Potensi Tsunami di Mbay Nagekeo Berakhir

oleh -65 Dilihat
banner 468x60

RADARNTT, Kupang – Peringatan Dini Tsunami yang disebabkan oleh gempa Magnitudo 7,7 berlokasi sekitar 38 kilometer Timur Laut Mbay Nagekeo Nusa Tenggara Timur (NTT) pada kedalaman 15 kilometer yang terjadi 15 Agustus 2026 pukul 04:58:24 WIB, dinyatakan telah berakhir, demikian informasi terakhir disampaikan oleh Sistem Peringatan Dini Tsunami Indonesia.

Gempa tersebut berdampak ke beberapa daerah sekitar seperti bagian pantai utara kabupaten Manggarai, Ende dan Sikka. Sejumlah bangunan rumah pribadi dan fasilitas umum rusak dan korban jiwa serta luka-luka.

Gempa dirasakan kuat di sejumlah wilayah NTT hingga Sulawesi Selatan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui Pusdalops dan seluruh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang merasakan dampak guncangan gempa terus melakukan pemantauan serta berkoordinasi dengan unsur terkait untuk memastikan kondisi masyarakat dan dampak yang ditimbulkan.

Berdasarkan laporan pendahuluan Kodim Sikka, gempa bumi berdampak di wilayah Pelabuhan El Say, Kabupaten Sikka. Peristiwa tersebut mengakibatkan dua orang meninggal dunia dan satu orang mengalami luka-luka. Dua korban meninggal dunia terdiri dari satu laki-laki dan satu perempuan. Data korban masih dalam proses verifikasi dan pendataan lebih lanjut oleh tim di lapangan.

Tim gabungan yang terdiri dari unsur Basarnas, TNI dan Polri masih melakukan proses evakuasi di lokasi kejadian. BNPB bersama BPBD Kabupaten Sikka terus berkoordinasi dengan unsur terkait untuk penanganan korban serta memastikan kondisi masyarakat di sekitar wilayah terdampak.

Di Kabupaten Nagekeo, gempa dirasakan sangat kuat selama kurang lebih satu menit. Sebagian besar masyarakat merasakan guncangan dan berhamburan keluar rumah. BPBD Kabupaten Nagekeo berkoordinasi dengan instansi terkait menyusul adanya peringatan dini tsunami serta melakukan evakuasi terhadap masyarakat yang berada di wilayah pesisir.

Kondisi serupa dilaporkan di Kabupaten Sikka dan Kabupaten Manggarai Barat. Masyarakat merasakan gempa sangat kuat selama kurang lebih satu menit dan sebagian besar warga keluar rumah. BPBD di kedua wilayah tersebut melakukan koordinasi dengan unsur terkait dan mengarahkan evakuasi masyarakat yang berada di kawasan pesisir.

Gempa juga dirasakan di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, serta sejumlah wilayah di Sulawesi Selatan, antara lain Kabupaten Jeneponto, Kabupaten Kepulauan Selayar dan Kabupaten Maros. Masyarakat di beberapa wilayah tersebut turut merasakan guncangan dan sebagian berhamburan keluar rumah.

Pascagempa utama, tercatat beberapa aktivitas gempa susulan. Gempa susulan dengan kekuatan Magnitudo 6,2 terjadi pada pukul 05.13.53 WIB, kemudian Magnitudo 6,2 pada pukul 05.28.40 WIB dan Magnitudo 5,6 pada pukul 05.37.19 WIB. Sejumlah gempa susulan lainnya juga tercatat, termasuk Magnitudo 5,5. Berdasarkan informasi sementara, gempa-gempa susulan tersebut tidak berpotensi tsunami.

BNPB masih melakukan pemutakhiran data terkait dampak gempa bumi di wilayah terdampak. Pendataan meliputi korban jiwa, korban luka-luka, kerusakan bangunan, maupun dampak lainnya. Informasi mengenai perkembangan korban dan kerusakan akan disampaikan berdasarkan hasil verifikasi petugas di lapangan.

BNPB mengimbau masyarakat, khususnya yang berada di wilayah pesisir, untuk tetap tenang dan mengikuti arahan resmi dari pemerintah daerah serta informasi peringatan dini dari BMKG. Masyarakat juga diminta menjauhi bangunan yang mengalami kerusakan atau retak akibat gempa karena berpotensi membahayakan keselamatan.

Masyarakat diminta tidak mudah percaya maupun menyebarkan informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya. Informasi resmi mengenai perkembangan gempa dan potensi tsunami dapat dipantau melalui kanal resmi BMKG, BNPB, BPBD, dan pemerintah daerah, serta TNI-Polri.

