Ilusi Pencapaian Seorang Sastrawan

oleh -1357 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Muhamad Pauji

Keutamaan dan kemuliaan seorang penulis (sastrawan) terletak bukan pada pencapaian akhir dari suatu ambisi dan cita-cita yang ingin diraih. Tetapi, justru dari langkah-langkah kecil yang dicapai dengan kesadaran dan ketekunan. Manusia hiper modern cenderung dididik oleh obsesi tentang hasil yang dicapai, mulai dari jabatan, gelar dan penghargaan, pengikut di media sosial, hingga kekayaan materi.

Padahal, jika penulis terlalu fokus pada hasil, dapat mempertahankan makna dari kerja keras, pembelajaran, dan perkembangan pribadi yang harusnya digeluti sepanjang hidupnya. Proses adalah tempat di mana karakter seorang penulis terbentuk, karenanya ia mendisiplinkan diri dengan ketekunan meneliti, menelaah, hingga berupaya rendah hati dan menjauhkan diri dari keangkuhan dan kesombongan.

Jika seorang penulis hanya sibuk mengejar target, menerbitkan buku sebanyak-banyaknya, maka ia telah melewatkan proses hidup yang sebenarnya indah dan unik dialami oleh setiap penulis, bahkan oleh setiap individu manusia. Menurut Duta Baca kita, Gol A Gong, jika penulis tergopoh-gopoh mengejar target dan hasil yang ingin dicapai, maka apa bedanya dengan pengusaha maupun elit politik kita, yang kebanyakan melewatkan keunikan proses hidup mereka. Bagaimana mereka dapat “menikmati proses” jika fokus hidupnya hanya tertuju pada pencapaian-capaian, dan belum tentu dapat membahagiakan mereka setelah pencapaian yang diraihnya kelak.

Jika seorang penulis fokus pada proses, maka ia akan lebih sadar diri, bahkan menyadari alam bawah sadarnya, hingga tak mau dirinya direnggut dan dibelenggu oleh kesibukan untuk mencapai sesuatu yang sebenarnya hanya ilusi duniawi dan fatamorgana belaka. Untuk itu, seorang penulis maupun sastrawan harus bisa menikmati setiap langkah kecil, bahkan mampu menghargai kegagalan sebagai bagian dari pertumbuhan dirinya.

Jangan merangkum pada ilusi pencapaian, karena kebahagiaan penulis bukan diukur dari seberapa banyak pujian dan sanjungan penggemar dan penikmat karya sastra, tetapi pada integritas dan ketekunan yang dibangun sepanjang hidup sang penulis. Karena itu, setiap individu takkan bisa mengontrol hasil yang dicapainya, tapi ia bisa mengontrol betapa pentingnya sikap bijak dan rendah hati terhadap dunia dan lingkungannya.

Ketahuilah, jika kita menelaah dan meneropong kehidupan para sastrawan besar, termasuk para peraih nobel kesusastraan dunia, sesungguhnya ketenangan batin seorang penulis tidak datang dari pencapaian besar, melainkan dari rasa syukur dan puas menjalani proses hidupnya dengan baik dan benar. Ini juga berarti kita harus belajar menghargai rutinitas harian, pekerjaan yang tampaknya membosankan, dan upaya kecil yang dilakukan secara tekun dan penuh istiqomah.

Obsesi Penulis

Sebenarnya, ketenangan bisa didapat jika penulis mampu menundukkan hasrat yang berlebihan. Ia harus mahir menguasai seni mengendalikan diri dengan baik. Karena, menghargai proses akan membuat seorang penulis lebih tahan banting secara mental. Kekuatan kesabaran di dunia yang serba cepat, dapat menjadikan penulis meraih kesuksesan tanpa harus merasa cemas dan gelisah, juga tanpa harus sibuk menyikut kiri-kanan. Tetapi, ketika ia hanya terpaku pada hasil, ia akan terus merasa hampa setelah mencapainya, karena fokusnya bukan pada pengembangan diri dan kedewasaan, melainkan pada validasi eksternal belaka.

Sebaliknya, penulis yang mampu menikmati proses, apakah dia senior maupun yunior, dia akan merasa damai dan terpuaskan dengan hasil yang diperoleh, sekecil apa pun.
Inilah esensi dan perspektif yang bijak, hingga dapat menyelamatkan generasi penulis milenial kita, dari segala tekanan dan bujuk rayu mencapai pencapaian yang gak perlu, dan gak penting-penting amat. Lagi menurut Gol A Gong, buat apa jadi penulis dan sastrawan, jika pikiran Anda tidak tenang dan damai, padahal ketenangan adalah landasan keputusan yang bijaksana, dalam profesi apapun?

