Experiential learning adalah suatu proses di mana pengetahuan diciptakan melalui transformasi pengalaman nyata. Pengetahuan merupakan hasil dari kombinasi memahami pengalaman konkret dan mengubahnya.
Contoh konkret:
Misalkan seorang anak belajar bersepeda. Awalnya, anak tersebut hanya memiliki pengetahuan teoretis dasar tentang cara mengayuh dan menjaga keseimbangan sepeda. Ketika ia mulai mencoba bersepeda, ia mengalami beberapa kali jatuh yang menjadi pengalaman nyata baginya. Dari setiap kejadian jatuh tersebut, ia belajar mengenai apa yang tidak boleh dilakukan dan bagaimana ia bisa memperbaiki tekniknya untuk menjaga keseimbangan lebih baik.
Pengalaman ini, ketika diproses, mengarah pada pemahaman yang lebih mendalam tentang bersepeda. Anak tersebut menggabungkan pengetahuan awalnya dengan pengalaman nyata dari mencoba dan gagal, lalu mengubah pendekatannya dalam bersepeda. Akhirnya, melalui proses trial and error ini, ia menguasai keterampilan bersepeda. Ini menunjukkan bagaimana pembelajaran berlangsung melalui transformasi pengalaman menjadi pengetahuan yang dapat digunakan.
Dalam konteks lain seperti belajar untuk lulus ujian kompetensi dari American Society for Quality (ASQ, www.asq.org ), pembelajaran eksperiential (experiential learning) didefinisikan sebagai proses di mana seorang individu memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi melalui pengalaman nyata atau praktik langsung dalam bidang kualitas (quality). Proses ini menekankan pentingnya mengalami situasi di lapangan yang sesungguhnya, di mana teori diuji dan diterapkan dalam skenario praktis, sehingga memungkinkan pembelajar untuk merenungkan tindakan mereka dan belajar dari hasilnya.
Contoh Konkret:
Seorang calon profesional kualitas yang menyiapkan diri untuk ujian Certified Quality Engineer (CQE) dari ASQ mungkin telah mempelajari konsep Six Sigma dan kontrol kualitas (quality control) dari buku atau kursus pelatihan. Namun, pengalaman praktis yang sebenarnya diperoleh ketika individu tersebut terlibat dalam proyek nyata di tempat kerjanya, di mana ia harus menerapkan metodologi DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control) untuk memecahkan masalah kualitas yang kompleks.
Misalnya, jika terdapat masalah kualitas pada lini produksi, pembelajar ini bertanggung jawab untuk mengidentifikasi penyebab utama masalah tersebut, merancang dan menerapkan perbaikan, serta memantau hasil dari perubahan yang dibuat. Dengan terlibat langsung dalam setiap tahap proses DMAIC, individu tersebut tidak hanya memahami teori di balik alat dan teknik tersebut tetapi juga belajar bagaimana menerapkannya secara efektif dalam situasi nyata.
Itulah alasan mengapa sulit bagi mereka yang belum memiliki cukup pengalaman konkret untuk lulus ujian kompetensi ASQ, yang sesungguhnya terletak pada esensi pembelajaran eksperiential itu sendiri.
Ujian kompetensi dari American Society for Quality (ASQ) secara khusus mengharuskan pemahaman mendalam mengenai penerapan praktis teori dalam bidang kualitas, bukan hanya sebatas memahami teori itu sendiri. Tanpa pengalaman langsung dalam menyelesaikan masalah kualitas, calon peserta ujian dipastikan akan menghadapi kesulitan dalam menerapkan konsep-konsep tersebut pada skenario ujian yang kompleks dan beragam. Oleh karena itu, pengalaman praktis tidak hanya memperdalam pemahaman tentang materi ujian, tetapi juga mengasah kemampuan calon untuk mengimplementasikan solusi yang kreatif dan efektif di dunia nyata setelah mereka lulus ujian.
Dengan demikian, sertifikasi (gelar) profesional yang diperoleh melalui ujian ini bukan hanya simbolik, tetapi mencerminkan keahlian nyata yang berbeda dari pembelajaran teoretis yang umum di dunia akademik. Sertifikasi kompetensi profesional ini berakar pada pengalaman industri yang aplikatif dan dinamis, mencerminkan penguasaan praktis atas konsep-konsep kualitas yang seringkali lebih kompleks dan beragam daripada apa yang biasanya diajarkan secara teoretis.
