Ihwal Orang-Orang Munafik

oleh -833 Dilihat
banner 468x60

(Disarikan dari surat al-Munafiqun, ayat 1-11)

Oleh: Wawan Sanpala

Jika orang-orang munafik mendatangimu (Muhammad), lalu mereka mengakui kerasulanmu, sesungguhnya Allah tahu apa-apa yang ada dalam hati mereka, bahwa mereka itu sebenarnya para pembohong. Mereka bahkan berani bersumpah, tetapi di sisi lain mereka menghalangi manusia dari jalan kebenaran (Allah). Sungguh, buruk sekali apa-apa yang mereka lakukan. Hal tersebut dikarenakan mereka tadinya beriman, lalu berpaling, kemudian hati mereka terkunci hingga kesulitan memahami kebenaran.

Dan jika engkau melihat mereka secara sepintas, tampak begitu menawan dan mengagumkan. Dan ketika mereka bicara, kata-katanya cukup memukau. Padahal, jiwa mereka tak lebih dari sebatang kayu yang bersandar. Mereka mengira setiap perkataan ditujukan kepada dirinya. Mereka itu adalah rival sejati, maka berhati-hatilah dengan mereka. Sampai kemudian, Allah akan membinasakan mereka, karena mereka benar-benar ingkar dan berpaling dari jalan kebenaran.

Jika mereka diberi peringatan agar menuruti seruan Nabi yang dapat mengajak pada ampunan Tuhan, mereka justru berpaling dengan angkuh dan sombong. Karena itu, sama saja jika engkau memohon ampunan kepada mereka, Tuhan tidak akan memaafkannya, karena Tuhan takkan memberi petunjuk bagi orang-orang fasik.

Mereka berbisik-bisik kepada sesama pribumi (Anshar): “Lebih baik orang-orang pendatang yang ada di sisi Rasul (Muhajirin) tak usah diberi bantuan, biar mereka kesulitan mencari penghidupan, hingga berpaling dari Rasulullah.” Mereka lupa diri, bahwa milik Allah-lah segala kekayaan langit dan bumi, tetapi mereka tidak paham.

Lagi-lagi mereka berkata, “Kalau kita kembali ke Madinah, sebaiknya orang-orang yang kuat segera mengusir orang-orang yang lemah (para pendatang).” Mereka lupa diri, bahwa hakikat kekuatan hanya milik Allah, Rasul-Nya beserta orang-orang beriman. Tetapi, tetap saja orang-orang munafik itu tak mau mengerti.

Karena itu, wahai orang-orang beriman, jangan sampai harta kekayaan dan anak-anakmu membuat kamu lalai hingga melupakan hakikat keberadaan Tuhan. Jika berbuat demikian, mereka itulah orang-orang yang merugi. Maka, infakkan sebagian harta kekayaanmu di jalan Allah, sebelum ajal kematian menjemput salah seorang di antara kalian, lalu orang itu menyesal sejadi-jadinya: “Ya, Tuhanku, seandainya Kau tunda kematianku beberapa saat saja, maka pasti aku akan menyedekahkan harta kekayaanku, hingga aku termasuk ke dalam golongan orang-orang saleh.”

Tetapi, sama sekali Allah takkan menunda ajal kematian bagi siapa pun jika waktunya sudah datang. Dan Allah Maha Teliti terhadap segala hal yang telah kamu kerjakan. (*)

Penulis adalah Pengamat sosial kemasyarakatan, pengurus pusat Santri Pencinta Alam (Sanpala), berdomisili di Kota Bandung

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.