Dari Westerling, Soeharto hingga Joko Widodo

oleh -319 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Chudori Sukra

“Kekuasaan di negeri mana pun dari zaman ke zaman, yang mengawali pendiriannya dengan dendam dan kebohongan, kelak akan melangkah dengan pertentangan yang tak berkesudahan.” (Hafis Azhari, penulis novel Pikiran Orang Indonesia)

Dua dekade lalu, ketika Presiden Barack Obama memimpin Amerika Serikat, Donald Trump sudah menjadi orang kaya, tetapi dia belum tergolong VIP jika kumpul-kumpul bersama wartawan di Ballroom Hotel Hilton. Dia pernah mengikuti acara yang dihadiri sekitar 2500 undangan, dan diselenggarakan oleh White House Correspondents Association. Trump hadir dan hanya duduk di bangku tengah, namun ciri khas rambutnya yang berwarna keemasan cukup mencolok di mata para hadirin.

Di acara tersebut, perusahaan media mengundang relasi masing-masing untuk mengisi meja-meja yang tersedia. Itulah acara makan malam tahunan, bersama wartawan Gedung Putih yang sangat fenomenal. Tema tiap tahunnya selalu menarik, apalagi ketika tampil beberapa komedian menggojlok para elit politik, termasuk presiden dan para anggota parlemen yang bermasalah.

Malam itu, Presiden Obama digoreng habis-habisan sebagai ras kulit hitam yang kecerdasannya dilecehkan di bawah rata-rata, lalu giliran Obama tampil ke podium untuk menanggapi, atau menambah permasalahan baru dengan mengolok-olok siapa pun yang pantas ditertawakan. Hampir semua presiden hadir di acara tersebut, apalagi Obama yang memiliki selera humor tinggi, tiap tahun tak keberatan menghadiri acara-acara menyegarkan seperti itu.

Di akhir masa jabatannya, Obama pernah menggoreng Trump yang duduk nyempil di tengah undangan: “Mana mungkin laki-laki yang suka memakai wig dari logam emas, bisa memimpin Amerika Serikat?” Selama beberapa menit dia mengolok-olok Trump, yang diramaikan oleh gelak tawa ratusan wartawan.

Tetapi, Trump saat itu tidak mau tertawa, bahkan senyum pun tidak. Barangkali dia lamban berpikir atau belum nyambung apa yang dimaksudkan Presiden Obama.

Mungkin itulah yang membuat Trump tak pernah mau menghadiri acara makan malam bersama wartawan Gedung Putih. Bahkan, selama menjabat presiden AS periode pertama, Trump terang-terangan mengaku “membenci” acara tersebut.

Riwayat Westerling

Westerling dulunya merasa diperlakukan tidak adil oleh pendudukan NAZI Jerman di wilayah Belanda. Ironisnya, dia mempunyai ayah kandung yang mendukung pendudukan NAZI atas negerinya. Secara ideologis, jelas ia berseberangan dengan ideologi ayahnya, hingga kemudian ia hengkang dari negeri Belanda untuk bergabung dengan kesatuan militer bernama Depot Speciale Troepen(DST), suatu pasukan khusus di bawah KNIL, di mana penguasa Orde Baru (Soeharto) pernah pula bekerja sebagai tantara muda di lembaga milik Belanda tersebut.

Sampai kemudian di tahun 1946, para pasukan DST berhadapan langsung dengan para pejuang Indonesia yang telah memproklamasikan kemerdekaannya setahun yang lalu.

Dalam tubuh DST terdapat pasukan-pasukan inti yang merupakan gabungan militer Belanda, militer Indo-Eropa dari Maluku, serta militer KNIL sendiri. Konsekuensinya, para pejuang republik yang mereka sebut “teroris” sudah hidup dalam imajinasi Westerling yang berseberangan dengan paham ayahnya, hingga mereka disejajarkan sebagai pendukung-pendukung NAZI Jerman.            

Jadi, sejak kedatangannya ke Nusantara, Westerling sudah menyandang dendam-kesumat terhadap lawan politiknya. Ia menyimak pidato-pidato komandan militer yang mengompori tentara Belanda, bahwa para pejuang Indonesia adalah teroris-teroris hasil didikan tentara-tentara fasisme (NAZI) Jepang. Dengan dalih ingin menegakkan stabilitas keamanan, dari gangguan tentara pribumi yang dipengaruhi fasisme NAZI, pasukan di bawah komando Westerling kemudian menangkapi dan membunuhi para pejuang RI yang diklaim selaku teroris dan pemberontak.

Saat itu, pihak Belanda juga memakai istilah Gerakan Pengaco Keamanan, yang di kemudian hari dipakai kembali oleh militerisme Orde Baru (tanpa disadari) dengan menggunakan istilah yang sama, Gerakan Pengacau Keamanan (GPK).