Sehingga, kemungkinan besar seorang dosen di dunia akademik yang telah mengajar puluhan tahun dalam bidang kualitas belum tentu akan lulus ujian kompetensi dari ASQ. Hal ini disebabkan karena ujian ASQ tidak hanya menilai pemahaman teoretis tetapi juga memerlukan kemampuan untuk menerapkan teori tersebut dalam situasi nyata dan praktis yang sering kali tidak tercakup dalam kurikulum akademik yang lebih formal.
Oleh karena itu, agar lulus ujian kompetensi ASQ, calon peserta ujian perlu menggabungkan pengalaman praktis mereka dengan pengetahuan teoretis. Ini bisa melibatkan partisipasi dalam proyek-proyek nyata, studi kasus industri, atau pelatihan praktis yang menekankan aplikasi langsung dari teori ke praktik.
Sehingga, sertifikasi dari ASQ menjadi sangat berharga dan dihargai dalam dunia industri, karena menandakan bahwa pemegang sertifikat kompetensi profesional tidak hanya menguasai pengetahuan teoretis tetapi juga mampu mengimplementasikan solusi kreatif dan efektif untuk masalah nyata di tempat kerja, yang membedakannya dari pendidikan formal tradisional.
Bagaimana Agar Lulus Ujian Kompetensi Profesional Internasional?
Dalam konteks ujian sertifikasi kompetensi profesional dari American Society for Quality (ASQ), penerapan konsep 70:20:10 dapat memberikan panduan yang berharga dalam merancang strategi belajar yang efektif. Konsep ini, yang dikemukakan oleh Allen Tough pada tahun 1999 dan juga oleh Morgan McCall, Robert Eichinger, dan Michael Lombardo pada tahun 1980-an, menekankan pentingnya pembelajaran dari pengalaman nyata dibandingkan dengan pendidikan formal.
Menurut Tough, sekitar 70 persen pembelajaran orang dewasa terjadi di luar sistem pendidikan formal, 20 persen melalui interaksi dengan rekan kerja, manajer, dan 10% melalui fasilitasi pengajar, pelatih, dan ahli profesional. Penelitian ini dilakukan selama Tough berada di University of Ontario.
Lebih lanjut, McCall, Eichinger, dan Lombardo, berdasarkan riset mereka di Centre for Creative Leadership, mengidentifikasi bahwa pembelajaran dan pengembangan paling efektif terjadi melalui cara selain pelatihan formal. Mereka menjabarkan bahwa:
- 70 persen pembelajaran berasal dari pengalaman kerja, tugas-tugas, dan pemecahan masalah di tempat kerja,
- 20 persen dari umpan balik dan pengamatan terhadap orang lain,
- 10 persen dari kursus studi formal.
Penerapan Konsep 70:20:10 dalam Ujian Sertifikasi Internasional
- 70 persen Pengalaman Kerja: Calon yang hendak lulus ujian sertifikasi internasional, misalnya ASQ harus menekankan pada pembelajaran dari pengalaman kerja nyata. Ini bisa berupa partisipasi dalam proyek perbaikan kualitas, inisiatif Lean Six Sigma, atau tugas-tugas yang melibatkan analisis data dan implementasi kontrol kualitas (quality control). Pengalaman ini memberi mereka wawasan praktis dan aplikatif yang tidak hanya menyiapkan mereka untuk ujian tetapi juga untuk tantangan nyata di tempat kerj
- 20 persen Umpan Balik dan Pengamatan: Interaksi dengan rekan kerja, manajer, atau mentor yang berpengalaman di bidang kualitas dapat memberikan peluang belajar yang signifikan. Melalui umpan balik dan pengamatan, calon dapat belajar dari kesuksesan dan kegagalan orang lain, memperoleh pengetahuan tacit (tacit knowledge) yang penting tentang apa yang berhasil dan apa yang tidak dalam praktik manajemen kualitas.
- 10 persen Kursus Studi Formal: Walaupun hanya menyumbang 10% dari proses belajar, kursus formal, workshop, dan materi pelatihan tetap penting. Bagi calon yang mengikuti ujian ASQ, mempelajari materi kursus resmi dari ASQ atau sumber terpercaya lainnya adalah penting untuk memahami kerangka teoretis dan standar industri yang akan diuji.
