RADARNTT, Kupang – Iklim Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) termasuk tropis kering dengan musim kemarau yang cukup panjang, yaitu sekitar delapan bulan per tahun. Memiliki bulan hujan yang relatif pendek hanya 3-4 bulan per tahun dan penyebaran curah hujan di NTT juga tidak merata.
Puncak kemarau terjadi pada bulan September-November, kekeringan ekstrem di Nusa Tenggara Timur meluas. Curah hujan hampir tidak ada dan perlu kewaspadaan terhadap bencana kekeringan, terutama kekeringan sumber-sumber air.
Pasangan bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Simon Petrus Kamlasi dan Adrianus Garu (SIAGA) berkomitmen untuk masalah air yang menjadi keluhan masyarakat setiap tahun dengan spirit “SIAGA Air untuk NTT”.
Menjaga alam dan air sebagai gerakan sadar semua pemangku kepentingan baik masyarakat, pemerintah dan dunia usaha. Alam yang lestari menjadi rumah besar yang nyaman bagi semua makhluk hidup.
Simon Petrus Kamlasi menegaskan bahwa air merupakan zat terpenting yang sangat dibutuhkan semua makhluk hidup terutama manusia maka menjaga kelestarian air adalah suatu keharusan bagi manusia.
“Tidak ada makhluk hidup tanpa ada air,” tegasnya.
Untuk itu, lanjutnya, setiap manusia harus memiliki tindakan nyata dalam upaya menjaga ketersediaan air bersih untuk konsumsi dan air irigasi pertanian.
Gerakan hemat air merupakan salah satu upaya untuk menjaga ketersediaan air bersih di masa depan.
Berikut beberapa gerakan yang dapat dilakukan untuk menjaga air yaitu menghemat air, menggunakan air secukupnya, menggunakan deterjen yang ramah lingkungan dan rendah busa, memanfaatkan air bilasan terakhir cucian untuk membersihkan kamar mandi atau mengepel lantai, menampung air bekas mencuci beras, sayur, atau daging untuk menyiram tanaman, menampung air yang mengalir saat berwudhu, memelihara kran air agar tidak rusak dan segera menggantinya jika rusak atau bocor, melakukan penyuluhan tentang pentingnya air bersih bagi kehidupan.
Menjaga sumber air baik air permukaan (sungai, bendungan, waduk, embung) dan air tanah agar bebas dari kontaminasi zat berbahaya dan terus ada lestari untuk anak cucu di masa yang akan datang.
Upaya sadar untuk menjaga alam dan air di NTT dapat berupa gerakan menanam air melalui lubang-lubang jebakan air yang dibangun di masing-masing rumah tangga di sekitar rumah dan lahan-lahan usaha pertanian lahan kering.
Pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) mikro berbasis masyarakat. Upaya yang dilakukan berupa penanaman tanaman pelindung mata air, reboisasi, membangun terasering, dan lain-lain. Masyarakat yang merupakan pemilik lahan ikut ambil bagian dan berpartisipasi dalam kegiatan pengelolaan DAS.
Simon Petrus Kamlasi membawa konsepsi gerakan jaga alam dan air atau disebut GEJALA, hal ini sudah ia lakukan semenjak masih aktif di dunia militer ketika menjabat Kepala Staf Korem (Kasrem) 161/Wira Sakti Kupang. Dalam masa kepemimpinan melalui program ini, Kamlasi sudah membangun setidaknya 400 titik pompa hidram di seluruh NTT.
Pompa hidram dirancang secara teknis relatif murah dan cocok untuk diterapkan di desa-desa provinsi NTT yang pemukiman penduduk jauh dari sumber air letaknya tempat lebih tinggi dari sumber air.
Simon Petrus Kamlasi menegaskan, pompa hidram hanya salah satu alat yang cocok untuk dikembangkan di NTT karena murah dan mudah mengaplikasikan. Tetap ada hal yang jauh lebih penting adalah menjaga kelestarian alam sebagai prasyarat ketersediaan sumber air yang berkelanjutan.
“Kita memiliki tanggung jawab besar menjaga alam agar lestari untuk anak cucu di masa depan,” tandasnya dalam diskusi terbatas belum lama ini di Kupang.
Untuk itu, kata Simon, SIAGA berkomitmen menjaga ketersediaan air untuk konsumsi masyarakat dan irigasi pertanian. Mengfungsikan sungai dan bendungan yang sudah dibangun sebagai air baku.
Dia juga fokus membangun perusahaan daerah air minum tingkat provinsi untuk mengelola sekira 10 bendungan di NTT dalam skema kerja sama antar daerah yang melibatkan PDAM beberapa kabupaten dan kota yang bisa terlayani.
“Kita memiliki potensi air baku bendungan Rotiklot, Temef, Raknamo, Tilong, Manikin, Kambaniru, Lambo, Napun Gete dan lain-lain. Ini harus dikelola secara efektif dan efisien untuk air minum dan irigasi pertanian,” tegas Kamlasi.
Sembari mengelola air baku bendungan, kata dia, perlu mengelola DAS di sekitar bendungan sebagai daerah tangkapan air untuk mengisi air ke bendungan. (TIM/RN)







