Oleh: Melkianus Mone Kaka
Pertanyaan dasar bagi suatu problem empirik keretakan relasi yakni, apakah keretakan relasi juga memberikan dampak bagi perkembangan spiritualitas dan intelektualitas? Tentu akan ada begitu banyak jawaban atas pertanyaan tersebut. Mungkin akan ditemukan jawaban yang begitu pesimis yakni keretakan relasi sangat memperburuk bahkan dapat menjadi bahaya besar bagi keotentikan spiritualitas dan intelektualitas seseorang. Centrum actusnya hanya mengandung aspek teleologis merekonstruksi keretakan relasi. Dengan demikian sangat menghambat perkembangan spiritualitas dan intelektualitasnya. Selain itu juga ditemukan jawaban yang begitu optimis. Kesadaran Sosial menjadi dasar bagi perkembangan spiritual dan intelektual.
Relasi yang berdimensi horizontal (intelektualitas) senantiasa berkaitan dengan ‘aku dan yang lainnya’. ‘Aku dan yang lainnya’ mau menunjukan akan realitas manusia sebagai makhluk sosial. Aku tak akan dapat hidup bahkan ada tanpa yang lainnya. Aku ada dan hidup oleh karena yang lain. “Yang lain” sifatnya transedental yakni Tuhan yang telah menciptakan. Kepartisipasian itu selalu terkait dengan bagaimana manusia turut berpartisipasi dalam menciptakan. Namun, subjek (manusia) yang menyebabkan itu merupakan subjek yang terbatas atau makhluk yang tidak sempurna. Kemampuannya untuk menyebabkan itu merupakan suatu anugerah dari Wujud Tertinggi yang menyebabkan dan tidak disebabkan, yakni Tuhan.
Realitas empirik menunjukan akan suatu keadaan yang sangat disayangkan persoalan kesadaran sosial. Misalnya dalam suatu wilayah akademis (kampus, perpustakaan) jika adanya suatu tindakan keributan tentu sangat mempengaruh para akademisi yang sangat mengerti akan realitas wilayah akademis. Hal lainnya, terdapat orang yang tidak begitu sadar bahwa suatu tindakan yang dilakukan baik dalam wilayah spiritual atau pun suatu tindakan yang berkaitan dengan perasaan akan mempengaruhi perkembangan spiritualitas seseorang.
Saya sebagai penulis dalam artikel ini sesungguhnya mau menggali tentang suatu kesadaran sosial, baik keadaan kesadaran sosial yang berkaitan dengan hubungan vertikal maupun dalam hubungan horizontal yang menjadi wadah perkembangan spiritualitas dan intelektualitas dari ‘aku’ (sebagai manusia).
Aku dan Spiritualitas
Memahami ‘Aku’ memang bukanlah suatu persoalan mudah. Aku secara ontologis tentu jelas diciptakan oleh Tuhan, atau dalam konstruksi filsafat ‘aku’ ada karena disebabkan oleh Penyebab yang menyebabkan dan tidak disebabkan. Esensi-Nya adalah berada. Dia (Tuhan) adalah ada yang seharusnya atau sesungguhnya memang ada. Sedangkan, ‘aku’ (manusia) bukanlah ada yang seharusnya, atau semestinya ada. Manusia pernah tidak ada, kemudian ada melalui proses melahirkan dan akan tidak ada (mati).
Dalam gagasan eksistensialisme, cara ‘aku’ berada berbeda dengan cara berada maklhuk yang tak berakal. Keberadaan ‘aku’ oleh bantuan akal budi dapat menentukan tujuan keberadaanku. Sedangkan, barang yang tak berakal tujuannya ditentukan oleh kecendrungan kodratinya (apetitus naturalis). Dalam kaitannya dengan spiritualitas, ‘Aku’ merujuk pada persoalan afeksi, atau kecendrungan kodrati yang berkaitan dengan memahami suara hati.
