Jihad Spiritual Pesantren Tebuireng

oleh -695 Dilihat
banner 468x60

Oleh: K.H. Ahmad Rafiuddin

Dalam buku yang ditulis K.H. Abdul Hakim Mahfudz, Pemersatu Umat Islam Indonesia (2023), munculnya fatwa jihad untuk melawan pendudukan Belanda, tak terlepas dari “Komite Hijaz” yang menjadi bagian dari pergerakan umat Islam secara global. Setelah wafatnya Syekh Nawawi Al-Bantani, Komite Hijaz terus bergerak hingga memunculkan proses persatuan dan penggalangan silaturahmi oleh berbagai mazhab dan aliran Islam yang diprakarsai Syekh Hasyim Asy’ari.

Di saat sejarawan pribumi masih takut untuk mengungkap fakta akan kesewenangan pendudukan Belanda, Syekh Hasyim justru bergerilya menggalang kekompakan di antara kekuatan front kaum Muslimin. Sementara di sisi lain, kekuatan nasionalisme yang diwakili Soekarno-Hatta-Sjahrir terus bergerak untuk mengadakan negosisiasi dan perundingan damai dengan dunia internasional.

Jika kita perhatikan kata-kata islami dalam butir-butir Pancasila, seperti “adil”, “adab”, “hikmah”, “musyawarah”, “wakil”, bahkan kata “rakyat” yang secara sentral digaungkan oleh Soekarno-Hatta dalam tulisan maupun pidato-pidatonya. Menurut Kiai Abdul Hakim Mahfudz (akrab disapa Gus Kikin), ketika proklamasi digaungkan (1945), umat Islam tetap konsisten dalam kesatuan nasion dengan populasi yang sudah mencapai 95 persen. “Karena itu, mengenali Syekh Hasyim Asy’ari tidak cukup sebatas proklamator dan pendiri NU, tetapi beliau adalah tokoh muslim terdepan yang sanggup mempersatukan umat Islam Indonesia dari Sabang sampai Merauke,” tekas Gus Kikin.

Lebih tajam lagi, Gus Kikin menegaskan, bahwa gerakan perlawanan Syekh Hasyim justru setelah menuntut ilmu dari Mekah, yang tentunya peran Syekh Nawawi selaku guru (mursyid), sangat memengaruhi ide dan pemikiran progresifnya. Untuk itu, dapat dipahami jika terungkap berbagai motivasi yang mendorong penulisan kitab-kitab Syekh Hasyim, lebih bertajuk soal perlawanan terhadap ketidakadilan kaum penjajah. Ini tercermin jelas dari goresan penanya yang mengusung spirit untuk merebut kemerdekaan.

“Spirit perjuangan Islam semakin kentara manakala kita membuka sejarah perintisan dan pendirian pesantren Tebuireng di Jombang. Hanya beberapa ratus meter dari tanah yang dibeli, terdapat pabrik gula Cukir yang biasanya masyarakat berpesta-pora setelah menerima gajih dari pabrik Belanda. Berbagai macam candu dan ketergantungan pada minuman keras, judi, prostitusi, sangat marak di mana-mana,” tandas Gus Kikin. “Tetapi setelah munculnya dakwah dan pendidikan Islam di Pesantren Tebuireng, segala kemaksiatan dan kriminalitas itu perlahan-lahan semakin terkikis.”

Syekh Hasyim bergerak secara independen, dengan perangkat teknologi yang sangat minim pada masa itu. Beliau tekun menulis kitab, menggoreskan pena, mengadakan pengajian, bahkan terus berupaya menggerakkan semangat rakyat. Ketika memasuki pendudukan Jepang, radio-radio yang dipakai untuk menggerakkan massa, justru lebih cenderung dikuasai oleh kaum nasionalis seperti Soekarno.

