Jangan Hanya Bicara Etika, Buktikan Lewat Tindakan

oleh -167 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Nehemia Bryan Rato

Kita hidup di tengah masyarakat yang sering berbicara tentang kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan kebaikan. Nilai-nilai tersebut diajarkan dalam keluarga, dipelajari di sekolah dan perguruan tinggi, serta disampaikan dalam berbagai forum sosial dan keagamaan. Namun, sebuah pertanyaan patut diajukan: jika etika begitu sering dibicarakan, mengapa tindakan manusia tidak selalu mencerminkan nilai-nilai tersebut?

Pertanyaan ini mengajak kita melihat persoalan etika secara lebih mendalam. Persoalannya bukan semata-mata karena manusia tidak mengetahui apa yang baik dan buruk, melainkan juga karena pengetahuan tentang kebaikan tidak selalu diwujudkan dalam tindakan. Kita dapat berbicara tentang kejujuran, tetapi memilih berbohong ketika kepentingan pribadi terancam.

Kita dapat menyerukan keadilan, tetapi bersikap tidak adil ketika keuntungan diri sendiri dipertaruhkan. Di sinilah etika menghadapi tantangan sesungguhnya. Etika tidak cukup menjadi pengetahuan yang dihafal atau kata-kata yang diucapkan. Etika harus menjadi pedoman dalam mengambil keputusan dan bertindak. Sebab, nilai moral seseorang tidak hanya terlihat dari apa yang dikatakannya, tetapi juga dari apa yang dilakukannya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemukan kesenjangan antara perkataan dan perbuatan. Seseorang menuntut kejujuran dari orang lain, tetapi tidak mau mengakui kesalahannya sendiri. Ada orang yang berbicara tentang tanggung jawab, tetapi menghindari kewajibannya ketika menghadapi kesulitan. Ada pula yang menyerukan kepedulian sosial, tetapi tidak menunjukkan kepedulian ketika orang lain benar-benar membutuhkan bantuan.

Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa berbicara tentang nilai moral jauh lebih mudah daripada menjalankannya. Mengatakan bahwa kejujuran itu penting tidak membutuhkan pengorbanan besar. Namun, tetap jujur ketika kebohongan dapat memberikan keuntungan membutuhkan keberanian dan keteguhan hati.

Demikian pula, membela keadilan ketika diri sendiri diuntungkan merupakan hal yang relatif mudah. Tantangan sebenarnya muncul ketika keadilan menuntut kita mengakui kesalahan, melepaskan keuntungan yang bukan hak kita, atau membela seseorang yang tidak memiliki kekuatan untuk membela dirinya sendiri.

Karena itu, etika tidak seharusnya hanya menjadi ukuran untuk menilai orang lain. Etika juga harus menjadi cermin untuk memeriksa diri sendiri. Sebelum mempertanyakan moralitas orang lain, kita perlu bertanya apakah tindakan kita sudah sesuai dengan nilai yang selama ini kita perjuangkan. Dalam filsafat moral, etika merupakan refleksi kritis mengenai baik dan buruk serta dasar yang dapat membenarkan tindakan manusia.

Etika membantu manusia mempertimbangkan apakah suatu tindakan dapat dipertanggungjawabkan, apakah tindakan tersebut menghormati martabat sesama, dan apakah keputusan yang diambil sesuai dengan prinsip moral. Namun, memahami etika secara teoritis tidak otomatis membuat seseorang bertindak etis.

Seseorang dapat mengetahui bahwa menyontek merupakan tindakan tidak jujur, tetapi tetap melakukannya demi mendapatkan nilai yang tinggi. Seseorang dapat memahami bahwa menyebarkan berita bohong itu salah, tetapi tetap melakukannya karena ingin mendapatkan perhatian atau dukungan.

Pemikiran Aristoteles dalam Nicomachean Ethics memberikan pelajaran penting mengenai pembentukan karakter. Kebajikan tidak cukup dipahami sebagai pengetahuan, tetapi perlu dibentuk melalui kebiasaan melakukan tindakan yang baik. Dengan kata lain, manusia menjadi adil dengan membiasakan diri bertindak adil dan menjadi jujur dengan membiasakan diri berkata serta bertindak jujur.

Pandangan ini menunjukkan bahwa moralitas bukan sekadar persoalan mengetahui aturan. Moralitas juga menyangkut pembentukan karakter melalui pilihan-pilihan yang dilakukan secara konsisten. Etika, dengan demikian, tidak boleh berhenti di ruang kelas, buku, atau diskusi akademik.

