Belajar Mengajar dari Guru, Belajar Menulis dari Penulis

oleh -278 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Heri Isnaini

Ada pertanyaan yang sering muncul dalam berbagai forum kepenulisan, Apakah menulis bisa diajarkan? Sebagian orang menjawab tidak. Menulis dianggap sebagai bakat. Jika seseorang memiliki bakat, ia akan menjadi penulis. Jika tidak, berbagai pelatihan dan kelas menulis hanya akan menjadi pelengkap yang tidak banyak mengubah keadaan.

Namun, pengalaman dunia sastra menunjukkan kenyataan yang berbeda. Banyak penulis besar tidak lahir begitu saja dari ruang sunyi dan inspirasi yang turun dari langit. Mereka tumbuh dalam perjumpaan dengan penulis lain, komunitas sastra, diskusi panjang, kritik yang kadang menyakitkan, dan proses belajar yang berlangsung bertahun-tahun. Dengan kata lain, mereka belajar menulis dari para penulis.

Gagasan ini mengingatkan pada pemikiran Hazel Hagger dan Donald McIntyre dalam kajian pendidikan guru. Mereka berpendapat bahwa calon guru tidak hanya belajar dari buku-buku pendidikan atau teori pembelajaran. Mereka belajar terutama dari guru-guru yang menjalani praktik mengajar sehari-hari. Pengetahuan profesional lahir dari pengalaman, refleksi, dan interaksi dalam komunitas praktik.

Apa yang berlaku dalam dunia pendidikan guru sesungguhnya juga terjadi dalam dunia sastra. Penulis belajar menjadi penulis melalui keterlibatan dalam kehidupan sastra. Ia belajar dari karya, percakapan, kegagalan, dan pengalaman para penulis lain yang lebih dahulu menempuh jalan tersebut.

Di Indonesia, tradisi semacam ini sebenarnya sudah berlangsung sejak lama. Banyak sastrawan tumbuh melalui komunitas. Mereka tidak berkembang secara individual semata. Pada masa lalu kita mengenal kelompok-kelompok diskusi sastra, sanggar, komunitas kampus, hingga ruang-ruang kebudayaan yang menjadi tempat bertemunya para penulis muda dengan para senior.

Seorang penyair pemula biasanya tidak hanya membaca puisi. Ia juga mendengar bagaimana puisi dibacakan. Ia menyaksikan bagaimana sebuah puisi dikritik. Ia melihat bagaimana seorang penyair menjelaskan proses kreatifnya. Semua pengalaman itu perlahan membentuk kepekaan estetik yang tidak selalu ditemukan dalam buku teori sastra.

Hal yang sama dapat ditemukan dalam berbagai bengkel sastra. Banyak orang datang ke bengkel sastra dengan harapan memperoleh rumus cepat menjadi penulis. Padahal yang paling berharga dari bengkel sastra bukanlah rumus, melainkan proses. Di sana peserta belajar melihat bagaimana sebuah karya dibangun, direvisi, dipertanyakan, bahkan dibongkar kembali untuk disusun ulang.

Dalam pengalaman tersebut, menulis tidak lagi dipahami sebagai kegiatan yang selesai setelah titik terakhir dituliskan. Menulis menjadi proses berpikir yang terus bergerak. Seorang peserta bengkel sastra dapat menyaksikan bahwa bahkan penulis berpengalaman pun masih bergulat dengan pilihan kata, struktur cerita, atau sudut pandang. Kesadaran semacam ini penting karena menghilangkan mitos bahwa penulis hebat selalu menghasilkan karya hebat dalam sekali duduk.

Saya teringat pada banyak pertemuan sastra yang pernah saya ikuti. Ada saat ketika seorang penyair muda membacakan puisi dengan penuh keyakinan. Setelah sesi pembacaan selesai, seorang penyair senior memberikan komentar sederhana, “Puisimu indah, tetapi aku belum menemukan pengalaman yang benar-benar hidup di dalamnya.”
Komentar itu mungkin hanya satu kalimat.

Namun, sering kali satu kalimat seperti itu mampu mengubah cara seseorang menulis selama bertahun-tahun. Di situlah letak pentingnya mentor. Dalam dunia kepengarangan, mentor bukanlah orang yang menciptakan penulis lain menurut versinya sendiri. Mentor adalah orang yang membantu penulis muda menemukan suaranya. Ia menunjukkan kemungkinan-kemungkinan yang belum terlihat. Ia mengingatkan ketika seorang penulis mulai kehilangan kejujuran kreatifnya. Ia tidak menulis untuk muridnya, tetapi membantu muridnya menemukan cara menulis yang paling autentik.

Sayangnya, budaya mentor dalam dunia sastra Indonesia belum selalu mendapat perhatian yang memadai. Kita sering terpesona oleh karya yang sudah terbit, tetapi kurang memperhatikan proses panjang di belakangnya. Padahal, banyak penulis tumbuh karena pernah bertemu seseorang yang bersedia membaca naskahnya, memberi masukan, atau sekadar mengatakan bahwa tulisannya layak diperjuangkan.

Di era media sosial, situasinya menjadi semakin menarik. Hari ini siapa pun dapat memublikasikan tulisan dalam hitungan detik. Kesempatan menjadi lebih terbuka. Namun, pada saat yang sama, proses belajar sering kali menjadi lebih dangkal. Banyak orang terburu-buru mengejar publikasi sebelum menjalani proses pembelajaran yang memadai. Akibatnya, ruang refleksi yang dahulu tumbuh melalui komunitas dan dialog perlahan tergeser oleh logika jumlah tayangan, suka, dan bagikan.

Sebab itu, komunitas sastra tetap memiliki arti penting. Komunitas bukan sekadar tempat berkumpul. Ia adalah ruang belajar profesional. Di dalamnya terjadi pertukaran pengalaman, pembentukan etos berkarya, dan pewarisan pengetahuan yang tidak selalu tertulis. Komunitas membantu penulis memahami bahwa menulis bukan hanya soal menghasilkan karya, tetapi juga soal membangun disiplin, kesabaran, dan tanggung jawab intelektual. Pada akhirnya, menjadi penulis tidak jauh berbeda dengan menjadi guru. Keduanya adalah profesi yang tumbuh melalui pengalaman dan refleksi.

Seorang guru belajar mengajar dari guru lain. Seorang penulis belajar menulis dari penulis lain. Buku dapat memberi pengetahuan. Teori dapat memberi kerangka berpikir. Akan tetapi, perjumpaan dengan praktiklah yang menghidupkan semuanya.

Mungkin sebab itulah sejarah sastra selalu dipenuhi kisah tentang komunitas, sanggar, diskusi, dan persahabatan intelektual. Di sanalah penulis tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga belajar menjadi penulis. Dan seperti halnya seorang guru yang baik tidak pernah berhenti belajar mengajar, seorang penulis yang baik pun tidak pernah berhenti belajar menulis.

Penulis adalah Dosen Sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.