Oleh: Ahmad Rafiuddin
Selama ini, banyak orang bertahan dengan pendapatnya bahwa disebut “kaya” identik dengan hidup mewah dan berkelimpahan. Orang cenderung mengejar target-target kemewahan yang dapat dipandang secara kasatmata, seperti rumah megah, mobil mewah, liburan wisata yang wah, serta ponsel merk terbaru yang langka. Padahal, dalam konsep Islam, kekayaan itu identik dengan kemampuan untuk merampingkan urusan, serta menyederhanakan kebutuhan, dan bukan dengan memperbanyak pundi dan kepemilikan.
Konsep kesederhanaan juga tak lepas dari adagium bijak, bahwa hidup miskin dan apa adanya, jauh lebih baik daripada hidup kaya tetapi selalu dirundung kegelisahan. Meski begitu, kebanyakan orang di era hiper modern ini, sering terjebak ke dalam pola pikir bahwa semakin banyak yang dimiliki, seolah semakin aman dan bahagia hidupnya. Padahal, semakin banyak yang kita miliki, semakin disibukkan oleh kebutuhan untuk menjaga dan merawat, serta semakin dirundung rasa takut dan khawatir.
Rumah megah harus dirawat dan dijaga, mobil mewah harus diasuransikan, gawai canggih takut jatuh dan cepat rusak. Hal tersebut bukan membuat si pemiliknya merasa nyaman dan terbebaskan, tetapi justru merasa diperbudak untuk selalu menjaganya.
Imam Ali bin Abi Thalib mengajarkan kita, bahwa kekayaan batin terletak pada kemandirian dan kesederhanaan akan keinginan. Ironisnya, negeri yang mayoritas penduduknya muslim ini, seakan masih terpaku pada pola pikir, bahwa kesuksesan mesti diraih berdasarkan angka-angka, seperti jumlah pengikut, gaji bulanan, ukuran rumah dan bagusnya kendaraan. Jika kita ingin selalu lebih dan lebih, lantas kapan kita akan berhenti menginginkan sesuatu?
Padahal, orang yang terus merasa kurang, meski memiliki segalanya, tetap saja hidupnya merasa miskin dan kekurangan. Untuk itu, Hasan al-Bashri, seorang Tabi’in pasca kenabian Muhammad, pernah berpendapat, bahwa kekayaan materi adalah budaknya orang alim, serta tuan bagi orang-orang bodoh. Menurutnya, banyak penderitaan manusia justru bukan berasal dari kekurangan, tetapi dari ambisi dan obsesi yang tak terkendali, dan tak berkesudahan.
Ajaran Islam
Terkait dengan itu, Islam mengajarkan, bahwa manusia sejati tidaklah mengandalkan faktor eksternal untuk mendapatkan kebahagiaan, karena apa-apa yang kita miliki hakikatnya adalah titipan dan bukan milik kita. Bagaimanapun, kekayaan uang dan materi bisa habis dan hilang. Mobil bisa rusak, kesehatan tubuh juga bisa memburuk, bahkan peninggalan kekayaan bisa diambil-alih kepada ahli warisnya.
Coba bandingkan, satu keluarga hidup di rumah kecil dan sederhana, pendapatan pas-pasan, namun bisa hidup tenang, damai, punya waktu untuk keluarga, dan jarang stres. Sementara keluarga lainnya tinggal di rumah megah, mobil mewah, karier cemerlang, tetapi selalu dirundung gelisah karena cicilan, tekanan kerja, dan tak punya waktu menikmati hidup. Siapa yang lebih kaya di antara keduanya?
Saat ini, kebanyakan muda-mudi dininabobokan oleh kemewahan hidup kaum selebritas, influencer, dan bahkan teman sebaya yang tampak hidup sempurna dan berkimpah. Ini menciptakan tekanan sosial yang membuat mereka merasa kurang dan selalu ingin lebih. Padahal, keinginan dan kehendak yang tak terkendali, justru akan membawa penderitaan yang tak berujung. Percayalah, semakin Anda ingin terlihat seperti orang lain, tampak wah dan keren, semakin Anda kehilangan jati diri dan ketenangan batin.
Hidup sederhana dan tak mudah tergoda impresi luar, sebenarnya ajaran kuno dalam peradaban manusia, yang justru banyak ditinggalkan oleh manusia hiper modern yang mengejar target dan segala ilusi keberhasilan. Padahal, kesederhanaan hidup yang banyak diteladani para sahabat Nabi hingga generasi tabi’it tabi’in, merupakan panduan praktis untuk hidup sehat secara mental di zaman yang penuh distraksi ini. Untuk itu, selayaknya kita rehat sejenak, berpetualang ke dalam diri, dan mulai mengubah cara pandang terhadap kekayaan. Karena sejatinya, bahagia bukan soal apa yang kita punya, tetapi bagaimana kita melihat, menikmati, dan mensyukurinya.
Mereka yang mengandalkan harta kekayaan, pada hakikatnya adalah orang-orang senewen yang tertipu oleh ilusi. Ketergantungan manusia pada harta dan kepemilikan, membuat pikirannya tumpul dan tidak reflektif. Karena, banyak hal yang terlihat nyata oleh indra, ternyata hanya ilusi dan fatamorgana yang tak membahagiakan.
Ajaran Tasawuf
Kaum sufi dari zaman ke zaman, senantiasa mengajarkan kita agar tidak cepat mempercayai segala hal yang tampak, melainkan harus mempertanyakan dan menganalisisnya melalui indra batin. Dengan demikian, pencarian akan kedamaian batin tidak akan berhenti di permukaan, atau pada nilai kekayaan materi yang banyak, tetapi menggali lebih dalam hingga mencapai kepastian yang sesuai nalar dan akal sehat.
Di era digital yang sarat disinformasi dan manipulasi virtual, ketergantungan pada informasi sensorik tanpa verifikasi akal bisa menjerumuskan banyak orang pada kesesatan. Media sosial sering menampilkan potret kehidupan yang tampak glamor dan megah, padahal kenyataannya hanya “sampah” yang memperdayakan.
Tanpa akal yang kritis, seseorang bisa terjebak ke dalam ilusi yang dibentuk oleh dunia maya. Untuk itu, melalui perenungan mendalam dan pemanfaatan akal secara maksimal, manusia dapat membebaskan diri dari tipuan maya yang meninabobokan, agar dapat mencapai pemahaman tentang arti kedamaian dan kebahagiaan sejati.
Sikap kritis terhadap indra dan tipuan maya, bukan berarti menolak fakta empiris sepenuhnya, melainkan mengajarkan bahwa segala kebenaran dan kesejatian perlu untuk dikaji ulang oleh bangsa ini. Dengan mempertanyakan validitas indra, kita akan sampai pada transformasi spiritual sekaligus revolusi pemikiran yang menghasilkan kemajuan dalam ilmu, teknologi, dan etika. Sekarang semua bangsa sedang berlomba-lomba berhijrah, dari manusia jasmani menuju manusia rohani.
Sekali lagi, perlu dicamkan bersama, bahwa tidak semua yang tampak itu benar, dan tidak semua yang tidak terlihat berarti tidak ada. Kebenaran tidak boleh diukur dari apa yang ditangkap oleh indra mata semata, tetapi dari apa yang dipahami oleh akal pikiran yang jernih. Mereka yang mengandalkan indra dalam memandang kekayaan dan popularitas duniawi, sebenarnya sedang tertipu oleh ilusi mereka sendiri. ***
Penulis adalah Pengasuh Ponpes Nurul Falah (Tebuireng 09), di Rangkasbitung, Banten, juga penulis esai di berbagai media luring dan daring.