Model 70:20:10 telah menjadi pendekatan pelatihan populer dalam industri dan organisasi yang mengadopsi pembelajaran melalui corporate university karena kemampuannya untuk mengintegrasikan pembelajaran dalam lingkungan kerja sehari-hari dengan efektif. Pendekatan ini mendukung pengembangan kompetensi secara berkesinambungan, memungkinkan transfer pengetahuan yang lebih efisien, dan menghasilkan dampak yang lebih besar pada kinerja organisasi. Oleh karena itu, sangat berharga bagi para manajer dan profesional yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan praktis dan memimpin tim dengan lebih efektif.
Dalam konteks dunia akademik, model 70:20:10 dapat diadaptasi untuk meningkatkan pembelajaran eksperiential melalui pendekatan project-based learning (PBL).
Berikut adalah bagaimana komponen-komponen model 70:20:10 dapat diintegrasikan dalam project-based learning (PBL):
- 70 persen Melalui Pengalaman Kerja Nyata (On-the-Job Experience):
o Project-Based Learning: Mahasiswa atau peserta didik diberikan proyek nyata atau simulasi yang mendekati kondisi kerja sebenarnya di mana mereka dapat menerapkan teori yang telah dipelajari ke dalam praktik. Contohnya, dalam program studi manajemen, mahasiswa bisa terlibat dalam proyek perencanaan strategis untuk sebuah startup lokal.
o Pembelajaran melalui Tantangan: Tugas-tugas yang diberikan harus mencerminkan tantangan nyata yang ada di industri terkait, memaksa mahasiswa untuk mengembangkan solusi kreatif dan efektif.
- 20 persen Melalui Interaksi Sosial (Feedback and Observing Others):
o Mentoring dan Coaching: Pengaturan mentoring oleh profesional industri atau dosen yang berpengalaman. Mahasiswa menerima umpan balik secara berkala yang membantu mereka memperbaiki dan mengembangkan keterampilan mereka lebih lanjut.
o Pembelajaran Kolaboratif: Kerja tim menjadi esensial, di mana mahasiswa belajar dari rekan-rekan mereka melalui diskusi kelompok, sesi brainstorming, dan analisis peer-to-peer.
- 10 persen Melalui Pendidikan Formal (Formal Education):
o Workshop, Seminar, dan Kuliah: Sesi yang lebih terstruktur di mana teori dan konsep kunci diajarkan. Ini termasuk kuliah dari pakar industri, workshop khusus, dan seminar yang menawarkan pandangan (insight) terbaru dari penelitian terkini atau studi kasus.
o Materi Pendukung: Penggunaan materi pembelajaran yang telah dirancang untuk mendukung pengalaman belajar, seperti modul online, video pendidikan, dan sumber daya bacaan yang dapat diakses mahasiswa untuk mendalami pengetahuan.
Implementasi di Dunia Akademik: Untuk mengimplementasikan model 70:20:10 dalam dunia akademik, institusi pendidikan perlu merancang kurikulum yang memadukan ketiga aspek ini secara harmonis. Hal ini bisa melibatkan revisi kurikulum untuk memasukkan lebih banyak proyek berbasis industri, meningkatkan keterlibatan praktisi industri dalam proses belajar mengajar, dan memperkaya sumber belajar dengan materi yang mendukung pembelajaran independen serta kolaboratif.
Reaksi Berantai Pembelajaran Berkualitas Menggunakan Model 70:20:10 untuk Pencapaian Profesional:
Langkah 1: Lulus dari Pendidikan Akademik Berkualitas Mahasiswa menyelesaikan pendidikan akademik dengan kemampuan yang memungkinkan mereka bersaing di pasar tenaga kerja global. Melalui pendidikan yang berkualitas, mereka mendapatkan dasar pengetahuan teoretis serta keterampilan awal yang diperlukan untuk memasuki dunia profesional. Pendidikan akademik ini memberikan fondasi yang kuat dan menyiapkan mahasiswa dengan keterampilan penting yang diharapkan oleh bisnis dan industri modern.
Langkah 2: Lulus dalam Ujian Kompetensi dari Organmisasi Profesi Internasional seperti ASQ, APICS, Chartered, dll. Setelah mendapatkan latar belakang akademik yang kuat, langkah selanjutnya adalah berfokus pada penguasaan keterampilan praktis dan aplikatif melalui ujian kompetensi profesional dari lembaga terkemuka seperti American Society for Quality (ASQ: www.asq.org/cert ), APICS (Association for Supply Chain Management, ASCM: www.ascm.org ), Chartered (https://charteredcertifications.com/ ), dll. Lulus dalam ujian sertifikasi kompetensi profesional ini menandakan bahwa individu tidak hanya memiliki pengetahuan teoretis tetapi juga keahlian praktis yang diperlukan untuk implementasi standar profesional berkualitas di lingkungan kerja nyata.
