Dari Hubungan Aku-Engkau Menuju Etika Kosmopolitanisme: Relevansi Pemikiran Martin Buber

oleh -154 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Ferdinandus Darwin

Dunia dewasa ini sedang berada dalam posisi ambigu. Di satu sisi, manusia hidup di zaman yang serba terhubung satu dengan yang lain; informasi, barang dan subyek peradaban, yakni manusia bergerak bebas tanpa terikat dalam waktu dan ruang tertentu. Namun di sisi lain, manusia kembali disuguhkan dengan bangkitnya semangat nasionalisme yang eksklusif, sikap ketidakpercayaan terhadap orang asing, ketimpangan yang semakin melebar, hingga krisis iklim dan konflik yang tidak lagi mengenal batas ruang dan waktu. Persoalan-persoalan semacam ini tidak sanggup diatasi hanya dengan aturan hukum dan perjanjian politik semata; mereka membutuhkan perubahan dalam cara kita melihat dan membangun relasi dengan sesama manusia dan dunia. Berkutat pada hal-hal tersebut di atas, maka di sinilah Martin Buber menyuguhkan kita cara berpikir yang sungguh relevan untuk melihat dunia kita saat ini yang penuh dengan duka dan kecemasan, yakni relasi dialogis Aku-Engkau. Gagasannya pun dapat menjadi basis yang kokoh bagi etika kosmopolitanisme yang kita butuhkan saat ini.

Martin Buber adalah seorang filsuf kelahiran Wina pada 1878 dan meninggal pada 13 Mei 1968. Dalam menjelaskan konsep filsafat dialogisnya, ia membuat distingsi dalam membangun sebuah relasi, yakni Aku-Engkau dan Aku-Itu. Dalam karyanya I and Thou, Buber mencoba memperkenalkan bahwa keberadaan manusia adalah sebuah pertemuan dan perjumpaan yang memuat relasi dan dialog. Relasi Aku-Engkau adalah sebuah hubungan yang melihat sesama manusia sebagai sesama subjek, atau dengan lain kata relasi subjek dengan subjek dan bukan subjek dengan objek. Relasi antar subjek ini menghadirkan gagasan yang baru bagi manusia dalam memandang keberadaan sesama dalam dunia. Sebagai akibat dari gagasan ini, maka manusia dalam memandag yang lain bukan lagi sebagai objek, melainkan sebagai subjek yang harus dihormati dan dijunjung harkat dan martabatnya sebagai manusia. Ciri dialogis dari pandangan Buber ini kemudian membuat Aku menyapa Engkau dan Engkau menayapa Aku.

Lebih lanjut, dalam dunia ini Aku tidak menggunakan Engkau, tetapi Aku menjumpai Engkau. Sementara itu, dalam relasi Aku-Itu kita memandang orang lain, alam atau lingkungan hanya sebagai benda, alat atau sarana untuk kepentingan diri semata. Boleh dibilang bahwa hubungannya bersifat fungsional, hitung-menghitung dan tidak menghargai martabat orang lain sebagai manusia. Dalam gagasannya lebih lanjut, Buber memandang relasi Aku-Itu tidak memperlihatkan sebuah hubungan yang sangat mendasar. Ia tidak memberikan pengaruh kepada I dan I tidak membiarkan It untuk mempengaruhinya, adanya pemisahan antara I dan It, subjek dan objek. Dalam relasi I-It tidak ada perjumpaan, yang ada hanyalah tindakan saling menghancurkan dan meniadakan satu sama lain.

Duduk persoalan yang sering kita hadapi sekarang adalah hampir semua krisis global, baik itu krisis lingkungan hidup maupun krisis kemanusiaan bermuara dari dominasi pola pikir Aku-Itu. Beberapa masalah aktual yang menjadi efek samping dari dominasi pola pikir Aku-Itu di masa kini adalah:

