Karakter Al-Mahdi sebagai Jiwa Terpilih

oleh -761 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Ahmad Rafiuddin

Dalam terminologi Islam, sosok Imam Mahdi atau “Al-Mahdi” dipastikan dari keturunan Bani Hasyim, anak-cucu dari Fatimah binti Muhammad, dengan suaminya Ali bin Abi Thalib. Dalam banyak hadits Nabi dinyatakan, bahwa sosok Imam Mahdi yang menandai datangnya akhir zaman, adalah keturunan dari salah satu putera Fatimah, meski beliau tak memastikan apakah dari Saydina Hasan ataukah Husein.

Sebagaimana sulitnya mengenali sosok Waliullah yang melebur dengan kehidupan masyarakat, kita pun sulit menebak sosok Imam Mahdi, karena ia menjalani kehidupan seperti manusia pada umumnya. Ia makan dan minum seperti kita, bergurau, bercengkerama, bahkan merasa kesal dan marah jika merasa dirinya terusik dan diperlakukan tidak adil.

Dalam hadits yang diriwayatkan Tirmidzi dan Abu Dawud, figur Imam Mahdi kemungkinan juga dari sosok lelaki yang berdosa dan mengalami masa kelam di masa lalu. Namun, kemudian bertobat dan mengalami “ishlah” dalam satu malam, sebagaimana Rasulullah menjalani Isra Mi’raj atas hak prerogatif Allah bagi hamba yang dipilih-Nya.

Kita mengenal nama besar Umar bin Khattab, yang dulunya seorang pendosa dan pelaku maksiat, namun kemudian mengalami transformasi spiritual, bertobat dan terangkat derajatnya menjadi khalifah setelah periode Abu Bakar, sampai keduanya wafat dan dikuburkan di samping makam Rasulullah.

Dalam kitab Futuhat al-Makiyyah yang ditulis ulama dan filosof muslim Ibnu Arabi, setelah pembai’atannya, Imam Mahdi akan mengalami berbagai penolakan dan pertentangan sengit. Di antaranya dari para ulama fiqih yang gemar pada khilafiyah dan furu’iyah. Mereka akan serentak memfitnah dan mengadu-domba, bahkan menuduhnya sebagai orang gila dan sesat (majnun). Namun, semua tuduhan itu dihadapinya dengan penuh kesabaran dan kerendahan hati, hingga semakin membuatnya mulia dan agung di mata orang-orang baik dan beriman.

Ironisnya, para pendukung Imam Mahdi itu bukan dari kebanyakan ulama, tetapi justru dari orang-orang biasa yang hati dan jiwanya bersih, tanpa prasangka negatif, peka dan peduli dalam melihat tanda-tanda zaman. Dalam riwayat Imam Thabrani, Rasulullah pernah menegaskan, bahwa kondisi yang mengkhawatirkan di akhir zaman, adalah maraknya orang-orang musyrik bukan lantaran menyembah berhala, tetapi justru menjadikan ulama dan rahib sebagai “sesembahan” selain Allah. Mereka lebih menghargai pakaian dan kulit luarnya, ketimbang pada kedalaman ilmu dan keluasan wawasannya.

Untuk itu, orang-orang yang mengalami kebangkitan spiritual adalah mereka yang beriman dan bertakwa dari kalangan rakyat yang tak menonjolkan diri. Bahkan, dari mimpi-mimpi mereka akan semakin terbuka tanda-tanda akhir zaman, hingga disampaikan secara jujur tentang karakteristik Imam Mahdi yang sesungguhnya.

Ada sekitar 313 orang yang akan membai’at Sang Imam di antara Rukun Yamani dan Maqam Ibrahim di depan Ka’bah. Dalam hadits riwayat Imam Baihaqi, dijelaskan bahwa hanya sedikit ulama yang akan mendukung dan membelanya. Tetapi, kebanyakan justru tergolong “Ulama Su” yang gemar mencemooh dan mencaci-maki jiwa-jiwa terpilih dari hamba-hamba yang diridhoi Allah Swt.

Petunjuk dan hidayah, serta mimpi-mimpi yang selaras dari orang-orang beriman, akan memberi kabar tentang maraknya perbuatan syirik yang justru dilegitimasi oleh sebagian ulama yang bangga karena kenikmatannya disanjung dan dipuja-puji oleh pengikutnya. Mereka menganggap “Ulama Su” sebagai sosok paling ideal yang dianggap layak menjadi Sang Imam Mahdi. Fitnah Dajjal semakin meluas, hingga sulit membedakan antara kebenaran dan pembenaran. Masing-masing mengklaim dirinya berada di jalan lurus, serta berhak untuk menumpaskan segala kejahatan.

Penyakit menular, gempa bumi, perselisihan dan perlakuan sewenang-wenang, akan membuat garis pemisah (al-furqan) antara siapa yang membela Sang Imam Mahdi, serta siapa yang mengikuti orang-orang yang merasa bangga disebut “Imam Mahdi”. Dajjal-dajjal akan bergentayangan mempropagandakan misi dan sasaran yang ingin dicapainya. Orang dengan kualitas iman dan ketakwaan yang baik, akan konsisten berpijak pada kekuatan tauhid, serta menolak kesyirikan meski dihiasi dengan iming-iming kemegahan duniawi yang dijadikan modal perjuangannya.

Sementara, mereka yang tergiur harta dan kekuasaan, akan menolak air dalam gelas, tetapi lebih memilih segunung emas di tengah padang sahara, yang akhirnya membuatnya terengah-engah dan mati karena kehausan dan kelaparan.

Dalam surat Luqman ayat 13 dinyatakan, bahwa perilaku syirik itulah yang menjadi pangkal kejahatan dan kezaliman manusia. Syirik ibarat makhluk tersembunyi layaknya semut hitam yang berjalan di atas batu di tengah kegelapan malam. Perilaku syirik dari manusia hiper modern, dapat disaksikan bersama, bagaimana ekspektasi kesukesan dilihat dari kacamata penilaian manusia, bukan ditujukan bagi kebesaran dan keagungan Allah Swt. Padahal, hanya Allah-lah yang layak dipuji dan diagungkan. Sementara, manusia modern lebih menghamba pada prestise, popularitas dan kedudukan duniawi semata.

Untuk itu, di akhir zaman ini, hanya jiwa-jiwa terpilih yang tidak ada kesombongan dalam dirinya, entah apapun status dan profesinya, mereka tidak ada belenggu dan selubung, sehingga dapat mudah mengenali sosok Imam Mahdi yang sesungguhnya. ***

Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng 09 (Nurul Falah), Rangkasbitung, Banten

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.