Langkah 3: Memperoleh Pekerjaan dengan Gaji Tinggi di Pasar Global. Dengan sertifikasi dari ASQ, APICS, Chartered, dll, individu tersebut kini memiliki kualifikasi yang menambah nilai di pasar global. Sertifikasi kompetensi profesional ini membuka pintu ke peluang karier yang lebih luas dan posisi yang lebih tinggi, yang seringkali menawarkan gaji yang lebih kompetitif. Ini tidak hanya meningkatkan potensi penghasilan mereka tetapi juga posisi mereka di dalam bisnis dan industri.
Langkah 4: Investasi Peningkatan Pendapatan untuk ROI Tinggi. Setelah stabil dalam karier dan memperoleh pendapatan yang tinggi, langkah selanjutnya adalah menginvestasikan uang tersebut ke dalam berbagai produk investasi yang menawarkan return on investment (ROI) tinggi. Ini bisa termasuk saham, real estate, emas, atau investasi lainnya yang cocok dengan profil risiko dan tujuan keuangan mereka. Investasi cerdas ini akan membantu dalam mempercepat pencapaian kebebasan finansial.
Langkah 5: Mencapai Kebebasan Finansial dan Keluar dari Perangkap Kemiskinan. Melalui investasi yang bijaksana dan manajemen keuangan yang efektif, individu tersebut dapat mencapai kebebasan finansial, sesuai dengan prinsip-prinsip yang diajarkan oleh Robert Kiyosaki. Mereka dapat keluar dari perangkap kemiskinan dan menciptakan kekayaan jangka panjang yang berkelanjutan, memastikan stabilitas finansial untuk diri sendiri dan keluarga mereka di masa depan.
Di negara-negara maju, pemerintah sering menyediakan beasiswa atau pinjaman dana dengan bunga rendah untuk membantu individu meningkatkan pendidikan dan keterampilan mereka. Hasil dari peningkatan pendapatan ini kemudian digunakan untuk melunasi pinjaman tersebut, dan sisanya diinvestasikan kembali untuk mendapatkan ROI yang lebih tinggi. Pendekatan ini membantu memperluas akses ke pendidikan berkualitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Tampak di sini bahwa bagaimana pemerintah di negara maju mendukung pendidikan dan pengembangan profesional melalui program pembiayaan yang terjangkau, dan bagaimana individu-individu menggunakan keuntungan dari peningkatan pendapatan untuk mengganti biaya pendidikan tersebut.
Kesimpulan
Dengan menerapkan model 70:20:10, calon peserta ujian sertifikasi ASQ atau lembaga profesi lainnya seperti APICS, dll dapat mengoptimalkan pembelajaran mereka dengan menggabungkan teori dan praktik. Model ini membantu mereka tidak hanya menyiapkan ujian tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk berkarir di bidang manajemen kualitas. Oleh karena itu, model pembelajaran ini sangat relevan dan efektif dalam persiapan sertifikasi kompetensi profesional berskala global.
Pengadopsian model 70:20:10 dalam dunia akademik melalui pendekatan project-based learning (PBL) tidak hanya menyiapkan mahasiswa dengan keterampilan yang relevan untuk dunia industri, tetapi juga memperkuat pemahaman mereka tentang aplikasi teori dalam praktik nyata. Ini menyiapkan mereka tidak hanya untuk berhasil di tempat kerja, tetapi juga untuk menjadi pemikir kritis dan pemecah masalah yang efektif.
Dengan mengikuti reaksi berantai yang dimulai dari pendidikan berkualitas hingga investasi cerdas, individu dapat memanfaatkan sepenuhnya model 70:20:10 dalam konteks profesional mereka. Langkah-langkah ini menggambarkan bagaimana pendidikan, sertifikasi, dan pembelajaran berkelanjutan dapat secara fundamental mengubah potensi karir dan keuangan seseorang, membawa mereka ke arah pencapaian yang lebih tinggi dan keberhasilan finansial.
Oleh: Vincent Gaspersz (Lean Six Sigma Master Black Belt & Certified Management Systems Lead Specialist)









