Bangsa yang Belum Merdeka Berpikir 

oleh -1838 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Alim Witjaksono

Kemalasan yang produktif mempunyai makna yang berbeda dengan orang-orang kaya (pemodal) yang malas dengan mengorbankan orang lain. Mereka mengkhotbahkan soal etika kerja dan kewajiban kerja kepada kaum buruh, sedangkan mereka sendiri hanya memerintah dan menciptakan aturan demi tercapainya target yang menjadi sasarannya. Menghadapi fenomena itu, Rocky Gerung menekankan pentingnya kemalasan, namun “kemalasan” yang dapat memberikan kontribusi bagi kemajuan peradaban.

Perintah kerja yang ditekankan negara kepada masyarakat, menurut Rocky tak ubahnya kewajiban kerja sebagai moralitas budak, yang dicetuskan penguasa guna mendesakkan tenaga rakyat jelata agar bekerja keras demi kepentingan tuannya. Di dunia ketiga seperti Indonesia, para pekerja hendaknya terus mendorong pemerintah dan para pemodal, agar mereka mau mengubah struktur sosial yng memungkinkan rakyat bekerja lebih sedikit, hingga mereka memiliki waktu senggang yang banyak.

Waktu senggang yang tersedia, tak boleh hanya dimiliki pemerintah, kaum pemodal dan sanak familinya. Penyokong potensial bagi peradaban adalah semua elemen masyarakat, tetapi nilai peradaban akan berguna apabila waktu senggang terbagi secara adil dan merata bagi semua elemen masyarakat.

Bagaimanapun, dunia kerja yang ditekankan pihak pemerintah maupun instansi perusahaan, seumumnya tidak menyenangkan. Biarpun mereka digaji dengan nilai tinggi, nampaknya peradaban yang baik justru banyak disokong oleh mereka yang menggunakan waktu seggang, dan mampu bekerja secara menyenangkan. Bagi Rocky Gerung, mereka yang disebut “manusia modern” di negeri ini tak lebih dari budak-budak belian di zaman purbakala yang masih melakukan sesuatu demi kepentingan pihak lain, bukan untuk kepentingan dirinya sendiri.

Beda dengan kinerja kaum sastrawan, filosof, ilmuwan maupun agamawan, yang memiliki banyak waktu senggang untuk kemajuan peradaban. Meskipun dalam sistem kekuasaan yang totaliter – seperti rezim Orde Baru – kaum agamawan dan sastrawan pun harus berbaris untuk turut-serta mengabdi bagi kepentingan status quo, seperti yang disebutkan Pramoedya Ananta Toer, sebagai anak-anak emas dewa kemenangan.

Menurut Hafis Azhari, pengarang novel “Pikiran Orang Indonesia”, waktu senggang banyak dimiliki oleh bangsa-bangsa berperadaban maju, karena itu karya-karya sastra bermutu di negeri-negeri berkembang biasanya diakui oleh pemerintah lokal, justru setelah diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa asing. Hal itu pun terjadi pada karya-karya Pramoedya, yang seakan-akan baru diketahui dan dibaca oleh bangsanya sendiri, setelah beberapa dekade melanglang buana ke negeri-negeri asing. Bukankah menyerap dan menyimak karya sastra dengan baik, hanya mungkin dilakukan bagi mereka yang memiliki banyak waktu senggang?

Rocky Gerung memiliki pendapat yang senada dengan sosiolog Bertrand Russel, bahwa pembebasan dan kemerdekaan bangsa-bangsa terjajah, biasanya dimulai dari kesadaran orang-orang yang memiliki waktu luang setelah berpikir matang, baru kemudian terjun ke lapangan. “Tanpa kelas yang menikmati waktu senggang dan berpikir secara dewasa, bangsa Indonesia akan sulit keluar dari penjajahan kolonialisme menuju kolonialisme jilid baru,” tegas Hafis Azhari.

Jadi, kemalasan yang dipropagandakan Rocky Gerung bukanlah kemalasan dalam pengertian pasif, yakni membuang-buang waktu percuma secara tidak produktif.  Akan tetapi, kemalasan yang memungkinkan suatu bangsa berpikir matang, serta berkontribusi bagi peradaban yang lebih maju dan dewasa. “Jika terus-menerus menjadi budak, saya khawatir banyak orang, terutama kaum pekerja, tidak tahu dan tidak lagi bisa memanfaatkan waktu senggangnya,” tegas Rocky Gerung.

Menurut Bertrand Russel, manusia modern terlampau sibuk berpikir tentang produksi, tanpa banyak berpikir soal kemanfaatannya bagi konsumen. Konsekuensinya, kita sangat sedikit memperhatikan kenikmatan yang sederhana, terutama memanfaatkan hasil produksi yang menyehatkan dan membahagiakan konsumennya. Untuk itu, konsep pendidikan bagi anak-anak bangsa harus lebih mengutamakan kemanfaatan pikiran dan perasaan yang selaras, hingga terciptalah manusia-manusia unggul yang berperadaban tinggi.