Oleh karena itu, ada perlunya Anda menarik diri, agak memperlambat langkah, serta memikirkan kembali nilai-nilai kehidupan Anda sebagai penulis selama ini. Bersama tulisan ini, saya hanya mengajak kita semua, termasuk diri saya, untuk tidak sekadar menandai kotak-kotak pencapaian, tetapi untuk hidup sepenuhnya di setiap momen perjalanan kita di dunia yang super cepat ini.

Sekali lagi perlu dicamkan, bahwa proses adalah tujuan sejati yang akan membantu kita menemukan kedamaian, ketekunan, makna dan kualitas hidup yang mumpuni. Karena, jika kita menelaah dan membaca ulang penokohan dalam novel Pikiran Orang Indonesia, pada akhirnya yang lebih utama bukan tentang seberapa cepat kita sampai, tetapi seberapa cepat kita sampai, tetapi seberapa dalam kita memaknai setiap langkah dalam perjalanan hidup, bahkan seberapa tangguh kekuatan kita untuk bangkit dari kegagalan.

Ilusi pencapaian

Akhir-akhir ini, banyak penulis dan sastrawan yang terjebak dalam ilusi bahwa keberhasilan adalah hasil dari kekayaan semata. Pemikiran semacam itu hanya akan menambah mentalitas dan ketahanan seorang penulis dalam menghadapi tantangan hidupnya. Ketika seorang penulis menaruh harapan pada keberuntungan, hanya sibuk menunggu-nunggu apakah karyanya terbit atau tidak, atau bahkan, apakah royaltinya akan turun atau tidak, mereka akan mudah menyerah ketika ujian dan tantangan muncul.

Sebaliknya, ketekunan seorang penulis akan menuntut komitmen jangka panjang, fokus, dan kemampuan untuk terus bergerak maju, meskipun tidak ada jaminan keberhasilan yang bersifat sesaat dan instan.

Ia percaya bahwa dalam setiap kegagalan, ada pelajaran berharga yang dapat dipetik hikmahnya, memperkuat mental dan membentuk karakternya. Ketekunan seorang penulis adalah upaya dan kemampuan untuk tetap bertahan dalam proses yang menyakitkan dan membosankan, namun demi untuk tujuan jangka panjang yang lebih prinsip dan esensial.

Tidak ada kemenangan tanpa perjuangan, dan tidak ada pencapaian sejati tanpa sikap istiqomah dan konsistensi. Banyak tokoh besar dalam sejarah telah membuktikan bahwa ketekunan adalah kunci dari keberhasilan, bahkan dalam pepatah Arab, “Ketekunan itu lebih utama dari seribu karomah.”

Seorang Thomas Alva Edison memerlukan waktu lama, beribu-ribu kali gagal dalam menjalankan eksperimennya. Apalagi JK Rowling memerlukan waktu puluhan tahun, hingga penerbit merasa perlu menyelidiki kebenaran penulisnya, untuk segera menerbitkannya secara resmi. Rowling bukanlah penulis musiman yang hanya menuruti tren sesaat. Ia bukan tipikal sastrawan yang hanya sibuk di wilayah utak-atik pembakuan kata yang menurut selera bahasa ibu. Juga bukan seperti novelis komedi slaptik yang punya selera humor rendahan belaka. Bagi Rowling, diam dan menunggu waktu puluhan tahun, bukanlah tipikal penulis yang mengharap untung-untungan secara kebetulan semata.

Ironisnya, pencapaian penulis hiper modern saat ini, lebih mudah menyerah, dan lebih mudah memberi label “sukses” pada hasil akhir tanpa proses menghargai di baliknya. Padahal, yang seharusnya dirayakan adalah usaha yang tidak terlihat, tekun berkarya di waktu-waktu malam, berani melemparkan karyanya hingga redaksi-redaksi yang tak mau memberikan royalti, karena jauh-jauh hari sudah memahami bagaimana media sosial selalu menciptakan ilusi penyelesaian yang bersifat instan.

Banyak penulis yang terlihat sukses dalam unggahan, namun hanya sedikit yang menampilkan kerja keras, kegagalan, dan ketekunan di balik layar. Hal ini bisa memutar para penulis milenial kita, yang mudah saja mendambakan hasil cepat tanpa memahami proses panjang yang harus dilalui. Untuk itu, Hafis Azhari selaku penulis novel Pikiran Orang Indonesia selalu berpesan kepada para penulis muda di kampus Untirta Banten dan UIN Banten: “Ketekunan seorang penulis bukan semata-mata soal kerja keras, tetapi juga soal keberanian untuk tetap berdiri tegak ketika orang lain memilih mundur dan minta ampyuuun.” (*)

Penulis adalah Aktivis organisasi OI (Orang Indonesia), juga menulis prosa dan esai di berbagai media lokal dan nasional, di antaranya kompas.id , litera.co.id , espos.id, alif.id, nusantaranews.co, ruangsastra.com, Radar Mojokerto, Solopos, Banten Pos, Tangsel Pos dan lain-lain

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.