Komik jadi Medium Kreatif Mahasiswa ISI Bali Kampanyekan Antikorupsi

oleh -74 Dilihat
banner 468x60

RADARNTT, Denpasar – Pesan antikorupsi tidak selalu harus disampaikan melalui kampanye formal. Melalui cerita dan ilustrasi, komik menjadi salah satu medium kreatif untuk mengajak masyarakat mengenali nilai integritas sekaligus merefleksikan berbagai perilaku yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Pendekatan tersebut diwujudkan mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Bali bersama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui Direktorat Jejaring Pendidikan (Jardik) dalam kompetisi komik Sketch Your Integrity (SYI) 2026. Sebanyak 25 peserta, baik individu maupun kelompok, menuangkan gagasan tentang integritas, transparansi, dan antikorupsi ke dalam karya cerita bergambar.

Rangkaian kompetisi mencapai puncaknya melalui kegiatan awarding di Gedung Citta Kelangen, Kampus ISI Bali, Selasa (3/11), yang diikuti sekitar 200 mahasiswa. Selain mengapresiasi karya para finalis, kegiatan ini menjadi ruang diskusi untuk memperkuat peran seni dan kreativitas mahasiswa dalam menyebarluaskan nilai antikorupsi.

Rektor ISI Bali Prof. Dr. I Wayan ‘Kun’ Adnyana mengapresiasi kolaborasi dengan KPK yang memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengangkat isu integritas melalui kreativitas seni. Menurutnya, karya seni dan desain memiliki posisi strategis dalam membaca berbagai fenomena sosial. Komik, khususnya, dapat menyampaikan pesan kritis dengan pendekatan yang lebih ringan dan dekat dengan masyarakat.

“Komik menawarkan sebuah media yang kritis namun tidak menghilangkan kejenakaannya,” ujar Kun.

Ia mengatakan, ISI Bali juga telah menetapkan mata kuliah Kewarganegaraan dan Antikorupsi sebagai mata kuliah wajib di seluruh program studi. Kolaborasi dengan KPK melalui kompetisi SYI diharapkan dapat terus dikembangkan sebagai ruang bagi mahasiswa untuk mengasah kreativitas sekaligus memperkuat nilai integritas.

Pandangan serupa disampaikan komikus profesional Adelia Maghfira yang hadir dalam sesi diskusi pada rangkaian awarding. Menurutnya, kekuatan komik tidak hanya terletak pada visual, tetapi terutama pada cerita dan pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca.

“Yang pertama harus dipikirkan itu apa ceritanya, muatan ceritanya, makna ceritanya, dan bagaimana cerita tersebut bisa tersampaikan melalui komik,” ujar Adelia.

Melalui kompetisi ini, mahasiswa didorong untuk mengangkat fenomena di masyarakat maupun pengalaman sehari-hari yang berkaitan dengan nilai integritas. Dengan demikian, pesan antikorupsi dapat disampaikan melalui pendekatan yang lebih kontekstual dan dekat dengan kehidupan generasi muda, tanpa harus selalu menggunakan bahasa atau metode yang formal.

Wakil Ketua KPK Ibnu Basuki Widodo mengatakan, pemberantasan korupsi tidak hanya dilakukan melalui penindakan, tetapi juga melalui pencegahan, pendidikan, dan peran serta masyarakat. Dalam konteks mahasiswa, ketiga pendekatan tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai aktivitas yang sesuai dengan minat dan kreativitas mereka.

“Pemberantasan tindak pidana korupsi dilaksanakan dengan pencegahan, pendidikan, penindakan yang disertai dengan peran serta masyarakat. Saat ini, yang sedang KPK dengan ISI Bali lakukan adalah bagian dari pendidikan dan peran serta masyarakat dari mahasiswa untuk pemberantasan korupsi,” ujar Ibnu.

Menurutnya, mahasiswa memiliki posisi penting sebagai kekuatan moral, kontrol sosial, sekaligus agen perubahan. Karena itu, keterlibatan mahasiswa dalam gerakan antikorupsi tidak harus selalu diwujudkan dalam bentuk yang formal, tetapi dapat dilakukan melalui berbagai karya yang mampu menginspirasi masyarakat.

