Doa Rosario sebagai Model Pembentukan Makna Hidup di Tengah Krisis Makna pada Era Media Sosial

oleh -55 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Babtista Zakarias Siki

Dunia merupakan tempat bagi manusia untuk selalu eksis. Manusia masa kini dapat dikatakan mulai dan telah hidup dalam dua dunia. Dunia yang nyata/reel dan dunia maya (dunia media sosial). Dunia media sosial ada sebagai suatu ruang baru, sekaligus menjadi representasi dari dunia yang nyata. Dunia media sosial kerap kali dilihat hampir sama, baik keberadaannya, aktivitas manusianya, dan lain sebagainya dengan dunia yang nyata. Di dalam dunia media sosial ini, manusia kerap kali kehilangan makna hidupnya, ketika dirinya lebih mengidentikkan kehadirannya di dalam dunia media sosial sebagai dirinya yang benar-benar hadir secara fisik seperti yang ada dalam dunia nyata. Padahal, di dalam dunia media sosial ini, Ia tidak lagi hadir sebagai suatu makhluk yang nyata secara fisik, melainkan manusia yang hadir sebagai bentuk dari representasi diri di dalam ruang digital.

Di dalam dunia media sosial, identitas diri setiap individu lebih sering dibentuk oleh like, komen, share, dan lain sebagainya. Terkadang, hal inilah yang menjadi suatu barometer untuk mengukur sebuah aktualisasi dari otentisitas diri setiap individu dan sebagai bentuk penghadiran makna hidup setiap individu. Akibatnya, dirinya didorong untuk selalu hadir di dalam dunia media sosial. Namun, status keberadaannya di dalam dunia media sosial sesungguhnya tidak punya arah dan tujuan hidup yang jelas. Di sisi lain, mungkin arah dan tujuan hidupnya punya kejelasan, akan tetapi apakah arah dan tujuan hidupnya itu benar-benar mengandung suatu kejelasan ataukah sesungguhnya hal itu hanyalah bentuk dari pengisian terhadap suatu kekosongan di dalam pencarian akan makna hidupnya? Dengan kata lain, pengisian sementara akibat pelarian dari pencarian akan makna hidup di dalam dunia nyata yang belum sempat ditemukan.

Ketika manusia sudah mulai kecanduan untuk selalu hadir di dalam dunia media sosial, hal tersebut justru akan membuatnya terus terikat dengan media sosial. Kehadirannya di dalam dunia media sosial menutup kemungkinan akan adanya tuntutan untuk selalu bertanya pada dirinya sendiri tentang pertanyaan-pertanyaan eksistensial, seperti : bagaimana saya ada di dalam dunia media sosial?”, mengapa saya harus hadir di dunia media sosial? dan untuk tujuan apakah kehadiran saya di dalam dunia media sosial? pertanyaan-pertanyaan ini yang seharusnya menjadi fondasi bagi pegangan hidup setiap individu untuk bisa mencapai suatu makna di dalam kehidupan, kini justru secara tidak langsung telah hilang dan lenyap ketika kecanduan untuk mendapatkan validasi publik dijadikan prioritas utama.

Melihat fenomena ini, setiap kita sebagai individu yang hidup dalam pencarian akan suatu makna bagi kehidupan kita sendiri dipanggil dan diarahkan untuk mengambil jarak dari dunia media sosial dan masuk ke dalam ruang kehidupan yang benar-benar nyata demi membentuk suatu makna hidup yang lebih otentik. Pengambilan jarak untuk selalu eksis di dalam media sosial bukan berarti media sosial tidak lagi digunakan, melainkan penggunaan media sosial mulai dibatasi dan diberikan waktu atau batasan dalam menghadirkan diri di dalam dunianya. Oleh karena itu, dalam mengahadapi tantangan penggunaan media sosial ini dibutuhkan suatu ruang refleksi untuk menghindari tekanan akan rasa lapar terhadap validasi publik yang menghilangkan makna hidup setiap individu. Dalam konteks inilah, peran praktik spiritual mendapat posisi yang penting dalam penghadiran makna hidup yang lebih otentik. Salah satu praktik spiritual yang dipakai adalah doa rosario.

Fenomena tentang tantangan akan suatu krisis makna hidup di era media sosial, tentunya juga tidak terlepas dalam relevansinya dengan konteks masyarakat NTT. Masyarakat yang terkenal dengan praktik religiusnya secara khusus praktik religius agama katolik yang sangat kental. Akan tetapi, semakin berkembangnya teknologi dan dunia digital yang begitu luas, hal tersebut justru mempengaruhi sebagian generasi muda yang berada di NTT yang mana media sosial mulai mempengaruhi gaya hidup mereka, baik dalam relasi mereka dengan diri mereka sendiri, relasi mereka dengan sesama, maupun relasi mereka dengan Tuhannya sendiri.

Hal ini menjadi suatu masalah yang serius akibat dominasi validasi publik yang hadir dalam kehidupan mereka mengakibatkan sebagian generasi muda mengalami krisis makna hidup dalam kehidupannya sendiri. Dalam menghadapi situasi yang tidak baik-baik saja seperti ini, praktik spiritual yang telah mengakar dalam kehidupan budaya masyarakat NTT kembali mendapat peran sentral bagi sebagian generasi untuk kembali menemukan makna hidup mereka, yakni melalui doa rosario.

