Berkaca pada Doa dan Perjuangan Nabi Ibrahim

oleh -168 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Chudori Sukra

Ketika masyarakat kehilangan pegangan moral, maka hukum kian semakin lemah, keluarga menjadi rapuh, pendidikan kehilangan ruh, dan manusia mudah terseret oleh arus yang lebih kuat daripada suara hati nuraninya sendiri. Islam membaca krisis bukan semata-mata soal ekonomi, sosial, atau politik, tetapi yang paling utama adalah krisis ruhani dan moralitas.

Sekitar 4000 tahun lalu, kedatangan Nabi Ibrahim dan Siti Hajar di suatu lembah sunyi dan kering kerontang, tak ada sungai dan laut, tak ada tanaman tumbuh, dan secara logika akan sulit manusia dan hewan bertahan di tengah situasi seperti itu. Ia tidak membawa bekal yang banyak, juga tanpa kaki-tangan atau peralatan modern. Tetapi, bekal yang ada hanya iman dan keyakinan pada Tuhan Yang Maha Memberi rizki dan mengatur segala kehidupan di jagat raya ini.

Doa Nabi Ibrahim kepada Allah, bukan semata-mata kepentingan pribadi maupun keluarga dan kroninya, tetapi untuk kelangsungan peradaban dan masa depan generasi bangsa. Pertama, beliau memohon untuk negeri yang aman, negeri yang bangsanya dijauhkan dari rasa takut. Dengan demikian, masyarakat akan nyaman beribadah, bekerja, menuntut ilmu, membangun rumah-tangga secara bermartabat. Sebagaimana rumus bapak bangsa Bung Karno: “Pembangunan ekonomi dan kemakmuran rakyat Indonesia, harus berdiri di atas landasan politik yang sudah kokoh.”

Lebih lanjut, bapak bangsa terus menggagas tentang pentingnya berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, serta berkepribadian dalam budaya. Dalam hal ini, Nabi Ibrahim telah membangun konsep landasan negeri yang luhur, bahwa setelah rasa aman dan rizki diperoleh, hendaknya segala kenikmatan itu disyukuri. Sebab, karunia Tuhan tidak akan terasa kenikmatannya bila tidak disyukuri.

Jadi, rasa syukur itu dapat leluasa diamalkan, jika manusianya hidup dalam keadaan aman dan tentram. Coba bayangkan, jika rumah tak lagi memberi kenyamanan; di jalanan juga tak memberi rasa aman, cemas dengan masa depan, dan sesal dengan masa lalu. Belum lagi, ruang-ruang digital dipenuhi hoaks dan penipuan; belum lagi sesama anggota keluarga dan saudara-kerabat saling curiga. Barulah kita akan menyadari, betapa pentingnya mensyukuri nikmat ketenangan dan kenyamanan dalam hidup ini.

Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Tirmidzi, Rasulullah pernah menegaskan: “Bagi siapa yang bangun pagi dalam keadaan nyaman, badannya sehat, memiliki cukup makanan untuk hari ini, maka seakan-akan ia telah menggenggam seluruh dunia.”

Betapa banyak keluarga yang memiliki stok makanan, punya tabungan, fasilitas lengkap, bahkan punya simpanan untuk seminggu atau sebulan ke depan. Namun, jika rasa aman dan ketenangan selalu terusik, tentu saja batinnya akan selalu tersiksa dan gelisah. Untuk itu, sehebat apa pun Anda punya ide dan gagasan tentang stabilitas negeri, dan sebarapa tinggi kedudukan Anda di panggung politik, namun jika suasana jiwa tegang dan kualitas hidup rendah, Anda akan mudah ditebak oleh generasi milenial sebagai “orang dungu” yang memiliki frekuensi dan vibrasi rendah.

Bolehlah Anda berkoar-koar di depan podium, bahwa orang Indonesia adalah agamis, alamnya subur makmur, dan sentosa pula. Namun, jika Anda sebagai elit politik, serba abai dan membiarkan rakyat terbenam dalam kebodohan dan ketakutan, kualitas ibadah rendah, kebertuhanan diselimuti takhayul dan khurafat, maka bangsa ini akan terus menerus terjebak sebagai inlander yang bermental kuli dan jongos belaka.

Kualitas ketakwaan

Apa yang diperjuangkan Nabi Ibrahim sekitar 4000 tahun lalu, seakan memperingatkan kita, bahwa hakikat kemakmuran dan kesejahteraan, bukan hanya soal kelimpahan materi dan pundi-pundi, tetapi soal tujuan dan arah hidup yang jelas, serta yakin akan kekuasaan Allah Yang Maha Mencipta, Merawat, dan Maha Memberi rizki yang tiada terhingga.

Tempat yang semula tandus bisa menjadi pusat kehidupan dan peradaban, jika Allah berkehendak. Ruang yang tampak mustahil, bisa melahirkan kesuburan dan keberkahan hidup. Seakan Nabi Ibrahim paham betul, bahwa rizki yang tanpa disertai keberkahan dapat menjelma sebagai fitnah yang saling menindas dan menghancurkan. Kekayaan tanpa membangun moralitas dan jiwa besar, akan berimplikasi kepada egoisme dan kesombongan.