Pemikiran Gus Kikin

Sebagai pengasuh Tebuireng 09 di Rangkasbitung, Banten, secara pribadi saya sangat mengapresiasi pemikiran progresif dari Gus Kikin selaku salah satu cucu dari Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari. Menurut beliau, sangat keliru jika perlawanan umat Islam yang diprakarsai Tebuireng dianggap sebagai pemberontakan. Sebab, kesatuan kaum muslimin dalam menggalang front yang selaras dengan kekuatan nasionalis, adalah upaya melawan penjajahan, serta mempertahankan hak milik bangsa Indonesia, yang sebelumnya dirampas oleh pihak penjajah.

Selain itu, hak-hak asasi manusia yang digaungkan secara internasional, pada hakikatnya selaras dengan nilai-nilai Islam universal, yang juga sesuai dengan Qanun Asasi NU, bahwa NU sebagai organisasi sosial keagamaan, bertumpu pada paham Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja). Menurut Gus Kikin, Islam Ahlussunnah memiliki kekuatan sanad keilmuan yang menjurus langsung kepada teladan hidup Rasulullah, baik secara teologis, filosofis maupun historis. 

Pada acara peresmian Pesantren Tebuireng 09 di kampung Pasirmalang, Rangkasbitung, Banten, Gus Kikin langsung terlibat aktif, bahkan sanggup menjadi pembicara utama dalam acara bedah buku yang ditulisnya sejak 2023 lalu, yakni Mengenal Sosok Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari, Pemersatu Umat Islam Indonesia. Acara yang sangat fenomenal itu dihadiri berbagai elemen masyarakat, termasuk dari para ulama dan kiai alumni Tebuireng, pihak Polres Lebak hingga Polda Banten.

Ulama dan Umaro

Hubungan antara ulama dan umaro dalam menjaga stabilitas keamanan negeri, telah diajarkan oleh keteladanan hidup Rasulullah, khususnya dalam menata Kota Madinah (Yatsrib), yang terus dipraktekkan dan diteladani kaum Muslimin dari zaman ke zaman.

Kita pun mengenal ulama sufi yang menyertai perjuangan Sultan al-Fatih, yakni Syekh Syams al-Din. Digambarkan secara eksplisit bagaimana Sang Sultan memohon doa dan restu agar umat Islam berhasil menaklukkan Konstatinopel. Bahkan, Sultan meminta agar Syekh Syams al-Din memimpin doa secara berjamaah, kemudian Sang Sultan berkhalwat dan berzikir bersama mereka (Etos Jihad Kaum Sufi, hal. 117, 2003).

Menurut Gus Kikin, sejak era Presiden Gus Dur, telah berbondong-bondong para kiai selaku mursyid tarekat berafiliasi dengan kekuatan partai yang disukai oleh mereka, dari partai manapun dan calon presiden siapa pun. Di masa SBY, kita mengenal TGH Sibawaih di Lombok Tengah, yang sejak tahun 2004 dikenal sebagai penasehat spiritual presiden. Bagi Gus Kikin, wilayah politik adalah bagian tak terpisahkan dengan agama, dalam rangka amr ma’ruf dan nahi munkar (mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran).

Namun demikian, tentu ada saja motivasi lain dari kaum tarekat yang cenderung pragmatis. Tetapi pada prinsipnya, selama politik dianggap tidak kotor dan baik-baik saja, maka keberpihakan dengan pemerintah (kekuasaan), merupakan pilihan kebijakan yang sulit terbantahkan. Ini tercermin jelas dalam pergerakan kaum nasionalis dari para bapak bangsa, yang terus bersinergi serta didampingi kekuatan front kaum muslimin, khusunya di pesantren Tebuireng, Jombang.

Untuk itu, kita harus kembali kepada khittah dari awal perjuangan Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari, bahwa hanya politik moral yang memperjuangkan prinsip keadilan, maka akan dapat selaras dengan jihad spiritual yang ditegakkan Islam dan kaum sufi dari zaman ke zaman. ***

Penulis adalah Pengasuh Pesantren Tebuireng 09, Banten, penulis buku Marwah Pesantren, juga penulis esai keislaman di berbagai media nasional luring dan daring

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.