Cinta yang Mati Sebelum Mengasihi

oleh -708 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Denri Bria

Di zaman sekarang, cinta sering kali hanya berhenti di bibir, tidak lagi tumbuh di hati. Banyak orang berlomba menunjukan rasa cintanya lewat unggahan, status, dan janji manis yang mudah diucap namun cepat pudar. Kita hidup di era di mana cinta begitu ramai dibicarakan, tapi makin jarang dirasakan secara tulus.

Seolah-olah cinta sudah kehilangan jiwanya, ia hidup dalam kata-kata tapi mati dalam tindakan. Dari kegelisahan itulah, saya ingin mengajak kita merenung: mungkinkah cinta hari ini benar-benar masih hidup, atau justru sudah mati sebelum sempat mengasihi?

Sekarang ini, kata “cinta” sudah kehilangan bobotnya. Begitu mudah diucapkan, begitu cepat dilupakan. Di media sosial, di pesan singkat, di video penuh janji manis-semuanya berlomba menunjukan siapa yang paling romantis. Tapi sayangnya, makin banyak kata cinta diucapkan, makin sedikit kasih yang benar-benar dihidupi.

Banyak orang berkata “saya cinta kamu”, padahal yang dicintai bukan orangnya, tapi perasaan nyaman yang muncul sesaat. Begitu rasa itu hilang, cinta ikut pergi. Maka tidak heran, banyak hubungan berakhir bukan karena benci, tapi karena cinta itu sendiri tidak punya akar yang kuat.

Erich Fromm, seorang filsuf kemanusiaan, pernah mengakatan bahwa cinta bukanlah sesuatu yang datang begitu saja, melainkan sebuah seni yang harus dipelajari. Tapi di zaman yang serba cepat ini, siapa yang masih mau belajar mencintai dengan benar? Kita lebih sibuk mencari pasangan yang sempurna daripada belajar menjadi pribadi yang pantas dicintai.

Cinta zaman sekarang sering terasa seperti kontrak jangka pendek-ada tanggal mulai, tapi jarang ada niat untuk bertahan. Banyak yang ingin dicintai, tapi sedikit yang benar-benar mau berjuang untuk mengasihi padahal cinta sejati bukan tentang berapa banyak kata yang terucap, tapi seberapa besar kesedian hati untuk tetap tinggal saat keadaan tidak lagi seindah dulu.

Saya sering melihat bagaimana cinta bisa berubah arah begitu cepat. Hari ini bilang “saya tidak akan tinggalkan kamu”, besok sudah menghilang tanpa jejak. Cinta yang seperti itu bukan hanya lemah, tapi sebenarnya sudah mati sebelum sempat mengasihi. Karena cinta tanpa kasih hanyalah perasaan yang datang untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain.

Fromm menyebut dua cara manusia hidup: memiliki dan menjadi. Dan sering kali kita jatuh ke dalam cinta yang berlandaskan “memiliki”. Kita ingin memiliki seseorang, seolah-olah dia adalah milik pribadi yang bisa diatur sesuka hati. Padahal cinta yang sejati tidak menuntut untuk memiliki, tapi mengundang untuk menjadi lebih sabar, lebih lembut, dan lebih setia.

Cinta yang hidup bukan tentang banyaknya kata manis, tetapi tentang ketulusan dalam tindakan kecil. Kadang kasih tidak butuh janji megah, cukup kesetiaan sederhana. Tidak perlu “aku cinta kamu” setiap jam, cukup hadir ketika dibutuhkan, cukup mau mendengar ketika yang lain sibuk berbicara. Kasih tumbuh dari hal-hal yang tidak terlihat, tapi dirasakan dalam diam.

Banyak orang berpikir cinta sejati itu yang bikin berdebar. Padahal cinta sejati justru yang membuat hati tenang. Bukan karena semuanya sempurna, tapi karena ada rasa aman untuk tetap berjalan bersama meski banyak kekurangan. Cinta yang kehilangan kasih hanyalah bayangan indah dilihat, tapi kosong di dalam.

Ia tidak memberi kehidupan, hanya meninggalkan kenangan. Dan itulah yang dimaksud fromm sebagai cinta yang kehilangan jiwa: cinta yang tidak lagi memberi, tidak lagi bertumbuh, dan tidak lagi menjadi alasan seseorang untuk menjadi lebih baik.

Mungkin sekarang sudah saatnya kita belajar kembali apa arti mencintai. Cinta tidak akan hidup tanpa kasih, sebab kasih adalah napasnya. Mengasihi berarti berani melangkah melampau perasaan; tetap setia saat hati lelah, tetap memilih untuk memahami saat tidak dimengerti.

Cinta yang sejati tidak lahir dari kata-kata, tetapi dari kesediaan untuk berkorban. Dan selama manusia masih berani mengasihi, cinta tidak akan benar- benar mati-ia hanya menunggu untuk dihidupkan kembali dengan tidakan yang tulus.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.