Filosofi Seba Baduy 2026

oleh -254 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Ahmad Rafiuddin

Seba Baduy adalah ritual tahunan, di mana pelaksanaannya dilangsungkan sebagai amanat leluhur agar selalu melaporkan kondisi ketertiban dan keamanan desa kepada pihak pemerintah. Filosofi ini mengindikasikan manusia sebagai makhluk sosial yang memiliki tanggung jawab untuk menjalin komunikasi dengan otoritas yang lebih luas. Perjalanan ratusan kilometer dari wilayah Baduy menuju kabupaten Lebak dan provinsi Banten, tak ubahnya menyelaraskan energi tubuh dengan denyut nadi bumi yang mereka pijak.

Upacara Seba Baduy menjadi media untuk menyampaikan pesan-pesan konservasi lingkungan kepada para pemimpin negara, yang mereka namakan “Bapak Gede”. Orang-orang Baduy memiliki kepercayaan pada lingkungannya sebagai jagat mikro yang mencerminkan keseluruhan semesta raya. Tak ubahnya seperti tubuh manusia, ketika salah satu anggota tubuh merasakan sakit, maka keseluruhan tubuh akan merasakan dampaknya. Filosofi ini menunjukkan bahwa Suku Baduy memiliki sifat “welas asih” dan tidak hanya memikirkan keselamatan komunitasnya sendiri.

Sambil mendampingi Bupati Lebak dan Ketua Umum Grib Jaya, Hercules, beberapa waktu lalu saya menyaksikan langsung bagaimana keyakinan warga Baduy (Banten) yang menunjukkan bahwa alam dan lingkungan telah memberikan kecukupan, jika dikelola dengan cara-cara baik dan benar. Pesan ini bersifat universal dan sangat relevan dengan konteks kekinian, terutama yang terkait perubahan iklim yang dihadapi masyarakat modern saat ini.

Dalam pelaksanaan teknis, peran Jaro atau Puun (kepala desa) sebagai juru bicara di depan pemerintah, menyampaikan laporan mengenai hasil panen, kesehatan warga, termasuk pesan perlindungan hutan dan gunung di sekitar Banten. Hasil bumi yang diserahkan berupa padi huma, umbi-umbian, pisang, gula aren, hingga laksa (sejenis mie dari tepung beras). Laksa dibuat melalui proses panjang yang melibatkan doa dan rasa syukur seluruh warga Kanekes atas keberhasilan panen padi. Penyerahan hasil bumi ini bukanlah upeti paksaan, melainkan bentuk penghormatan dan penghargaan rakyat kepada pemimpinnya.

Bagi masyarakat Baduy, seluruh alam semesta hidup dalam harmoni dan keselarasan. Demikian halnya dengan padi dan umbi-umbian yang ditanam, yang memerlukan proses waktu bagi pertumbuhannya. Beberapa waktu lalu, saya juga mendampingi Gus Fahmi Hadziq, cucu Syekh Hasyim Asy’ari (Jombang) melakukan perjalanan sejauh puluhan kilometer menuju Baduy Dalam. Kami membaca, bahwa sistem kesemestaan di wilayah Baduy, seakan serempak menikmati prosesnya dengan baik. Semuanya berjalan sesuai fungsi dan kodratnya yang alami, selaras sunnatullah.

Tampaknya, memang tatanan sistem di alam raya ini berjalan serba santai, tidak terburu-buru, tetapi toh semuanya mencapai hasil akhir. Semesta juga tidak bekerja serba panik dan tergopoh-gopoh, tak merasa perlu untuk menyalip yang lainnya agar segera sampai. Mereka serempak menghargai proses, bahkan tanaman juga tidak memaksakan diri berbuah lebih cepat.

Sinar mentari tampak tenang membagikan cahayanya, meskipun awan-awan kadang menutupinya. Bahkan, air jernih mengalir dari perbukitan dan pegunungan Baduy, serta rela menunggu celah bebatuan agar terus mengalir menuju sungai hingga mencapai muaranya di Laut Selatan. Semuanya berjalan sesuai hukum kosmos, dalam ritme-ritme yang teratur, tenang, namun serba pasti. Segala sistem keteraturan alam menunjukkan, bahwa hakikat gerak dan kehidupan di jagat raya ini, bukan tentang seberapa cepat kita sampai ke tujuan, tetapi bagaimana kita mampu berselaras dengan irama alam semesta.

Rasulullah pernah menyatakan, jika manusia bisa menikmati hidup di hari ini dengan tenang, bersama keluarga yang sehat walafiat, sesungguhnya ia telah memiliki seluruh alam raya ini. Inilah yang disebut “qana’ah” bahwa dengan menikmati hidup apa adanya, sambil mensyukuri rizki yang dianugerahkan kepada kita, sejatinya kita adalah manusia yang sanggup menggenggam alam semesta ini.

Saat ini, ketika ambisi dan notifikasi memengaruhi gaya hidup yang menimbulkan degradasi, maka selayaknya kita bercermin pada kehidupan warga Baduy yang sanggup mempercayai proses, tidak terburu-buru, karena pada akhirnya, sehebat apapun rencana manusia toh harus dikembalikan pada agenda Tuhan Yang Maha Menguasai rencana dengan pasti.

Kebanyakan manusia hiper modern ingin segera mencapai garis akhir, dengan menjalani proses yang menghalalkan segala cara. Kadang kita mendengar orasi-orasi dari Gen Z yang memberi motivasi begitu optimis bahwa, “Perjuangan kita untuk berproses tak akan mengkhianati hasil!” Hanya masalahnya, Anda harus selalu terkoneksi dengan rahmat dan kasih sayang Tuhan. Sebab, proses sehebat apa pun jika Allah belum menghendaki, maka Anda harus melatih diri agar mengenal arti sabar dan syukur terlebih dahulu. (*)

Penulis adalah Pengasuh Ponpes Tebuireng 09 (Nurul Falah), Rangkasbitung, Lebak (Banten), juga penulis buku best seller “Marwah Pesantren”

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.