Oleh: Kristoforus Alfaris
Di tengah kemajuan teknologi dan ekonomi, manusia justru semakin sering direduksi menjadi alat produksi, data statistik, atau objek kepentingan politik. Manusia, yang seharusnya menjadi subjek utama dalam suatu aspek kehidupan, semakin sering diperlukan sebagai objek atau alat untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Gagasan Immanuel Kant tentang manusia sebagai tujuan pada dirinya sendiri menjadi relevan untuk dikedepankan kembali dalam bahasa aslinya, ”Act in such a way that you treat humanity, whether in your own person on in the perrson of any other, never merely as s means to an end, but always at the same time as an end.” Prinsip moral ini mengingatkan kita bahwa setiap individu memiliki martabat yang tidak boleh dikorbankan demi efisiensi atau keuntungan.
Dehumanisaasi di Era Digital dan Dunia Kerja
Media sosial yang awalnya dirancang untuk mendekatkan manusia, kini sering menjadi alat yang mengubah individu menjadi angkaa dan algoritma. Fenomena seperti cyberbullying, cancel culture, hingga kebutuhan untuk memasarkan diri secara daring menjadikan manusia sebagai objek komodifikasi. Di sisi lain, pekerja dalam sistem ekonomi gig dan kapitalisme modern sering kehilangan hak dasar, dipekerjakan tanpa perlindungan yang memadai, dan menjadi korban budaya “hustle” yang menuntut produktivitas ekstrem.
Penelitian menunjukan bahwa 61 persen orang dewasa muda merasa bahwa teknologi bersifat dehumanisasi. Fenomena ini termanifestasi dalam berbagai bentuk, mulai dari cyberbullying, cancel culture, hingga commodifikasi kehidupan untuk konsumsi publik. Setiap individu menjadi produk yang harus “memasarkan” diri mereka sendiri melalui konten yang menarik like dan follower.
Kehadiran teknologi seperti AI memperparah situasi dengan menggantikan peran. Nilai seseorang seolah-olah di tentukan oleh seberapa viral konten mereka atau seberapa banyak engagment yang mereka terima. Dalam konteks ini, manusia tidak lagi dilihat sebagai individu yang kompleks dengan perasaan, impian, dan martabat, tetapi sebagai sumber data yanag dapat diekploitas untuk kepentingan bisnis.
Perusahan teknologi besar mengumpulkan data pribadi pengguna untuk dijual kepada pengiklan, menjadikan setiap klik, like, dan shre sebagai komoditas bernilai ekonomi. Pengguna menajdi produk, bukan konsumen yang dilayani. Manusia tanpa memperhatikan dampaknya terhadap makna dan harga diri individu. Ketika pekerjaan bukan lagi ruang untuk berkembang, tetapi sekadar tuntutan ekonomi, manusia kehilangan rasa makna dan tujuan.
Relasi Sosial dan Politik yang Instrumentalis
Dalam masyarakat modern yang semakin kompleks, relasi sosial mengalami pergeseran makna yang cukup signifikan. Hubungan antarmanusia, yang idealnya didasarkan pada rasa saling menghargai dan pengakuan akan keberadaan orang lain sebagai pribadi yang utuh, kini sering kali direduksi menjadi hubungan transaksional. Individu dipandang bukan lagi sebagai subjek yang memiliki kedalaman emosional, moral, dan spiritual, melainkan sebagai alat atau sarana untuk mencapai tujuan pribadi-entah itu berupa keuntungan ekonomi, sosial, atau kekuasaan.
Dalam ranah politik, dehumanisasi tampak dalam cara politisi atau elite kekuasaan memperlakukan rakyat. Konstituen tidak lagi dipandang sebagai warga negara yang memiliki martabat dan suara hati, tetapi sebagai angka-suara pemilu yang harus diraih. Janji-janji politik sering kali diucapkan tanpa komitmen moral untuk ditepati, dan kebijakan publik dibuat lebih berdasarkan kalkulasi elektoral daripada pertimbangan kesejahteraan manusia yang konkret. Dalam iklim seperti ini, kepercayaan publik terhadap institusi negara pun menurun, dan partisipasi politik berubah menjadi sikap apatis atau sinis.
Dehumanisasi juga menjalar ke dunia pendidikan. Sekolah dan universitas seharusnya menjadi ruang pembentukan manusia yang utuh-yang bukan hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga matang secara emosional dan moral. Namun dalam praktiknya, sistem pendidikan sering kali terjebak dalam logika produktivitas dan standardisasi. Siswa dinilai dari angka ujian, ranking, atau indeks prestasi, tanpa memperhatikan latar belakang, karakter, atau potensi unik mereka. Pendidikan yang seharusnya membebaskan malah menjadi sistem seleksi yang menyingkirkan mereka yang dianggap “tidak kompeten”.