“Kalian tak mungkin sanggup memerintah negeri sendiri. Kami datang untuk menolong dan menyelamatkan kalian. Kami datang untuk memberi pencerahan dan memberdayakan kalian. Ya, kami datang kembali ke Hindia Belanda ini, karena kami lebih tahu apa yang terbaik bagi hidup kalian!” demikian pidato sang komandan DST, sepulangnya tentara Jepang dari tanah Indonesia.

Tampak sekali, seakan ada niatan baik yang diselubungi jubah suci untuk membenarkan aksi-aksi kolonial mereka. Kata-kata klise semacam itu menunjukkan bahwa kolonialisme, sudah berurat berakar pada hasrat dan ambisi penguasa yang sengaja ingin menggalakkan ekspolitasi manusia atas manusia lain. Mereka ingin melestarikan kesenjangan sosial, dengan memecah-belah peran dan fungsi sang tuan dari budak-budaknya.

Kita bisa juga menyebut sikap ini sebagai primordialisme atau bahkan rasisme, yang menjadi pangkal problem kemanusiaan hingga hari ini. Meskipun mereka berdalih kolonialisme telah dihapuskan dari muka bumi ini, tetapi software-nya, paradigmanya, state of mind-nya tetap saja bagaikan musang-musang yang memakai bulu-bulu domba. Perilakunya tetap seperti musang meskipun sudah mengenakan baju dan jubah mentereng berkilauan, seakan indah dipandang mata.

Pada prinsipnya, sambil memendam amarah dan kebencian pada ayahnya yang mendukung NAZI Jerman, Westerling ingin membebaskan diri dari bayang-bayang sang ayah, tetapi kemudian menjelma menjadi monster baru yang memiliki karakter dan perangai yang sama.

Demikian pula yang dilakukan Orde Baru bebrapa dekade kemudian, yang akhirnya tega menangkapi para aktivis, bahkan terlibat dalam penumpasan para wartawan, aktivis buruh, seniman, aktivis HAM, hingga penembakan dan pembunuhan Hakim Agung Syafiudin Kartasasmita atas perintah salah seorang Putera Cendana yang ingin mencalonkan diri selaku Presiden RI dengan partai baru yang disokongnya.

Anti Orde Baru

Dendam kesumat Trump maupun Westerling, tampak selaras dengan penguasa mana pun yang awalnya bersikap ekstrim terhadap status quo, namun kemudian hawa nafsunya tak tertahankan untuk menjadi kekuatan ekstrim baru. Untuk itu, berhati-hatilah terhadap kelompok (orang) yang tadinya anti komunis, lalu ketika kekuasaan berada di tangannya tiba-tiba dia menjelma sebagai komunisme baru. Begitu pun dengan mereka yang anti kapitalis, tahu-tahu dia memiliki hasrat terselubung untuk menjadi sosok kapitalisme baru.

Pada prinsipnya, baik perjuangan kapitalisme maupun komunisme sama-sama telah mengorbankan negara-negara dunia ketiga, karena niat-niat awalnya bukan pada upaya yang tulus untuk mengatasi masalah kemiskinan dan keterbelakangan di dunia ini. Tampak jelas selama beberapa dekade ini, ketika dalam pertarungan komunisme dinyatakan “kalah”, namun bila persoalan mendasar dari masalah bumi-manusia dipandang secara serius dan jujur, maka harus diakui bahwa negara-negara kapitalis yang diorganisasi dengan orientasi pasar bebas pun tidak sanggup menjawab pertanyaan-pertanyaan dari sistem pasar itu sendiri.

Sebenarnya, yang menentukan arah kompas dari kedua sistem itu, tak lain adalah dunia budaya industrial; usaha pertambahan yang terus menerus dari penyediaan barang-barang; yang dengan sendirinya dibutuhkan penambahan pelayanan material. Jadi, perbedaan mereka bukanlah pada sasaran dalam mengatasi persoalan bangsa dan bumi manusia, tetapi hanya pada cara dan jalan yang mereka tempuh. Padahal, persoalan yang sangat mendasar (dan mendesak) bagi kepentingan hari ini dan mendatang, justru terletak pada urgensinya sasaran tersebut.

Jika pun pemerintah menamakan sistemnya dengan “demokrasi” yang membela HAM, namun jika perangainya bersikap ekstrim atau phobia terhadap sesuatu yang menjadi tandingannya, maka mentalitasnya tetap akan jatuh kepada regierbarkei (suatu istilah Jerman) yang artinya “yang penting bisa diatur”. Sampai kemudian ketika muncul kesadaran baru, mereka akan terjerumus pada anarki besar-besaran, yang membuat hati mendidih penuh dendam, hingga menimbulkan perang dan terorisme seperti yang sedang terjadi dan semakin memanas saat ini.