Doa rosario merupakan suatu praktik doa devosional kepada Maria yang telah berlangsung selama berabad-abad melalui suatu proses dinamika sejarah yang panjang. Sebagian orang kerap kali berpikir bahwa ketika berdoa rosario berarti umat katolik berdoa kepada Bunda Maria dan hal tersebut secara tidak langsung telah mengabaikan peran Yesus yang adalah Sang Penyelamat itu sendiri. Padahal, kenyataanya tidaklah demikian. Justru bersama dengan Bunda Maria, umat katolik diajak untuk berpartisipasi dalam harapan akan keselamatan yang datang dari Yesus.

Melalui doa rosario, setiap individu mengalami suatu perjalanan bersama Yesus menuju sebuah misteri keselamatan dan Maria sebagai sosok yang menghantar umat katolik kepada Putra-nya. Jadi, Doa rosario merupakan ruang atau tempat bagi kita untuk berpartisipasi di dalam misteri keselamatan melalui perjalanan hidup Yesus dan kehadiran Maria sebagai sosok yang mengarahkan umat untuk tertuju kepada Putra-nya yang tergambar di dalam rangkaian peristiwa-peristiwa rosario (peristiwa: gembira, terang, sedih, dan mulia). Paus Yohanes Paulus II dalam seri dokumen gerejawi Nomor 63 tentang Rosarium Virginis Mariae (Rosario Perawan Maria) mengatakan bahwa, “dengan doa rosario orang kristiani berguru di sekolah Maria: mereka dilatih untuk menatap keindahan wajah Kristus dan mengalami kedalaman kasih-Nya”.

Lantas kita pun bertanya, bagaimana doa rosario dapat menjadi model dalam pembentukan makna hidup? Doa rosario menjadi model pembentukan makna hidup ketika setiap individu mengambil jarak dari kesibukan dalam partisipasi di dalam dunia media sosial dan mulai mengambil bagian dalam kontemplasi sambil mendaraskan doa rosario. Setiap individu dengan kesadarannya masuk kedalam setiap misteri yang ada di dalam doa rosario dan mulai berjalan bersama Yesus dan Maria di dalam darasan doa-doa tersebut, seperti halnya:

Pertama, di dalam peristiwa gembira, Setiap individu menyadari akan kehadirannya di dunia bukan karena dirinya ada begitu saja, melainkan karena dirinya di adakan oleh sesuatu yang melampaui segala yang ada, yakni Tuhan dan setiap individu hadir dengan penuh keterbukaan untuk menerima dirinya sebagai makhluk yang dilahirkan dengan memiliki tujuan hidup yang telah ditentukan sebelumnya, maka ia dituntut untuk berjalan sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Tuhan;

Kedua, di dalam peristiwa terang, setiap individu menyadari akan kehadirannya sebagai makhluk yang tidak berada sendirian di dalam dunia, melainkan ia hidup bersama dengan orang lain. oleh karena itu, dirinya diarahkan untuk selalu membangun relasi dengan orang lain secara nyata dalam dunia yang reel dan dirinya dituntut untuk selalu hidup saling membantu satu sama lain, sebab makna hidupnya terbentuk melalui relasinya dengan sesamanya;

Ketiga, di dalam peristiwa sedih, setiap individu menyadari bahwa hidup tidak pernah terlepas dari sebuah penderitaan. Penderitaan menjadi awal bagi hadirnya suatu pengharan akan sebuah kebahagiaan. Penderitaan hadir sebagai suatu bentuk cobaan terhadap kesetiaan, baik terhadap Tuhan maupun sesamanya. Jadi, penderitaan bukanlah sebuah ancaman yang akan membuat seseorang kehilangan makna hidupnya, melainkan penderitaan adalah sebuah jalan yang menghantar setiap individu pada makna hidup yang sesungguhnya, yakni hidup adalah sebuah perjuangan untuk tetap bertahan di dalam setiap ancaman yang datang;

Keempat, di dalam peristiwa mulia, setiap individu diarahkan untuk melihat bahwa sesungguhnya harapannya akan suatu kebahagiaan bukanlah suatu harapan yang penuh kekosongan melainkan suatu harapan yang akan berpangkal pada kebahagiaan sejati. Kebahagiaan yang didapatkan dalam perjuangannya melawan derasnya ancaman kehidupan yang menghampiri dirinya.

Dengan demikian, doa rosario bukanlah suatu rangkaian doa yang terlihat biasa-biasa saja dan kaku seperti pandangann sebagian orang, melainkan doa rosario dapat menghadirkan suatu makna hidup yang sesungguhnya melalui suatu partisipasi dan perjuangan di dalam hidupnya dalam pengambilan peran secara langsung atau dalam keterlibatan secara langsung di dalam kelahiran, kehadiran di antara sesama, penderitaan yang menghadirkan pengharapan, dan pada akhirnya mendapatkan hasil kebahagiaan sejati yang lahir dalam perjuangannya.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.