Sebelum lebih jauh membahas perihal ‘aku dan spiritualitas’, mesti membuat suatu distinksi yang jelas antara religiusitas dan spiritualitas. Dalam tulisan ini saya sepakat dengan Elkins dkk, yang berusaha untuk melakukan suatu distinksi otentik antara spiritualitas dan religiusitas. Menurut Elkins dkk, seperti yang dikutip oleh Yulmaida Amir dan Diah Rini Lesmawati, spiritualitas mesti dibebaskan dari religi seperi asumsi umum. Lebih lanjut, spiritualitas merupakan suatu proses menjadi (being) dan mengalami (experiencing) yang merupakan suatu jawaban atas kesadaran akan dimensi transedental (Lesmawati 2016, 70).
Sedangkan, religiusitas merupakan suatu bentuk pengembangan atau pengaktualisasian atas tradisi atau forma-forma dokrtin yang menjadi asasnya. Singkatnya, spiritualitas dalam konteks personal, sedangankan religiusitas dalam konteks komunal.
Meskipun saya mendukung suatu pengklasfikasian antara spiritualitas dan religiusitas dari Elkin dkk, hal yang fundamen adalah hemat saya secara personal tentu ada korelasi antara religiusitas dan spiritualitas. Religiusitas tentu memiliki peran penting bagi kematangan spiritualitas. Spiritualitas, demikian Maslow, adalah sifat natural manusia. Religiusitas secara intensif membentuk spiritualitas. Orang tentu banyak menemukan dan meningkatkan spiritualitasnya melalui pengalaman dan kegiatan religiusitas.
Berbasiskan pada asumsi spiritualitas dari Elkin dkk, yang menegaskan akan inti sari dari spiritualitas yakni terkait dengan tujuan untuk mengatualisasikan diri pada suatu keadaan baik. Kebaikan merupakan suatu orientasi mutlak dari manusia ‘AKU’. Sifat natural ‘aku’ merupakan spiritualitas. Aku tentu tidak dapat dipisahkan dengan spiritualitas. Namun, antara ‘aku’ dan spiritualitas ada perbedaan. ‘Aku’ terimplisit cara berada dan cara menjadi.
Sedangkan, spiritualitas merupakan bagian dari cara menjadi dari ‘aku’. ‘aku’ secara khusus memiliki spiritualitas agar dapat memenuhi orientasi natural yakni kebaikan itu sendiri. Praksisnya, kualitas spiritual akan mentukan cara seseorang berperilaku yakni; bertindak sopan dalam arti tidak mengganggu kenyamanan orang lain, hidup penuh cinta, kebencian dan dendam dapat dihalaunya, singkat senantiasa mengamalkan kebaikan (Prasetyo 2016, 19). Jadi, spiritualitas merupakan salah satu aspek dari cara menjadi yang juga menentukan suatu kehidupan yang baik. Keadaan baik merupakan objektum proprium (objek khusus) dari kehendak (Njuma 2021, 227). Kehendak juga terkait dengan spiritualitas. Dan spiritualitas secara khusus ada dalam tatanan garis vertikal.
Aku dan Intelektualitas
Berbasiskan pada definisi Aristoteles atas manusia, yakni animal rationale, pada bagian ini secara khusus diulaskan perihal ‘aku’ ber-akal budi. Akal budi yang dimiliki ‘aku’ (manusia) merupakan suatu kekhususan, atau bisa juga dikatakan sebagai kekhasan. Bergiat sesuai dengan kekhasannya bagi Aristoteles merupakan suatu keutamaan. Jika manusia tidak bergiat menurut kekhasannya atau bergiat dengan mendominasi logistikon (intelektual), maka bagian ephitumia (nafsu-nafsu) akan menguasainya. Dan hal ini secara nyata adanya suatu keadaan degradasi hakikat manusia sebagai makhluk berakal budi.
Intelektulitas merupakan suatu realitas atau kemampuan kognitif (Saryono 2017). Praksisnya intelektualitas adalah suatu kualitas yang dimiliki oleh manusia melalui suatu proses belajar. Proses belajar ini baik dalam suatu proses belajar yang formal maupun non-formal. Hal ini mau menegaskan akan sempitnya asumsi tentang kualitas intelektual yang hanya dimiliki oleh mereka yang berstatus sarjana. Pemahaman yang sempit ini menjadi dasar bagi suatu tindakan penghinaan atas hakikat intelektualitas.