Pengetahuan etis baru memperoleh makna praktis ketika memengaruhi cara manusia mengambil keputusan, memperlakukan sesama, dan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Salah satu tantangan terbesar dalam menjalankan etika adalah benturan antara prinsip moral dan kepentingan pribadi.

Manusia memiliki keinginan, ambisi, kebutuhan, dan rasa takut. Dalam situasi tertentu, semua itu dapat mendorong seseorang mengabaikan nilai yang sebenarnya ia yakini. Kebohongan, misalnya, dapat dibenarkan dengan alasan untuk menghindari masalah. Ketidakjujuran dapat dianggap wajar karena orang lain juga melakukannya. Pengabaian tanggung jawab dapat dipandang sebagai sesuatu yang tidak perlu dipersoalkan selama tidak menimbulkan akibat langsung bagi diri sendiri.

Ketika pembenaran semacam ini terus diulang, kesalahan berisiko menjadi kebiasaan. Sesuatu yang semula dianggap keliru perlahan diterima sebagai hal biasa. Akibatnya, kepekaan moral melemah dan manusia semakin sulit membedakan antara sesuatu yang menguntungkan dengan sesuatu yang benar. Padahal, sesuatu yang menguntungkan belum tentu benar secara moral. Sebaliknya, melakukan hal yang benar terkadang menuntut pengorbanan.

Di sinilah keberanian etis diperlukan: keberanian untuk mempertahankan prinsip meskipun prinsip tersebut tidak selalu mendatangkan keuntungan. Etika justru paling dibutuhkan ketika melakukan yang benar terasa sulit. Jika seseorang hanya bersikap jujur ketika tidak ada risiko, atau hanya berlaku adil ketika kepentingannya tidak terganggu, konsistensi moralnya masih perlu dipertanyakan. Menjalankan etika tidak selalu harus dimulai dari persoalan besar. Etika dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi mahasiswa, etika terlihat dalam kejujuran akademik, penghargaan terhadap karya orang lain, kesediaan mengakui kesalahan, dan tanggung jawab menyelesaikan tugas. Menjadi mahasiswa bukan hanya tentang memperoleh nilai tinggi atau meraih gelar akademik, melainkan juga tentang membentuk karakter yang jujur dan bertanggung jawab. Dalam kehidupan bermasyarakat, etika dapat diwujudkan dengan menghormati hak orang lain, tidak menyebarkan informasi yang belum diperiksa kebenarannya, serta bersedia membantu sesama tanpa menjadikan bantuan sebagai alat untuk mencari pujian.

Dalam perbedaan pendapat, etika tampak melalui kemampuan mendengarkan, menyampaikan kritik tanpa merendahkan, dan menghargai martabat orang lain meskipun kita tidak sependapat dengannya. Tindakan-tindakan tersebut mungkin tampak sederhana, tetapi memiliki arti penting dalam membangun kepercayaan. Masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara tentang kebaikan, tetapi juga orang yang dapat dipercaya karena tindakannya sesuai dengan perkataannya.

Perubahan moral tidak harus menunggu seseorang menjadi pemimpin atau tokoh masyarakat. Setiap orang memiliki ruang untuk memulai perubahan dari dirinya sendiri, dari lingkungan keluarga, tempat belajar, dan kehidupan sosialnya. Kita sering lebih cepat menemukan kesalahan orang lain daripada menyadari kekurangan diri sendiri. Kita menuntut orang lain untuk jujur, tetapi terkadang mencari alasan ketika melakukan kesalahan.

Kita menginginkan keadilan, tetapi belum tentu bersedia memperlakukan semua orang secara adil. Karena itu, kesadaran etis menuntut kerendahan hati untuk melakukan pemeriksaan diri. Kritik terhadap masyarakat tetap penting, tetapi kritik tersebut akan lebih bermakna jika disertai kesediaan untuk menjalankan nilai yang kita perjuangkan.

Hal ini bukan berarti manusia harus menjadi sempurna sebelum berbicara tentang etika. Sebaliknya, manusia perlu menyadari bahwa dirinya juga dapat melakukan kesalahan. Yang penting adalah kesediaan mengakui kesalahan, memperbaikinya, dan tidak terus-menerus membenarkan tindakan yang keliru. Pada akhirnya, etika bukan sekadar tuntutan terhadap orang lain. Etika adalah tanggung jawab setiap manusia atas pilihan dan tindakannya sendiri.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.