Kemajuan ekonomi tanpa diimbangi rasa keadilan, akan melahirkan jurang sosial yang membinasakan. Bahkan, jabatan dan kedudukan politik, tanpa rasa takut kepada Allah, bisa membuat seseorang berjiwa korup dan menyengsarakan rakyat banyak. Tentu bangsa yang tidak taat dan penuh maksiat juga bisa maju secara ekonomi, tetapi Nabi Ibrahim tidak menghendaki pola kemajuan yang akan menimbulkan malapetaka dan senjata makan tuan. Sebab, bangsa yang berkah bukan semata-mata soal harta dan kelimpahan, tetapi soal kesalehan dan kebaikan yang langgeng, manfaat yang meluas, disertai oleh ketenangan dan ketentraman semua pihak.

Doa Nabi Ibrahim agar dirinya dan anak-cucunya dijauhkan dari takhayul dan penyembahan berhala (Ibrahim: 35), sangat relevan dengan kondisi masyarakat Indonesia, negeri yang kaya SDA dan SDM, luas wilayahnya, kuat tradisi sosialnya, dan dalam banyak hal memiliki modal peradaban yang luar biasa. Namun demikian, semua itu tidak otomatis menjadi keberkahan bila tidak dijaga oleh kekuatan iman dan ketakwaan.

Jika Anda percaya kepada Allah di satu sisi, namun di sisi lain gemar memelihara kodok yang dibeli dari para dukun di Gunung Lawu dan Kemukus. Itu artinya, masih diselubungi oleh keimanan yang ngalor-ngidul antara tuhan dan dewa-dewi, bahkan masih suka menyembah cebong dan kampret yang dipelihara di pekarangan rumah. Giliran sakit, sibuk mencari-cari obat serta menuhankan pohon ciplukan. Karuan saja jika Anda terbenam dalam kubangan hoaks, tambal sulam kebohongan dengan kebohongan lainnya.

Tanpa keberkahan SDM, kekayaan alam bisa menjadi sumber konflik. Bahkan, juga bisa merusak ekosistem jika tanpa dikelola demi kemaslahatan umat. Demikian halnya dengan teknologi yang bisa membantu kemudahan, tetapi juga bisa mempercepat kerusakan bila tidak dikendalikan oleh nilai-nilai akhlak dan agama yang mendewasakan.

Teknologi dan media sosial bukanlah musuh bagi kita. Uang dan kekayaan juga bukan sesuatu yang buruk, tetapi ketika uang menjadi ukuran tertinggi nilai manusia, ketika jabatan menjadi tujuan yang menghalalkan segala cara, ketika algoritma lebih menentukan perilaku daripada wahyu, maka manusia sedang menghadapi bentuk perbudakan baru. Jika hati lebih takut kehilangan pengikut daripada kehilangan keikhlasan, lebih gelisah kehilangan jabatan daripada kehilangan zikir dan ibadah, lebih peduli citra publik daripada penilaian Allah, maka manusia sedang mengalami krisis orientasi spiritual.

Nabi Ibrahim senantiasa tekun berdoa agar masyarakat dan generasinya tidak kehilangan arah. Sebab, sebuah negeri bisa terbebas dari krisis ekonomi, tetapi belum tentu selamat dari degradasi moral. Bahkan, suatu bangsa bisa maju secara teknologi, tetapi bisa jadi kosong secara makna. Betapa banyak peradaban runtuh dalam sepanjang sejarah, bukan karena kekurangan sandang pangan, tetapi justru karena kehilangan nilai, keadilan, dan ruh peradaban.

Di tengah krisis yang kompleks saat ini, doa sering dianggap sebagai sesuatu yang tidak praktis. Ia tidak tampak seperti kebijakan. Ia tidak bisa ditampilkan dalam bentuk grafik. Namun, dalam teladan Nabi Ibrahim, doa bukan semata-mata pelarian dari realitas. Baginya, doa adalah kekuatan ruhani untuk menghadapi realitas itu sendiri. Doa bukan pengganti ikhtiar, tetapi ruh yang menghidupkan ikhtiar. Ia bukan alasan untuk pasif, tetapi sumber keberanian untuk bergerak secara benar.

Nabi Ibrahim berdoa, karena sedang menempatkan tanggung jawab pada fondasi yang benar. Bekerja dan berikhtiar dengan baik, lalu menyerahkan hasilnya dan bertawakal pada Allah. Para nabi adalah manusia yang paling banyak doanya, tetapi juga yang paling kuat ikhtiarnya. Untuk itu, doa bagi kemakmuran dan keselamatan bangsa bukanlah sesuatu yang pasif. Ia adalah bagian dari tanggung jawab moral manusia beriman, apalagi ketika menyaksikan mentalitas bangsa yang rusak dan mengalami dekadensi dan kemunduran.

Manusia beriman

Ketika menyaksikan pemimpinnya keliru atau salah jalan, manusia beriman takkan memilih jalan mencaci dan memaki. Tetapi, mereka akan konsisten meluruskan dengan penuh hikmah dan kesabaran, disertai doa dan permohonan pada Yang Maha Berkuasa.