Artinya, kegiatan mematangkan inteletualitas tidak hanya dalam pendidikan formal. Pendidikan non-formal, dalam hal ini pengenalan indrawi atas realitas, sesungguhnya memiliki efektifitas untuk proses pematangan intelektualitas. Dan bagaimana antara formal dan non-formal itu senantiasa dilakukan, itu selalu berhubungan dengan ‘aku’. Intelektualitas merupakan kualitas dari ‘aku’. ‘Aku’ tanpa intelektualitas adalah bukan ‘aku’. Konsekuensinya, antara ‘aku’ dan intelektualitas tidak dapat dipisahkan.
Aku, Kesadaran Sosial, Spiritualitas dan Intelektualitas di atas Wadah Kesadaran Sosial
Menjawabi pertanyaan ‘apakah kesadaran sosial berkontribusi bagi konstruksi spiritualitas dan intelektualitas?’, saya menegaskan bahwa ketiga komponen (kesadaran sosial, spiritualitas, dan intelektualitas) di atas merupakan bagian dari ‘aku’. Keberadaan ‘aku’ membawa serta ketiga komponen tersebut.
Hal fundamentalnya yakni, ‘aku’ membangun kesadaran sosial untuk membentuk kematangan spiritualitas dan intelektualitas. ‘Aku’ membangun kesadaran sosial ini bersifat personal dan bersifat komunal. Bersifat personal artinya ‘aku’ melalui kesadaran sosial membentuk konstruksi spiritualitas dan intelektualitasku sendiri. Bersifat komunal artinya, dalam kesadaran sosial ‘aku’ berperan pula untuk membentuk konstruksi spiritualitas dan intelektualitas ‘yang lain’.
Menurut Sheldon, seperti yang dikutip Erniwati La Abute, kesadaran sosial memiliki tiga dimensi; tacit awareness (presfektif diri sendiri dan presfektif orang lain), Focal awarenes (diri sendiri sebagai objek dan orang lain sebagai objek), dan awarenes content (penampilan yang dapat diobservasi dan pengalaman yang tidak dapat diobservasi) (Abute 2019, 190). Dalam tulisan ini saya akan hanya mengulas perihal tacit awareness dan Focal awareness. Hal ini dilakukan ingin menegaskan perihal kontrubis ‘aku’ akan ‘yang lain’ dan akan diri sendiri.
Dalam membangun spiritualitas ‘aku’, tentu kesadaran sosial menjadi hal penting. ‘Aku’ sebagai objek dari kesadaran sosial. Artinya, ketika bentuk kesadaran akan suatu masa depan yang baik telah ada, tentu tindakan mengeskalasikan spiritualitas dan intelektul menjadi mungkin. Kesadaran sosial menjadikan ‘aku’ yang berspiritualitas dan berintelektualitas. Dan kesadaran sosial ini terwujud dalam suatu usaha yang juga melibatkan orang lain. Meskipun ‘aku’ menjadi dasar dalam pembentukan kematangan spiritualitas dan intelektualitas, namun ‘aku’ dalam keberadaan tidak dapat terlepas dari kontribusi ‘yang lain’.
Bertolak dari tindakan berkontribusi ‘yang lain’ (orang lain) terhadap ‘aku’, ternyata ‘aku’ juga berkontribusi terhadap ‘yang lain’. Disinilah menempatkan ‘yang lain’ sebagai objek dari kesadaran sosial. Sebagai makhluk sosial, tentu keterikatan antar manusia menjadi suatu realitas riil yang tidak dapat disangsikan. Keberadaan ‘aku’ juga menjadi landasan bagi suatu eskalasi spiritualitas dan intelektualitas ‘yang lain’.
Di atas wadah kesadaran sosial, sesungguhnya ‘aku dan yang lain’ dapat mengalami suatu keadaan dalam kematangan spiritualitas dan intelektualitas. ‘Aku’ melalui kesadaran sosial mematangkan spiritualitas dan intelektualitas secara personal melalui kontribusi ‘yang lain’, dan melalui kontribusi ‘aku’ membentuk kematangan spiritualitas dan intelektualitas ‘yang lain’.
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang








