Noel dan Harga yang Harus Dibayar dari Menggadaikan Integritas Diri

oleh -793 Dilihat
banner 468x60

“Siapa yang hidup dari menjilat, akan mati karena lidah yang mengering” (Voltaire).

Kemarin, nubuat itu tergenapi. Kalimat itu menemukan pemenuhannya pada Imanuel Ebenezer aka Noel. Dari dulu publik mengenalnya sebagai loyalis Jokowi nyaris tiada lawan tanding. Lidahnya dikenal tajam, meski tajamnya bukan untuk menguliti kebenaran, melainkan untuk mengiris lawan politik demi memoles wajah tuannya yang sejatinya plonga-plongo.

Ironisnya, lidah itu kini kelu, seakan lumpuh, kering dan tidak bisa lagi menyelamatkan dirinya ketika jeruji bui membuka untuknya.

Nubuat Voltaire di atas pun kembali aktual. Kalimat itu seakan ingin mewanti-wanti bahwa kekuasaan dan perlindungan dari atasan hanyalah pinjaman, bukan hak milik. Karena merupakan pinjaman, maka privilese itu akan ditarik begitu engkau tak lagi diperlukan.

Menjilat memang seni politik yang tak jarang berhasil mengantar seseorang ke tampuk kenyamanan kekuasaan. Tapi bila tak dikelola terukur, itu akan jadi roman tragis: manis di awal, getir di akhir.

Menjilat bukanlah semata-mata strategi. Itu juga merupakan perjudian. Dan, mari jujur saja, berapa banyak penjudi yang benar-benar menang dari menjilat? Noel jelas tak ada dalam bilangan itu.

Lidah Noel yang menjadi Jerat

Lidah Noel pernah menggelegar. Dari jalanan hingga panggung politik, ia menjual kata-kata lantang. Tetapi lama-lama lidah itu lebih sibuk meludah ke lawan ketimbang berbicara demi kebenaran. Ia berpihak, ia menyerang, ia membela, semua dengan gairah yang menggebu. Namun sayang, lebih ditujukan untuk menjilat penguasa, bukan murni advokasi nurani.

Lidahnya lupa satu hal: penguasa hanya setia pada kepentingannya sendiri. Padahal Machiavelli telah lama mengingatkan dalam The Prince bahwa bagi penguasa, penjilat hanyalah alat. Sebagaimana lazimnya alat, seberapa pun berguna, akan dibuang bila tak lagi menguntungkan.

Dan hari ini, kita akhirnya melihat akhir dari jilatan Noel. Hari ini Noel akhirnya merasakan bagaimana getirnya menjadi alat yang habis masa pakai: tidak lagi dipelihara, tidak lagi dibela, malah dibiarkan sendirian disantap terjangan OTT.

Menggadaikan Integritas, Harga yang Harus DIbayar

Noel lupa, integritas adalah modal hidup yang nilainya tak bisa ditawar. Sekali digadaikan, harganya akan ditagih berikut dengan bunga berlipatnya. Kini, dia harus membayar itu semua.

Harga pertama: reputasi. Dari seorang yang dulu dikenal lantang, berubah jadi simbol kegagalan integritas. Nama yang dulu jadi success story kiprah menjilat, kini tumbang menuju meja cadaver untuk dibedah sebagai bahan penelitian pada ilmu perpolitikan.

Harga kedua: perlindungan. Menjilat memang memberi ilusi aman. Tapi Noel lupa bahwa ketika penguasa sudah selesai memakai jasanya, jangan harap ada tangan yang menolong saat ada lawan yang menekan. Yang ada hanya punggung yang berbalik sembari melambaikan tangan.

Harga ketiga: jati diri. Tidak ada yang lebih tragis daripada nasib orang yang dipuja karena keberanian, namun dikenang karena kelicinan lidah. Dalam dirinya, orang mengenang transformasi tragis dari seorang pejuang ke penjilat. Sayang, memang.

Lidah Mengering, Air Mata Membanjir, Sayang Sudah Basi

Kini lidahnya yang dulu tak pernah berhenti menjilat menjadi kering. Ludah yang dulu deras dipakai untuk membasuh wajah penguasa sudah habis. Yang tersisa kini hanyalah penyesalan, plus air mata. Sayang, air mata itu jadi babak akhir karir yang getir.

Tinggalah kini, kisah Noel jadi pahit untuk dituturkan. Namun itu bukanlah sekadar drama pribadi. Ia adalah cermin. Cermin bagi semua orang yang hari ini sibuk menjilat, sibuk menggadaikan integritas demi kursi, demi jabatan, demi validasi atau bahkan demi sekadar flexing pemancing iklan medsos monetize.

Kita pun diingatkan bahwa hidup dari ludah hanyalah menunda kematian integritas. Ketika ludah itu mengering, kehausan pun melanda. Dan haus yang paling menyakitkan adalah haus akan kekuasaan yang telah pergi bersama integritas diri yang tergadai.

Kisah Noel, Hikmah Kita

Indonesia tidak perlu lebih banyak Noel lagi. Tidak butuh lebih banyak lidah yang kering karena kebanyakan menjilat. Yang kita butuhkan adalah pemimpin dan pelayan publik yang berani menjaga integritas, meski itu berarti jalan jadi begitu terjal menuju kekuasaan.

Karena pada akhirnya, lebih baik kehilangan kursi daripada kehilangan nama baik. Lebih baik hidup dengan lidah kering karena berkata jujur, daripada mulut berbusa-busa demi menjilat namun akhirnya tewas tersedak ludah sendiri.

Noel hanyalah satu nama dalam daftar panjang orang-orang yang memilih menjilat daripada jujur. Tapi kisahnya adalah peringatan keras: untuk kita. Barangsiapa menggadaikan integritas selalu ada harga yang harus dibayar. Mahal pula.


Oleh: Aven Jaman, Peneliti pada Lembaga Pemilih Indonesia (LPI), aktif menulis isu-isu politik dan keagamaan.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.