Kebangkitan Spiritual Seorang Penulis

oleh -2299 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Enzen Okta Rifai, Lc.

Ada penulis novel, sahabat saya, yang ketika beranjak dewasa menyadari bahwa beberapa novel yang telah ditulisnya justru mengajak orang di jalan kegelapan. Dia menilai hampir di setiap bab mengajak ke dunia hitam, barock, bahkan heavy metal. Namun kemudian, lewat perjalanan waktu dia mulai menulis karya sastra yang agak religi, juga menyuarakan pesan-pesan keagamaan.

Menurut saya, ketika seseorang menulis cerpen atau novel, tak ubahnya mencipta musik sastra. Meskipun bukan musik secara eksplisit, namun sastra adalah bahasa yang juga memiliki kualitas musikal. Ketika seorang Eka Kurniawan atau Gol A Gong menulis karya sastra, ia bagaikan komposer musik yang membangun aliran, inspirasi atau ritme yang terus mengalir dalam dirinya. Ritme yang mengalir dalam diri Mustofa Bisri barangkali diilhami oleh musik religi atau kasidah yang cenderung ngepop, namun menyiratkan pesan-pesan ilahiyah. Elemen ritual mungkin diperlukan kiai NU tersebut untuk menciptakan keheningan, yang ia sebut sebagai wuquf atau tuma’ninah.

Keheningan itu adalah jeda atau menunggu datangnya ilham, yang dalam konteks agama disebut spiritual, hingga kemudian terpanggil untuk menyampaikan suara Tuhan. Saya kira, seorang Hafis Azhari saat menggarap novel Pikiran Orang Indonesia juga tak terlepas dari keheningan, mengasah kekuatan iman, hingga dengan mudah menyuarakan prinsip keadilan berdasarkan kepercayaan monoteisme sebagai pemuda Banten.

Bagi saya, setiap penulis produktif memiliki suara-suara Tuhan tersendiri menurut keyakinannya. Kebertuhanan adalah sesuatu yang universal, tetapi bagi seorang penulis justru membuat mereka benar-benar unik. Dualisme dalam diri penulis seakan bersatu-padu antara ikhtiar dan kehendak dirinya, namun juga memasrahkan pikiran mengalir sebagai ilham yang datang dari luar dirinya.

Pada saat Hafis menulis novel Perasaan Orang Banten, saya menduga bahwa ia juga melakukan aktivitas “mendengar” ketimbang hanya menulis. Pekerjaan menulis novel membutuhkan semacam intensitas, dan ia membiarkan bahasa mengalir dalam ritme-ritme tersendiri, di mana setiap penulis punya kebiasaan akan disiplinnya masing-masing.

Saya membayangkan, bagaimana semesta kecil diciptakan oleh penulis dengan puluhan aliran dan mazhab, para tokoh yang memiliki aturannya sendiri, bersuku-suku bangsa dan kepercayaan yang berbeda, sedangkan penulis hanya mendengarkan aturan-aturan itu lantas mengikuti dan merumuskannya.

Jadi, yang menjadi inti sebuah novel, setidaknya sejauh yang saya tahu, adalah cara bahasa dan waktu digunakan yang bersifat maju-mundur. Sekarang tiba-tiba pembaca dapat mengalami sesuatu yang terjadi dahulu kala, bertahun-tahun silam. Semacam ada waktu dan ruang spiritual yang terbuka dan universal. Sesuatu yang tak terjamah tetapi pembaca dapat merasakannya. Mungkin dapat pula disebut sebagai “cahaya batin” yang mewujudkan kata-kata yang hidup, dan menjadi sangat jelas bagi sang penulis. Itu pun dapat dikatakan “misteri iman”, suatu konsep sentral untuk memahami dan meyakini keberadaan Tuhan.

Dalam dunia sastra, setiap individu memiliki jalan hidup dan keunikannya tersendiri. Tak terkecuali seorang yang depresi dan terkena gangguan jiwa. Jika kita meyakini bahwa setiap manusia itu unik, maka nyawa satu manusia adalah cahaya batin yang meliputi nyawa dan cahaya manusia lainnya. Karena itu, jika manusia tidak menghargai orang lain, atau meniadakannya, berarti ia menghilangkan pancaran cahaya yang meliputi seluruh kosmos.