Dalam Syarh as-Sunnah, Imam Barbahari memperingatkan kita, bahwa jika terdetik keinginan dan harapan agar pemimpinnya berjalan di jalan kesesatan, berarti itu adalah bisikan hawa nafsu. Sejatinya, seorang warganegara yang baik justru harus mendoakan pemimpinnya agar berjalan di atas rel-rel kebenaran dan keadilan. Pernyataan ini tidak berarti membenarkan perilaku zalim dan sewenang-wenang, tetapi ia menunjukkan kedalaman fiqih sosial di kalangan para ulama. Mereka memahami bahwa rusaknya pemimpin akan berdampak luas, sementara baiknya pemimpin akan membawa kemaslahatan besar bagi masyarakat.

Indonesia adalah negeri yang luas, subur dan makmur, dengan jumlah penduduk muslim yang sangat besar. Namun, kebesaran itu membawa tanggung jawab besar pula. Negeri ini tidak cukup dijaga oleh hukum, tetapi juga harus dijaga oleh akhlak dan moral. Tidak cukup dibangun oleh anggaran, tetapi juga oleh sikap dan perilaku yang amanah. Bahkan, tidak cukup digerakkan oleh teknologi, tetapi juga oleh nilai-nilai peradaban yang luhur.

Bangsa ini membutuhkan pembangunan yang kuat, tetapi juga jiwa yang teguh. Kita membutuhkan digitalisasi, tetapi juga harus disertai adab digital. Kita membutuhkan lembaga yang efektif, tetapi juga manusia yang waspada dan takut kepada Allah. Kita membutuhkan pemimpin yang kompeten, bersih, adil, dan rendah hati, tetapi kita juga harus sanggup memulai dari diri sendiri, serta konsisten mendoakan para pemimpinnya.

Doa Nabi Ibrahim mengajarkan tiga pilar utama, yakni tauhid, keamanan dan rizki yang berkah. Jika ketiganya dibaca dalam konteks kebangsaan, maka Indonesia membutuhkan stabilitas yang adil, kesejahteraan, dan moralitas publik yang berakar pada iman dan Ketuhanan Yang Maha Esa. Seorang mukmin mencintai negerinya bukan karena negeri itu sempurna, tetapi karena di sanalah ia diberi amanah untuk beribadah, berdakwah, membangun keluarga, mendidik umat, dan menebar manfaat sebanyak-banyaknya.

Kisah Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa peradaban tidak selalu dimulai dari sesuatu yang tampak besar. Ia bisa dimulai dari kekuatan doa; dari tanggung jawab moral seorang ayah yang berpijak pada tauhid; dari seorang hamba yang yakin akan perawatan Allah; dari keluarga kecil yang dititipkan kepada pengasuhan Allah; bahkan dari ketekunan dan ketulusan yang mungkin tidak disaksikan manusia, namun menjadi catatan penting dan pemandangan indah bagi penduduk langit.

Saat ini, kita dihadapkan pada krisis ekonomi, konflik geopolitik, ketimpangan sosial, kerusakan lingkungan, disrupsi teknologi, dan krisis moral yang saling bertaut. Tentu saja tak mungkin bagi kita untuk mengontrol segalanya, tetapi setidaknya kita harus konsisten menjaga iman dan ketakwaan, berusaha bertobat dan memperbaiki diri, mendidik anak-istri dan memberi teladan bagi saudara-kerabat terdekat. Bagaimana pun doa bukanlah tanda kelemahan. Ia adalah tanda bahwa manusia masih tahu ke mana harus kembali. Doa adalah cahaya yang menjaga perjuangan agar tidak kehilangan arah. Ia bukan sekadar kata-kata, tetapi sekaligus pernyataan iman, bahwa di atas segala kekuatan manusia, ada kekuatan Allah Yang Maha Perkasa, Maha Mengatur dan Menggenggam segalanya.

Untuk itu, mari kita hidupkan kembali doa Nabi Ibrahim dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia. Kita senantiasa memohon negeri yang aman, rizki yang berkah, pemimpin yang adil, masyarakat yang berakhlak, generasi yang bertauhid, serta hati yang tidak diperbudak oleh berhala-berhala modern.

Semoga negeri ini diberi keamanan yang menenteramkan, rizki yang memberkahi, persatuan yang menguatkan, ulama yang ikhlas, pemimpin yang adil, rakyat yang sabar, generasi yang beriman, dan masa depan yang lebih bermartabat. Dengan bercermin pada keteladanan Nabi Ibrahim, semoga kaum jurnalis dan cendekiawan Indonesia, diperkaya oleh wawasan ilmu pengetahuan, serta memiliki akhlak menyusun kata dengan sebaik-baiknya. Amin ya rabbal alamin. ***

Penulis adalah Pengasuh Ponpes Riyadlul Fikar, Banten, juga penulis esai dan prosa di berbagai media nasional, seperti Kompas, Koran Tempo, Republika, dan lain-lain

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.