Bagi Hafis Azhari, jika bangsa Indonesia mampu secara produktif memanfaatkan waktu senggangnya, misalnya dengan pekerjaan di kantor (pabrik) hanya lima jam sehari, maka mereka dapat hidup tanpa ada tekanan dan paksaan yang mengganggu. Dalam dunia di mana saat-saat senggang bisa dimanfaatkan dengan baik, maka setiap orang memiliki hasrat yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan, para ahli medis akan kreatif menekuni bidang kesehatan, bahkan para sastrawan akan mampu berkarya secara produktif, tanpa merasa takut dihantui oleh kelaparan. Bahkan, dalam situasi yang lapang dan nyaman seperti itu – tandas Hafis Azhari – para tokoh agama dapat hidup bersinergi dalam menyebarkan misi agamanya (kebaikan), tanpa harus berebut berkat, sikut kiri-kanan, dengan modus rebutan kemuliaan di mana-mana.

Boleh jadi gagasan Rocky Gerung yang mengajak bangsa ini bermalas-malasan demi kebahagiaan dan kemajuan, berpangkal dari pernyataan religius Albert Einstein: “Lebih baik hidup sederhana yang disertai ketenangan dan kenyamanan, ketimbang sibuk mengejar-ngejar target kesuksesan, yang akan disertai keruwetan yang pasti menyertainya.”

Gagasan Rocky Gerung sudah menjangkau lintas kapitalisme-komunitarian, yang konsekuensinya akan dianggap “utopis”, karena ketika Presiden Jokowi menekankan revolusi mental dengan mendesakkan dunia kerja dan kerja, justru Rocky menggaungkan ide demokrasi yang meliputi unsur kemanusiaan yang diambil hari hikmah peradaban Nusantara sejak abad-abad silam. Ia merupakan kesenyawaan antara sosialisme, nasionalisme dan nilai-nilai keislaman yang luhur. Boleh jadi Rocky akan dianggap menegasikan konsep tuan dan budak yang biasanya mengandalkan sistem yang meniscayakan pihak “yang diatur” demi untuk kepentingan “yang mengatur”.

Tentu saja konsep yang ditawarkan Rocky akan berseberangan dengan gagasan nasionalisme ala Jokowi yang memacu filsafat kerja dengan memkai prinsip “nilai lebih”. , seperti ketatnya konsep ala Marxisme. Sementara itu, Rocky lebih tajam menantang, pihak manakah yang lebih memiliki kontribusi bagi kemajuan peradaban negeri ini, apakah mereka yang bekerja dengan akal sehat, ataukah mereka yang berkeringat memanggul batu dan semen untuk pembangunan jalan tol dan rel-rel kereta?

Manakah yang lebih berkontribusi bagi peradaban, apakah dosen dan guru yang mengajar sesuai jam kerja bagi murid-muridnya, ataukah guru yang mendidik anak dan cucunya di waktu senggang yang tak terikat oleh jam-jam institusi? Manakah yang berkontribusi bagi kemajuan budaya, apakah sastrawan yang bekerja di kantor pendidikan dan kebudayaan, sehingga dibatasi oleh ruang-waktu yang ditentukan negara, ataukah sastrawan independen – seperti penulis Pikiran Orang Indonesia – yang berani mengkritik Orde Baru (dan sistem kekuasaan manapun) yang kosmopolit dan membelenggu kemerdekaan jiwa?

Tentu saja, waktu senggang yang dimaksud bukan semata-mata menikmati hari libur, dengan menuruti gaya konsumerisme modern, yang hanya merayu kaum pekerja (upahan) untuk mengisi waktu kosong dengan kemalasan yang pasif. Maka, jelaslah di sini, bahwa pengertian pentingnya kemalasan, sama sekali bukan “berleha-leha” dengan mengorbankan pihak lain agar bekerja lebih banyak, akan tetapi memanfaatkan waktu luang untuk berpikir secara lapang dan produktif.

Pada prinsipnya, sebesar apapun honor dan penghasilan Anda sebagai wartawan dan jurnalis, jika Anda bekerja sesuai pesanan waktu yang ditetapkan atasan, Anda takkan dapat memanfaatkan waktu senggang untuk berpikir merdeka. Dengan demikian, Anda sama sekali bukan kreator dan penulis sejati, melainkan hanya pekerja, tukang dan “orang upahan” yang akan menghasilkan karya cipta sesaui ending yang menguntungkan perusahaan dan pasar belaka. *** 

Penulis adalah Peminat karya sastra yang memerdekakan bangsa, penulis esai dan prosa di berbagai media luring dan daring

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.