Pertama, krisis kemanusiaan dan migrasi. Di berbagai penjuru dunia, khususnya di negara-negara yang acapkali menjadi tempat persinggahan para migran, pengungsi dan pendatang acapkali tidak dilihat sebagai manusia yang lari dari persoalan-persoalan di tempat mereka berasal, melainkan dianggap beban, ancaman atau sekadar angka statistik semata. Sebagai akibatnya, kebijakan dibuat bukan atas dasar belas kasih, tetapi demi keamanan dan kepentingan nasional semata. Padahal kalau kita berkutat pada etika kosmopolitanisme, maka kewajiban moral kita tidak hanya berhenti di perbatasan bangsa dan negara tertentu atau dengan lain kata tidak memiliki batas ruang dan waktu. Bersamaan dengan itu, jika kita memakai gagasan Aku-Engkau dari Martin Buber kita akan melihat setiap pendatang sebagai Engkau, sesama manusia yang punya hak, sejarah dan martabat yang sama dengan kita, mereka bukan sekadar Itu yang bisa ditolak atau dimanfaatkan seperti barang dagangan dengan intensi semau kita.

Kedua, kerusakan alam dan krisis iklim. Manusia memperlakukan bumi dan alam seolah hanya benda tak bernyawa yang bisa diambil, diubah dan dihabiskan demi keuntungan sesaat. Konsekuensinya, bencana datang merata, menyerang negara kaya maupun miskin, tetapi yang paling menderita justru yang paling tidak bertanggung jawab. Padahal kalau kita ingin telusuri lebih jauh bahwa alam adalah bagian yang tak terpisahkan dari hidup manusia. Oleh karena itu, alam memiliki dimensi sakral yang wajib dijaga dan dihormati oleh setiap orang. Martin Buber mengajarkan bahwa hubungan kita dengan alam pun seharusnya bersifat Aku-Engkau, kita berhubungan dengan dunia sebagai bagian dari kehidupan yang sama bukan sebagai peguasa mutlak. Lebih lanjut, manusia adalah makhluk alam dan karena ia adalah bagian yang tak terpisahkan dari alam, maka manusia memiliki tanggung jawab yang besar terhadap alam yang adalah tempat dirinya berpijak. Tanpa pandangan ini, tanggung jawab global atas lingkungan hanya akan menjadi janji kosong.

Ketiga, ketimpangan ekonomi dan keadilan global. Negara-negara kaya acapkali mengelolah sumber daya dunia dan perdagangan, seolah negara miskin hanyalah objek pemasok bahan baku atau pasar belaka. Keuntungan dikumpulkan di satu sisi, sementara kerusakan lingkungan dan kemiskinan ditanggung di sisi lain. Kenyataan ini adalah bukti konkret dari hubungan Aku-Itu. Etika kosmopolitanisme menuntuk keadilan yang berlaku bagi semua warga dunia. Dan di sinilah Matin Buber mengingatkan bahwa keadilan sejati hanya tumbuh jika kita mengakui bahwa kesejahteraan orang lain adalah bagian dari kesejahteraan diri sendiri, karena kita hidup dalam satu hubungan yang saling mempengaruhi.

Keempat, praktek dehumanisasi dan peperangan. Saat ini berbagai praktek dehumanisasi mengalami peningkatan dari hari kehari, seperti perdangan manusia, pembunuhan dan praktek prostitusi. Tindakan-tindakan di atas adalah bagian dari krisis kemanusiaan yang dapat mempengaruhi hilangnya martabat manusia dalam diri setiap korban. Selain itu, fakta peperangan yang terus terjadi di berbagai negara, seperti Israel dan Palestina, Rusia dan Ukraina, serta Israel dan Iran masih terus berlangsung sampai hari ini. Fakta peperangan ini menunjukkan bahwa relasi Aku-Engkau tidak lagi menjadi fokus perhatian karena kedua belah pihak yang berkonflik saling meniadakan satu sama lain. Lebih lanjut, perang adalah sebuah bencana kemanusiaan yang dapat mengorbankan nyawa banyak orang, khususnya masyarakat sipil yang tidak bersalah.