BNPB bersama BPBD, Basarnas, TNI, Polri dan unsur terkait terus memantau perkembangan situasi di wilayah terdampak, melakukan evakuasi dan penanganan korban, serta memastikan keselamatan masyarakat.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendorong prakiraan berbasis dampak (impact based-forecast/IBF) sebagai landasan untuk memperkokoh budaya tangguh bencana. Ketangguhan masyarakat terwujudkan melalui aksi dini dalam mitigasi bencana serta pembangunan multi-sektor sebagai respons terhadap peringatan dini.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa kebutuhan menerjemahkan peringatan dini menjadi aksi merupakan misi bersama seiring dengan perubahan iklim yang berdampak sangat luas di seluruh wilayah dan sistem iklim global. Dampaknya, peningkatan kejadian ekstrem dan risiko bencana hidrometeorologi menyentuh sendi kehidupan masyarakat, seperti kesehatan, ketersediaan air, pangan, hingga energi.

“Sejak 1850, terjadi kenaikan rata-rata suhu permukaan bumi sebesar 1,4–1,5ºC. Di Indonesia sendiri, tercatat kenaikan suhu sebesar 0,8ºC. Apabila kita tidak melakukan aksi atau upaya pengurangan laju kenaikan, diproyeksikan kenaikan suhu permukaan bumi mencapai 3ºC pada 2050 mendatang,” kata Faisal pada pameran Emergency Disaster Reduction & Rescue (EDRR) di Jakarta (13/8/2026).

Faisal menyebut bahwa paradigma IBF menjadi salah satu jawaban untuk menekan laju perubahan iklim melalui aksi dini berkat proses end-to-end yang dibangun dalam sistem tersebut, mulai dari observasi, analisis dan pemodelan, penilaian dampak, hingga penyusunan prakiraan berbasis dampaknya. Tahap awal observasi yang memanfaatkan infrastruktur pengamatan unggulan menghasilkan data berkualitas, kemudian dianalisis melalui berbagai pendekatan dan model, seperti Numerical Weather Prediction, climate prediction, model hidrologi, artificial intelligence (AI), hingga pemodelan tsunami.

“Tahap penilaian dampak menggabungkan hazard (bahaya), exposure (keterpaparan), dan vulnerability (kerentanan) sehingga memungkinkan kita memahami bukan hanya apa saja ancamannya, tetapi siapa yang terdampak dan seberapa besar risikonya,” tambah Faisal.

Faisal menegaskan bahwa BMKG terus menjaga prinsip saintifik dalam melakukan observasi berkualitas, pemodelan berbasis ilmu, validasi dan verifikasi, serta komunikasi probabilistik dan uncertainty. Dengan demikian, informasi IBF lebih relevan bagi pengguna, fokus pada dampak, serta mampu mempercepat respons dan meningkatkan efektivitas peringatan dini.

BMKG mengintegrasikan IBF ke dalam layanan informasi yang dibutuhkan bagi pembangunan multisektor, bidang berisiko bencana, termasuk risiko yang berdampak langsung di kehidupan masyarakat. Sejalan dengan itu, BMKG turut memberikan pendampingan kepada seluruh sektor di setiap wilayah hingga tingkat kelurahan melalui UPT yang tersebar di 191 titik.

“Transformasi peringatan dini berbasis dampak tidak hanya berfungsi sebagai sumber data dan peringatan dini, tetapi menjadi acuan strategi adaptasi yang tepat sesuai kondisi iklim yang diprediksi. Salah satu praktik baik ditunjukkan dari adaptasi pertanian berdasarkan data BMKG yang sejak awal tahun telah mengeluarkan peringatan dini potensi kekeringan akibat fenomena El Nino,” tambahnya.

Komisi Irigasi Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan melakukan percepatan jadwal tanam dari Minggu IV Maret hingga Minggu I April menggunakan varietas padi genjah umur 65–90 hari, serta memanfaatkan sumber air alternatif melalui sumur bor, embungnisasi, dan pompanisasi. Hasilnya, 7.067 hektar lahan pertanian dapat diselamatkan dari gagal panen.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Pratikno pada saat pembukaan EDRR Indonesia 2026, menegaskan bahwa peringatan dini tidak akan bermakna apabila tidak direspons melalui aksi dini. Maka dari itu, Pratikno menekankan pentingnya untuk meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta berkolaborasi dalam merespons setiap peringatan dini yang disampaikan BMKG.

“Sebagaimana BMKG terus-menerus mengingatkan bagaimana El Nino yang akan melanda, kita harus bisa menguasai cara merespons cepat untuk meminimalkan dampaknya. Karena, kekeringan yang panjang dapat mengurangi ketersediaan air, ketahanan pangan, bahkan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan,” tutur Pratikno.

Pada kesempatan ini, BMKG turut berpartisipasi dalam pameran dengan menghadirkan berbagai alat, seperti campbell stokes, Warning Receiver System (WRS) New Generation, Automatic Weather Station (AWS) Rekayasa, Seismometer, Buoy, dan berbagai kuis interaktif yang dapat diikuti seluruh pengunjung. Pameran EDRR berlangsung di Hall D2 JIExpo Kemayoran, Jakarta sepanjang 12–14 Agustus 2026. (Rilis BMKG)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *