RADARNTT, Kupang – Calon Gubernur NTT Simon Petrus Kamlasi menegaskan jangan mewariskan air mata tetapi mata air bagi anak cucu di masa depan melalui gerakan menjaga alam dan air.
Menurut jebolan studi teknik lingkungan dan kebencanaan di Jepang itu, provinsi NTT memiliki topografi wilayah kepulauan dan terdiri atas banyak pulau-pulau kecil sangat rentan terhadap bencana seperti kekeringan ekstrem, el nino, la nina, banjir, badai siklon, gempa bumi, letusan gunung api dan berbagai wabah penyakit.
“Kekeringan ekstrem yang sudah berlangsung selama ini perlu disikapi segera dengan kerja sederhana tapi memberi efek jangka panjang,” kata Simon Petrus Kamlasi, Senin (23/9/2024) di Kupang.
Menurutnya, mesti ada gerakan semesta menjaga alam dan air melalui kerja berbasis komunitas, masyarakat secara bersama terlibat gerakan menangkap dan menanam air hujan serta memanfaatkan sesuai kebutuhan.
“Masyarakat kita harus terlibat aktif dalam gerakan menjaga alam dan air serta memanfaatkannya sesuai kebutuhan tidak boros agar lestari hingga anak cucu,” kata Simon Petrus Kamlasi.
Menurutnya, membangung embung-embung sebagai pengendali banjir dan mengelola seluruh daerah aliran sungai (DAS) maupun DAS Mikro. Embung-embung, kata Simon, berperan ganda selain menampung air hujan untuk irigasi pertanian lahan kering, juga menyimpan air melalui infiltrasi bisa muncul mata air di sekitar embung-embung dalam jangka waktu tertentu. Dan menanam pohon untuk perlindungan mata air, dengan memilih jenis pohon yang sesuai karakteristik masing-masing daerah.
“Bisa menanam beringin, bambu dan jenis kayu lainnya yang cocok spesifik lokal,” jelas Mantanย Kepala Staf Ahli Tk. II Kasad Bidang Lingkungan Hidup.
Dia menegaskan, membangun embung-embung dan menanam sejuta pohon akan melahirkan mata air baru untuk dinikmati anak cucu di masa depan.
“Karena berapa jumlah air yang tersimpan begitu pula yang bisa diambil dan dimanfaatkan untuk kebutuhan, simpan satu meter kubik maka begitu yang kita ambil tidak bisa lebih malah berkurang karena faktor alam dan lingkungan melalui penguapan dan lain-lain,” tegasnya.
Simon Petrus Kamlasi menegaskan, seluruh kebijakan pembangunan harus memperhatikan aspek lingkungan dan pengurangan risiko bencana (PRB) karena bencana tidak bisa dihindari tetapi bagaimana upaya mengurangi kerentanan dengan meningkatkan kapasitas masyarakat menghadapi bahaya tertentu.
“Kita berupaya mengurangi risiko yang ada, dengan memperkuat ketahanan ekonomi, sosial, kesehatan, dan lingkungan,” tegasnya.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTT menyebut ada tiga hal yang menjadi penyebab provinsi berbasis kepulauan itu rawan bencana alam.
Pertama, letak NTT berada pada wilayah yang mudah terkena dampak bencana hidrometeorologi.
Kedua, rawan akan potensi bencana alam secara geologis, karena provinsi ini berada pada jalur cincin api atau ring of fire.
Sesuai kajian, NTT dikelilingi oleh 25 gunung api yang berada di Alor hingga bagian barat Flores.
Sejumlah gunung api itu bisa saja meletus atau erupsi kapan pun yang dapat mengganggu kehidupan masyarakat.
Penyebab ketiga, NTT berada pada pertemuan lempeng Indo-Australia dan eurasia. NTT diapit oleh dua zona penyebab gempa yang bisa memicu tsunami, yaitu megathust selatan Sumba dan sesar naik Flores. (TIM/RN)