“Harapan KPK terhadap mahasiswa sebagai tonggak masa depan adalah sebagai kekuatan moral, kontrol sosial, dan agen perubahan. Agent of change artinya penggerak perubahan. Dengan karya komik, harapannya juga bisa membuat suatu perubahan-perubahan dengan cerita yang menginspirasi,” kata Ibnu.

Sementara itu, Kepala Satuan Tugas (Kasatgas) Pendidikan Tinggi Direktorat Jejaring Pendidikan KPK, Masagung Dewanto mengatakan, pendidikan antikorupsi diarahkan untuk membangun pengalaman dan pembiasaan integritas sehingga nilai tersebut dapat melekat dalam perilaku. Karena itu, mahasiswa perlu mendapatkan ruang untuk menerapkan nilai integritas dalam berbagai aktivitas, baik di lingkungan kampus maupun kehidupan sehari-hari.

“Penting untuk memberikan mahasiswa, sebagai sasaran utama dalam pendidikan antikorupsi, untuk mendapatkan pengalaman dan pembiasaan integritas,” ujar Masagung dalam talkshow “Bincang Asik Integritas Mahasiswa” yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan awarding.

Menurut Masagung, keterlibatan dalam gerakan antikorupsi dapat dilakukan sesuai dengan kapasitas dan passion masing-masing. Mahasiswa dapat memulainya dari lingkungan terdekat, termasuk membangun kejujuran dalam aktivitas sehari-hari seperti tidak menyontek maupun melakukan plagiarisme.

“Upaya menyuarakan antikorupsi tidak harus berupa laporan ke APH, bisa dilakukan sesuai dengan passion-nya masing-masing. Dimulai dari yang paling dekat, misalnya terkait perilaku seperti menyontek dan plagiarisme. Menyuarakan dengan metode komik juga menjadi alternatif untuk menuangkan sikap antikorupsinya,” jelasnya.

Ia menambahkan, kegiatan SYI merupakan salah satu bentuk kegiatan kokurikuler yang dapat mendukung pelaksanaan Pendidikan Antikorupsi di perguruan tinggi. Selain melalui kurikulum, pendidikan antikorupsi perlu diperkuat dengan berbagai aktivitas yang memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mempraktikkan dan menginternalisasi nilai integritas.

“Strategi pendidikan walaupun dampaknya baru dirasakan cukup panjang, tetapi hasilnya menunjukkan akan lebih permanen. Secara sederhana, tujuannya adalah orang tidak lagi kepikiran melakukan korupsi, sedangkan dalam bahasa UNCAC, masyarakat tidak lagi permisif terhadap korupsi,” kata Masagung.

Dari kompetisi tersebut, enam karya ditetapkan sebagai pemenang. Juara pertama diraih Putu Anggi Ramania melalui karya “Semua Juga Begitu”. Juara kedua diraih Kelompok Triple T yang beranggotakan Alicia Evrilliana Sandy, Jashmine Alya, dan Raisa Salsabila dengan karya “Dibalik Pameran”.

Selanjutnya, Ni Putu Prillavenia Yogiputri meraih Juara 3 melalui karya “Sedikit Saja”. Juara Harapan 1 diraih Kelompok Untitled yang beranggotakan Fransiska Kathleen Paula Gus, Gracia Putri Amelia Sinaga, dan Neisya Azzhra melalui karya “Kupon Kok Wajib?”. Juara Harapan 2 diraih Ni Putu Sudharsih melalui karya “Eraser”, sementara Juara Harapan 3 diraih Kelompok Lomba Komik yang beranggotakan Nethania Ayuningtyas Hillary Ussu, Winny Risdawati, dan Lutgarde Ranera Silaen melalui karya “Sesuap Nasi”.

KPK berharap kolaborasi dengan perguruan tinggi melalui berbagai pendekatan kreatif dapat terus berkembang. Mahasiswa tidak hanya menjadi sasaran pendidikan antikorupsi, tetapi juga dapat mengambil peran sebagai bagian dari ekosistem yang menyuarakan dan membangun budaya integritas di masyarakat.

Kompetisi SYI 2026 di ISI Bali diselenggarakan dengan dukungan Australia-Indonesia Partnership for Justice Phase 3 (AIPJ3). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian kompetisi SYI yang dilaksanakan di tiga perguruan tinggi, yakni Institut Teknologi Kalimantan (ITK), ISI Bali, dan ISI Surakarta. (KPK/TIM/RN)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.