Kita mengenal Lars Hertervig, seorang pelukis yang hidup di rumah sakit jiwa (Norwegia), dan setiap harinya melukis cahaya dan pancarannya, sampai kemudian orang-orang baru menyadari bahwa lukisannya itu datang dari ilham spiritual yang sangat tinggi.

Bagi saya, kepercayaan yang diyakini seniman memang bukan sistem yang rasional. Karenanya, penulis, pelukis dan seniman lainnya dianggap profesi yang memliki banyak kontradiksi, karena dipandang bertentangan dengan kemapanan yang bersifat konvensional. Untuk itu, bisa dimaklumi jika ada penulis besar yang berhasil meraih penghargaan nobel, seperti Jon Fosse, yang terang-terangan tak menyukai sistem lembaga yang bernama sekolah.

Dalam dunia sastra, kita sering mendengar sesuatu yang “tak terkatakan”. Terkait dengan ini, Jacques Derrida pernah menegaskan, bahwa apa-apa yang tak sanggup dikatakan, maka tulislah. Jika pun tak ditemukan kata atau kalimat yang tepat, maka tulislah dengan kata apapun yang lebih mendekati pesan kebenaran itu. Saya kira, setiap penulis tentu pernah mengalami hal seperti ini.

Setelah membaca novel Perasaan Orang Banten, saya pernah menjumpai penulisnya lalu menanyakan perihal, bagaimana ia sanggup menuliskan hal-hal terkecil dalam relung jiwa manusia Indonesia sambil menggunakan dialek ibukota (Jakarta) yang dulunya dikenal sebagai “Melayu Pasar”. Bukankah, banyak karakter tokoh yang mestinya memiliki emosi yang kompleks untuk dinyatakan ke dalam teks bahasa Indonesia? Rupanya sang penulis menjawab simpel dan sederhana, “Kalau saat ini belum bisa dipahami, mudah-mudahan bulan depan atau tahun depan akan semakin mudah dipahami.” Itulah keunikan seorang penulis. Saya kira itu anugerah tersendiri yang jarang dimiliki oleh profesi lainnya.

Dalam dunia sastra (dan seni lainnya) terkandung dimensi-dimensi yang bersifat kompleks, terutama untuk menyatakan sesuatu yang dianggap sulit untuk dikatakan. Karena itu, kadang kita mendengar adanya penulis yang merasa skeptis dengan perkembangan bahasa, atau bahkan distorsi bahasa. Kita paham, kata-kata yang dimasukkan ke dalam kamus besar (KBBI) dianggap sebagai sintaksis yang paling wajar. Meski sebenarnya, tak begitu banyak yang dituliskan daripada yang dirasakan manusia dalam berbahasa.

Tetapi, teks-teks dalam kamus tetap diperlukan sebagai patokan untuk berkomunikasi sehari-hari. Di balik itu, banyak pemahaman yang lebih mendalam tentang kehidupan, namun jika kita menggunakan dengan menuruti teks tertulis, maka sesuatu yang unik dan menarik akan sulit terkatakan, kecuali melalui rumusan seni dan sastra.

Bahkan, kadang kita menyaksikan seseorang sambil membawa-bawa novel di tangannya, mengikuti suatu acara bedah buku, kemudian berdialog mesra dengan sang penulis sambil berujar, “Pak, buku sastra karangan Bapak inilah yang membuat saya punya alasan untuk bertahan hidup hingga hari ini. Kalau saya tidak berkali-kali membaca buku ini, mungkin sudah lama saya mati.”

Sang penulis merasa bersyukur mendengar kata-kata seperti itu, dari seorang pembaca yang baru sekali berjumpa, namun karyanya telah menyentuh hati pembaca, serta memberi dampak yang sangat kuat pada kehidupan manusia. ***

Penulis adalah Alumnus International University of Africa, Republik Sudan, aktif menulis opini dan esai sastra untuk media-media luring dan daring

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.