Trump dan Jokowi

Di Indonesia, sejak tahun 1965 kita memiliki dua organisasi besar yang anggotanya sudah mencapai tingkat ranting di kecamatan hingga pedesaan, yakni Angkatan Darat (AD) dan Partai Komunis Indonesia (PKI). Tiga lembaga organisasi keagamaan seperti NU, Muhammadiyah hingga Persis (meskipun cukup besar), belum mencapai kepengurusan hingga ke tingkat ranting dan daerah.

Menurut pengakuan Pramoedya Ananta Toer kepada penulis Banten, Hafis Azhari, meskipun jumlah anggota partainya paling dominan, namun Indonesia tak bisa berharap pada kemenangan PKI, karena tingkat konservatifitas Masyarakat sangat tinggi. Jadi, apel yang digelar oleh beberapa petinggi partai, yang menunjukkan ribuan anggota PKI di lapangan, hanyalah kelebihan wisfulthinking saja, seakan ingin menunjukkan legitimasi di hadapan bapak bangsa kita.

Di sisi lain, lemahnya organisasi PKI, akan mudah dimanfaatkan kubu lawannya (AD) yang dipakai Amerika Serikat (CIA) untuk menjatuhkan pemerintahan Soekarno yang tidak terang-terangan memihak kapitalisme Barat. Tentu saja pihak Amerika menghendaki petinggi AD yang pintar “akting”, seorang ambisius menduduki tampuk kekuasaan, tetapi tidak suka koar-koar di depan publik.

Dengan demikian, muluslah rencana dan agenda Amerika-Inggris di bawah penguasa Orde Baru selama tiga dekade. Bahkan, invasi militer Indonesia ke wilayah Timor Timur (sejak 1975) yang membuat Indonesia dijuluki “penjajah kesiangan” dan dipermalukan di mata dunia, justru dawali dari restu Presiden Gerald Ford melalui menteri luar negerinya, Henry Kissinger (baca: Dokumen CIA, Melacak Penggulingan Soekarno dan Konspirasi G30S 1965, Penerbit Hasta Mitra 2001).

Luka Masa Lalu

Pada prinsipnya, baik Westerling, Soeharto, Trump hingga Jokowi, siapa pun yang nekat melampiaskan hasrat dendamnya, tak lain adalah penguasa-penguasa yang belum tersembuhkan dari luka masa lalunya. Dengan kata lain, mereka sama sekali belum selesai dengan dirinya sendiri. Itulah akibatnya, jika seseorang memilih bersikap ekstrim atau phobia terhadap sesuatu. Pada gilirannya, dia akan terjebak menjadi “sesuatu” yang sama nilainya.

Ketika Westerling bersikap anti NAZI, tanpa lebih dulu mempelajari NAZI itu apa, konsekuensinya dia terjebak dan berperilaku layaknya para anggota NAZI juga. Demikian halnya dengan Soeharto dan Orde Baru yang phobia terhadap komunisme, akhirnya mereka berujung dengan perilaku anarkis gaya komunisme juga. Lalu, bagaimana dengan Jokowi dan Luhut yang awalnya terlihat pro komunis dan anti kapitalisme? Betulkah mereka tidak mempraktekkan kapitalisme gaya baru?

Demikian halnya di tingkat militer. Seberapa banyak militer pendukung PKI yang dulu dikorbankan oleh Orde Baru (terutama AU), berikut anak cucunya yang dimarjinalkan, serta sulit mendapat penghidupan yang layak di masa Orde Baru?

Mantan Presiden Megawati yang mewarisi darah “nonblok” dari Bung Karno, tetap konsisten berada di jalur tengah demi menyelamatkan NKRI kita. Sikap negarawan yang berjiwa besar seperti itu, perlu dicontoh oleh para tokoh maupun para petinggi partai kita.

Bukan seperti Westerling yang mengorbankan rakyat Nusantara, hanya karena “ngambek” pada ayahnya yang memihak NAZI Jerman; juga bukan seperti Trump yang dulu merasa dimarjinalkan oleh Presiden Obama; juga bukan seperti presiden yang memperkaya diri bersama anak dan kroni militernya, hanya karena dulu pernah merasa tersakiti di masa kekuasaan Orde Baru.

Namun demikian, penguasa pendendam yang belum selesai dengan dirinya, boleh jadi menemukan jalannya untuk memimpin suatu negeri. Meskipun pada akhirnya, setiap kekuasaan yang dibangun dengan dusta dan kekerasan, kelak akan bermuara dengan diselimuti pemberontakan yang tak ada habis-habisnya. []

Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren Riyadlul Fikar, Banten, juga penulis aktif di berbagai media nasional, seperti Kompas, Republika, Koran Tempo dan lain-lain.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.