Untuk memahami lebih dalam masalah ini, kita dapat merujuk pada pemikiran filsuf Austria, Martin Buber, yang memperkenalkan dua jenis relasi dasar dalam interaksi manusia: I-Thou dan I-It. Dalam relasi I-Thou, manusia berhubungan satu sama lain secara otentik, dengan pengakuan penuh terhadap keberadaan dan martabat masing-masing. Orang lain dilihat bukan sebagai alat, tetapi sebagai pribadi yang memiliki kedalaman dan misteri yang tak bisa sepenuhnya dikuasai. Sebaliknya, dalam relasi I-It, manusia memperlakukan orang lain sebagai objek-dapat diprediksi, dikendalikan, dimanfaatkan.
Mengatasi dehumanisasi dalam relasi sosial dan politik menuntut kita untuk secara sadar membangun budaya yang mengutamakan pengakuan dan penghormatan terhadap manusia sebagai subjek, bukan objek. Ini dapat dimulai dari hal-hal kecil: memperlakukan orang lain dengan hormat tanpa memandang statusnya, mendengarkan dengan empati, dan menghindari kecenderungan untuk menilai orang semata-mata berdasarkan kegunaan.
Krisis Kemanusiaan dan Akar Strukturalnya
Dehumanisasi berdampak besar terhadap kesehatan mental dan kohesi sosial. Ketika seseorang hanya dinilai dari pencapaian eksternal, harga diri mereka menjadi rapuh dan mudah hancur.Dalam konteks politik, fenomena ini terlihat secara jelas dalam cara politisi politik memperlakukan konstituen mereka. Rakyat dipandang sebagi suara yang perlu dikumpulkan saat pemilu politik. , bukan sebagai individu yang memiliki kebutuhan, aspirasi, dan martabat yang harus dihormati.
Janji-janji kampanyae yang tidak pernah ditepati dan kebijakan yang dibuat tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap kehidupan nyata masyarakat adalah manifestasi dan instrumentalisasi politik. Politik indentitas yang mengkotak-kotakan masyarakat berdasarkan etnisitas, agama, atau ideologi juga merupakan bentuk dehumanisasi. Ketika seseorang hanya dilihat sebagai representasi dari kelompok tertentu, bukan sebagai individu yang unik dengan kompleksitas persoalanya, maka esensi kemanusiaanya teredukasi menjadi label-label kategorikal. Fenomena ini turut menyebabkan meningkatnya krisis kesehatan mental pada generasi muda. Akar masalahnya adalah paradigma ekonomi yang hanya mengukur nilai manusia dari kontribusi ekonomi serta sistem pendidikan dan budaya konsumerisme yang mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan. Urbanisasi dan hilangnya komunitas sosial memperparah keterasingan.
Menuju Rehumanisasi: Pendekatan Sistenimik dan Pribadi
Mengatasi krisis dehumanisasi yang meresap dalam berbagai aspek kehidupan modern memerlukan pendekatan yang bersifat menyeluruh baik dari segi struktur sosial maupun transformasi pribadi. Rehumanisasi tidak bisa dicapai hanya dengan seruan moral semata, melainkan melalui perubahan paradigma, kebijakan, serta praktik sehari-hari yang mengutamakan manusia sebagai pusat dari segala hal. Rehumanisasi secara substansial ada langkah untuk mengembalikan manusia sebagai objek utama peradaban.
Mengembalikan manusia sebagai subjek utama dalam peradaban bukanlah nostalgia romantik atas masa lalu yang ideal, melainkan sebuah tuntutan moral zaman ini. Di tengah kemajuan teknologi, globalisasi, dan percepatan perubahan sosial, kita perlu bertanya kembali: Untuk siapa semua ini dilakukan? Jika jawaban akhirnya bukan demi kesejahteraan dan martabat manusia, maka seluruh pembangunan kehilangan arah dan makna. Paradigma baru yang kita butuhkan adalah paradigma humanistik, yang tidak menilai keberhasilan dari angka statistik semata, tetapi dari sejauh mana kehidupan manusia menjadi lebih bermakna, adil, dan bermartabat. Ini mencakup segala lini-kebijakan publik, pendidikan, teknologi, hingga interaksi keseharian.
Rehumanisasi bukan hanya proyek kebijakan struktural, melainkan juga transformasi batin. Ini menuntut pembaruan cara pandang: melihat orang lain bukan sebagai beban atau alat, tetapi sebagai sesama manusia dengan cerita hidup, luka, harapan, dan potensi. Dunia yang lebih manusiawi tidak lahir dari sistem yang sempurna saja, tetapi dari pribadi-pribadi yang mampu hadir secara otentik dan penuh kasih dalam setiap relasi.
Ketika kita memilih untuk menghormati setiap manusia, bahkan dalam hal-hal kecil-mendengarkan tanpa menghakimi, menghargai kerja sederhana, menyapa dengan tulus-kita sedang membangun fondasi bagi dunia yang lebih baik. Masa depan yang lebih manusiawi bukan hanya mungkin, tetapi perlu, dan dimulai dari pilihan kita hari ini.
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang









