Demam di Planet yang Memanas: Saatnya Mitigasi Kesehatan Masuk Agenda Iklim

oleh -1701 Dilihat
banner 468x60

Oleh: William Wilfridus Lamawuran

Di tengah pemanasan global yang terus melaju, dunia tidak hanya menghadapi naiknya permukaan laut, tetapi juga naiknya jumlah penderita penyakit. Perubahan iklim bukan sekadar isu lingkungan, tapi krisis kesehatan yang mendesak. WHO telah lama memperingatkan bahwa kesehatan manusia sangat rentan terhadap iklim yang berubah—dan bukti-buktinya semakin nyata.

Dari malaria yang naik ke dataran tinggi, dengue yang meledak di kota-kota, hingga gelombang panas yang memicu serangan jantung dan stroke, peta penyakit global perlahan namun pasti sedang bergeser. Bahkan penyakit menular baru seperti Covid-19, yang diduga berkaitan dengan perubahan habitat satwa liar, memberi sinyal bahwa perubahan ekosistem global bisa memicu krisis kesehatan lintas batas.

Tak usah jauh-jauh. Di Indonesia, kita sudah melihat bagaimana DBD tak lagi mengenal musim, atau bagaimana malaria tetap betah di daerah pegunungan. Pola cuaca yang makin tak menentu mengacaukan prediksi penyakit, dan membuat sistem kesehatan kita gagap dalam bersiap.

Air yang meluap saat banjir bukan cuma merendam rumah, tapi juga membawa bakteri dan parasit yang menyebabkan diare, leptospirosis, sampai kolera. Sementara itu, suhu yang kian panas mempercepat pembusukan makanan dan menyuburkan bakteri seperti Salmonella. Belum lagi potensi kemunculan penyakit baru dari hewan liar akibat deforestasi dan pergeseran ekosistem.

Kita juga harus ingat bahwa tak semua penyakit akibat iklim bisa menular. Polusi udara akibat kebakaran hutan dan emisi kendaraan telah menjadi racun harian yang menggerogoti paru-paru kita. Serangan jantung dan stroke meningkat saat gelombang panas datang. Dan di balik semua itu, ada stres, trauma, dan gangguan mental yang makin menghantui, terutama setelah orang kehilangan rumah, ladang, atau rasa aman karena bencana.

Lalu ada cerita lama yang makin sering kita dengar: panen gagal, harga naik, anak-anak kurus karena kurang gizi. Kekeringan panjang dan perubahan pola tanam membuat krisis pangan menjadi nyata. Dan ketika perut kosong, tubuh menjadi makin rentan diserang penyakit.

Yang jadi persoalan besar adalah: tidak semua orang punya daya tahan yang sama. Lansia tak kuat menghadapi panas ekstrem. Anak-anak lebih mudah sakit saat air bersih tak tersedia. Dan perempuan—yang sering jadi penjaga rumah dan dapur—harus menghadapi tantangan ganda saat air langka, pangan tak cukup, dan keluarga jatuh sakit.
Ini bukan sekadar soal cuaca. Ini soal keadilan. Karena yang paling sedikit menyumbang emisi, justru yang paling dulu kena dampaknya.

Mitigasi perubahan iklim bisa sekaligus menjadi langkah penyelamatan kesehatan. Mendorong kendaraan listrik atau jalur sepeda, misalnya, bukan hanya menurunkan emisi—tapi juga mengurangi polusi dan memperkuat jantung masyarakat kota.

Investasi energi bersih di desa-desa bukan cuma urusan listrik murah, tapi soal mencegah pneumonia akibat asap dapur. Dan jika kita bisa menghubungkan data iklim, curah hujan, dan suhu dengan sistem kewaspadaan dini penyakit, kita bisa mencegah wabah sebelum meledak.

Sistem kesehatan yang tangguh terhadap iklim bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan. Kita butuh lebih dari sekadar rumah sakit—kita perlu early warning system, infrastruktur sanitasi yang tahan banjir, dan tenaga kesehatan yang paham perubahan iklim.

Indonesia memang sudah punya Rencana Aksi Adaptasi Kesehatan terhadap Perubahan Iklim. Tapi dokumen kebijakan tak akan menyelamatkan nyawa jika tidak diterjemahkan dalam program nyata: anggaran di desa, pelatihan petugas puskesmas, pembangunan sistem surveilans penyakit, dan pelibatan warga lokal dalam adaptasi.

Ilmu pengetahuan dan teknologi bisa membantu, tapi jangan lupa pengetahuan lokal dan kearifan komunitas juga punya peran besar dalam menjaga ekosistem dan kesehatan masyarakat.

Bumi memang sedang demam. Tapi tubuh yang sakit ini masih bisa disembuhkan. Mitigasi iklim yang berpihak pada kesehatan adalah jalan tengah yang masuk akal dan manusiawi. Kita tak bisa lagi melihat perubahan iklim hanya sebagai urusan lingkungan, ekonomi, atau energi—karena yang dipertaruhkan adalah kehidupan kita sendiri.

Saat bumi menggigil, mari kita jangan cuma menyalahkan cuaca. Mari bertindak. Karena menyelamatkan iklim artinya menyelamatkan manusia—terutama yang paling lemah di antara kita.

Penulis adalah Akademisi dan Pemerhati Lingkungan Hidup

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.