Di sini dapat dipahami bahwa relasi Aku-Itu muncul dengan sendirinya, sebab ada tindakan saling membunuh dan meniadakan satu sama lain. Orang lain bukan lagi dilihat sebagai sesama subjek yang harus dijaga harkat dan martabatnya sebagai manusia, melainkan sebagai objek yang siap untuk digunakan sesuka hati. Akibat lanjutnya, relasi perjumpaan dengan sesama menjadi hal yang tidak diindahkan lagi. Aku tidak menjumpai Engkau, tetapi Aku meniadakan dan menggunakan Engkau sebagai barang yang tidak berharga sama sekali. Terlepas dari persoalan politik dan ideologi yang mereka perjuangkan, perang adalah bentuk kejahatan kemanusiaan yang paling brutal.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Imanuel Kant bahwa perang itu ibarat dua orang mabuk yang berkelahi dan akibat dari perkelahian itu adalah kekacauan orang-orang yang ada di sekitar mereka. Kedua orang mabuk itu adalah para pemimpin dari kedua negara yang berkonflik dan orang-orang yang merasakan akibat dari konflik itu adalah masyarakay sipil dari kedua negara yang bersengketa. Akibat lanjut dari fakta peperangan yang masih berlangsung sampai saat ini adalah hilangnya nilai kemanusiaan akibat kekejaman para penguasa dari kedua pihak yang bersengketa.

Masyarakat sipil menjadi korban dari fakta peperangan yang ada. Padahal kalau kita bawa kedua persoalan di atas ke dalam wacana kosmopolitanisme, maka fakta dehumanisasi dan peperangan sangat bertolak belakang dengan semangat asli kosmopolitanisme, di mana semua manusia adalah warga komunitas mondial atau dengan lain kata setiap orang adalah warga dunia. Atas dasar itu, maka setiap orang hendaknya memandang orang lain sebagai saudara yang hidup dalam horizon mondial yang sama. Orang lain yang ada di bangsa dan negara lain adalah bagian dari dunia tempat kita berpijak. Oleh karena itu, praktek dehumanisasi dan peperangan menjadi persoalan yang bisa menghancurkan diri sendiri, sebab orang-orang yang menjadi korban adalah warga dunia, sebagaimana kita adalah warga dunia.

Sampai pada bagian ini, maka relasi Aku-Engkau dari Martin Buber bukan hanya sekadar konsep filsafat yang bersifat abstrak semata, melainkan bagian dari cara hidup yang menjadi jembatan menuju etika kosmopolitanisme. Kosmopolitanisme acapkali dianggap terlalu abstrak; warga dunia, tanggung jawab universal. Namun, Martin Buber mengubah konsep itu menjadi hal yang sungguh aktual, yakni etika global dimulai dari cara kita berhadapan dengan orang lain, siapa pun mereka, apa pun suku, budaya dan latar belakngnya, serta di mana pun mereka ada, hidup dan bergerak harus dihargai dan dihormati harkat dan martabatnya. Apabila kita bisa berhubungan dengan sesama sebagai Engkau, maka kita tidak akan bisa membiarkan mereka menderita, tidak akan mengeksploitasi mereka, tidak akan pernah ada orang asing dan tidak akan mengabaikan nasib mereka. Dunia yang lebih adil, damai dan tenteram tidak akan terwujud apabila hanya lewat perjanjian internasional atau hukum semata.

Ia butuh perubahan hati dan pola pikir. Untuk itu, setiap orang diajak untuk mengubah cara pandang, yakni dari memandang sesama sebagai benda atau alat yang siap untuk digunakan dan dieksploitasi menjadi memandang mereka sebagai rekan hidup yang setara dan berharga. Senada dengan itu, gagasan Engkau adalah Aku yang lain menjadi basis yang kokoh untuk melihat sesama sebagai bagian dari diri sendiri. Mengutip gagasan Levinas bahwa perjumpaan dengan orang lain adalah sebuah tanggung jawab, di mana tanggung jawab itu terobsesi untuk yang lain. Setiap tanggung jawab mengandung di dalam dirinya obsesi menuju kepada yang lain. Di hadapan yang lain setiap orang diminta untuk keluar dari dirinya, keluar dari kecenderungan sikap yang selalu mementingkan diri sendiri. Perjumpaan setiap orang dengan pribadi lain adalah perjumpaan yang sekaligus imperatif tanggung jawab buat saya atas kebaikan dan keselamatan orang itu. Akhirnya, dari pertemuan Aku-Engkau inilah etika kosmopolitanisme mendapatkan dasar yang kuat dan hanya dengan cara itulah kita bisa menjawab tantangan zaman dengan kemanusiaan yang utuh.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.