Arsenik Dibalik Hilirisasi Nikel di Teluk Weda dan Sekitarnya

oleh -1454 Dilihat
Pemrosesan bijih nikel dilakukan di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Lelilef Sawai, Halmahera Tengah, Maluku Utara, Indonesia. (Foto: Mongabay.co.id)
banner 468x60

HILIRISASI nikel di Indonesia, khususnya melalui kawasan industri seperti Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Halmahera Tengah, telah meningkatkan performa ekspor dan dianggap sebagai motor ekonomi nasional. Namun, laporan dari Nexus3 Foundation bersama Universitas Tadulako mengungkap temuan serius mengenai kandungan logam berat dalam tubuh warga dan lingkungan sekitar Teluk Weda.

Dalam laporan tersebut, jejak logam berat seperti arsenik ditemukan dalam sampel darah warga, pekerja tambang, hingga nelayan yang tinggal dan beraktivitas di sekitar kawasan industri. Selain itu, ikan yang ditangkap di perairan Teluk Weda, sumber pangan utama masyarakat pesisir, juga menunjukkan kandungan arsenik yang mengkhawatirkan.

Laporan ini menambah deretan data dari berbagai organisasi lingkungan seperti AEER, WALHI, dan Forest Watch Indonesia yang selama ini mencatat dampak negatif dari aktivitas pertambangan dan hilirisasi nikel. Salah satu temuan signifikan adalah lonjakan kasus penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan diare di desa-desa sekitar kawasan industri. AEER mencatat peningkatan kasus ISPA hingga 25 kali lipat dalam kurun waktu 2020–2023, terutama di desa Lelilef Sawai.

Fenomena ini juga disertai dengan perubahan fisik lingkungan. Air sungai berubah warna menjadi cokelat kemerahan, indikasi pencemaran dan sedimentasi berat. Udara di sekitar kawasan industri dipenuhi debu, yang memaksa warga membersihkan rumah mereka setiap hari. Laut yang dulu menjadi tumpuan hidup masyarakat nelayan kini berisiko tinggi terkontaminasi logam berat.

Pencemaran logam berat seperti kromium heksavalen, mangan, dan arsenik bukan hanya menimbulkan kerusakan ekologis, tetapi juga berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat. Studi menunjukkan bahwa paparan logam berat secara kronis dapat menyebabkan gangguan organ dalam, penurunan fungsi kognitif, dan berbagai penyakit degeneratif.

Minimnya informasi yang diterima oleh masyarakat lokal mengenai risiko ini, serta lemahnya pengawasan dan sistem pemantauan dampak kesehatan jangka panjang, memperparah situasi. Proses pembangunan dan ekspansi kawasan industri kerap dilakukan tanpa keterlibatan warga secara memadai, baik dalam tahap konsultasi maupun pengawasan dampak.

Berbagai sumber melaporkan bahwa kondisi serupa juga terjadi di kawasan lain seperti Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah, tempat proyek hilirisasi nikel berlangsung intensif. Kerusakan hutan, banjir bandang, serta degradasi lahan dan pesisir menjadi masalah yang terus berulang tanpa perbaikan sistemik.

Temuan arsenik dalam tubuh warga Teluk Weda menandai kegentingan lingkungan hidup yang memerlukan tanggapan serius dari semua pihak. Data dan fakta ini menunjukkan pentingnya penataan ulang sistem hilirisasi nikel agar tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperhatikan aspek kesehatan, lingkungan, dan keadilan sosial bagi masyarakat di wilayah terdampak.

Studi lebih lanjut dan langkah pemulihan lingkungan serta sistem kesehatan masyarakat yang adaptif diperlukan untuk memastikan bahwa pengelolaan sumber daya alam tidak mengorbankan keselamatan dan masa depan masyarakat lokal.

Tim Redaksi

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.