera bertobat.”

Nabi Musa merasa dipermalukan oleh sang pelaku maksiat itu. Bagaimana mungkin seorang Rasul dan Ulul Azmi yang jemudian dijuluki Kalimullah, dan pernah mendatangkan mukjizat maha sakti dengan tongkat yang diubah jadi ular raksasa, bahkan membelah lautan lepas, justru untuk mendatangkan hujan saja tidak sanggup. Beliau kembali ke perkumpulan kaumnya, lalu berkata secara vulgar: “Tuhan tidak menurunkan hujan, karena di antara kalian ada yang terus-menerus berbuat maksiat selama 40 tahun, tetapi sampai hari ini belum juga bertobat. Sekarang, saya tegaskan, siapa di antara kalian yang merasa berbuat dosa selama 40 tahun, silakan keluar dari perkumpulan ini!”

Orang-orang saling menoleh ke kiri dan kanan. Namun, tak ada satu pun yang berani menuduh satu sama lain, karena hidup manusia memang tak lepas dari salah dan dosa. Tetapi, apa yang disampaikan Nabi Musa membuat mereka tercenung, seraya introspeksi diri, jangan-jangan akan ada tuduhan dilayangkan kepada dirinya. Suasana begitu senyap dan tegang. Semuanya terpejam menahan rasa malu. Tak seorang pun yang berani keluar dari perkumpulan. Kemudian, Nabi Musa mengulang, “Kalau tak ada yang mau mengaku, sampai kapan pun hujan tidak akan turun! Ayo, keluar sekarang juga!” bentaknya lagi.

Semuanya terpaku diam, tetap tak ada yang beranjak dari perkumpulan itu. Di barisan belakang, ada seseorang yang menutup mukanya dengan kain (sebut saja Fulan), lalu sambil berbisik ia mengadu pada Tuhan: “Ya Rabbi, aku menyesal atas apa-apa yang kuperbuat. Maafkan atas kesalahanku selama ini… jika aku keluar dari barisan ini, maka aib dan kesalahanku akan terbongkar di hadapan mereka… sehingga mereka akan mencemooh dan mencaci-maki aku. Ampunilah atas dosa-dosaku, ya Allah ya Rabbi….”

Tiba-tiba, hujan turun dengan derasnya. Mereka semua terkejut dan merasa gembira. Fulan tersenyum dan bersyukur kepada Allah, lalu Nabi Musa pun memerintahkan semuanya agar melakukan sujud syukur. Seketika itu, kredibilitas Musa sebagai nabi dan utusan Allah kembali terpancar dalam kepercayaan dan keyakinan mereka. Meski dalam hati, Nabi Musa merasa penasaran, siapa gerangan si pelaku maksiat itu? Siapa gerangan yang berani-beraninya mencemarkan nama baikku sebagai Rasul? Lalu, mengapa dia tidak takut kepadaku dan menolak pergi dari perkumpulan ini?

Tak ada jalan lain, ia harus bertanya pada Tuhan, mengapa hujan sudah diturunkan, padahal tak seorang pun dari Bani Israel itu yang keluar dari barisan?

“Wahai, Musa, diamlah kau… sebab hamba-Ku itu sudah bertaubat.”

“Tapi siapakah orang itu, ya Rabbi?” desaknya lagi.

“Cukup, kau diam saja, Musa. Selama 40 tahun orang itu bermaksiat tetapi Aku telah merahasiakannya. Lalu sekarang, hari ini, kau pikir Aku akan membuka aib dan kesalahannya pada saat dia sudah bertobat kepada-Ku?”

Kisah ini mengandung pesan dan hikmah yang luar biasa, agar kita semua bertanggungjawab untuk bersama-sama menjaga lingkungan, sebab kesalahan yang dilakukan satu orang tentu akan berefek pada lingkungan sekitarnya. Hal ini, bukan berarti kita harus melemparkan tuduhan terhadap pihak lain, karena boleh jadi dampak negatif yang berakibat pada rusaknya tatanan ekosistem itu justru disebabkan ulah perbuatan diri kita sendiri.

Yang tak kalah menarik dari kisah ini adalah ending yang menakjubkan, ketika Tuhan menegur Musa (sebagai pemimpin) agar bersabar dan menahan diri, serta jangan turut campur atas wilayah yang menjadi hak prerogatif Tuhan.

Nabi Musa tentu saja seorang yang mulia dan memiliki kharisma, tetapi otoritas Tuhan tentu tidak sebanding dengan kemuliaan para nabi selaku utusan dan hamba-hamba-Nya. Memang, kemakmuran akan datang berlimpah, baik dari darat maupun laut, jika suatu masyarakat bertakwa. Tetapi, di sisi lain kualitas ketakwaan harus diawali dari keteladanan sang pemimpin itu sendiri. Tak boleh saling melemparkan tuduhan, bahwa aku bersih dan kamu kotor, juga kita suci sedangkan mereka najis. Bahkan, seorang nabi pun tak punya hak untuk mencampuri otoritas dan rahasia (sirr) atas keagungan rahasia Tuhan.

Kisah ini pun mengandung hikmah dan pelajaran agar kita selalu terkoneksi dengan rahmat dan maghfirah Allah, bahwa murka-Nya memang dahsyat, dan siksaan-Nya teramat pedih. Tetapi, Allah Maha Menepati janji, bahwa keadilan dan kasih sayang-Nya meliputi jagat raya dan seluruh alam semesta ini. (*)

Penulis adalah Dosen dan Peneliti Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, menulis esai dan prosa di Radar NTT, Republika, Tribunnews, Jawa Pos, NU Online, Alif.id, dan media-media lokal Banten

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.