Impian Surgawi Kaum Hedonis

oleh -831 Dilihat
Ilustrasi
banner 468x60

 Oleh: Wawan Sanpala

Pulau surgawi yang didesain oleh Jeffrey Epstein, dan didedikasikan untuk kaum hedonis dari kalangan selebriti, politisi hingga pengusaha dan elit-elit global, seakan dimaksudkan sebagai “tandingan” dari kebenaran ayat-ayat Tuhan (khususnya Al-Quran). Mereka seakan nekat menciptakan miniatur surgawi yang digambarkan dalam kitab-kitab Samawi (agama Abrahamik). Mereka memanfaatkan rizki dan kemegahan untuk memelintir kitab suci, seakan janji-janji yang diungkap kitab suci di negeri akhirat, meraka pun sanggup mewujudkannya dalam kehidupan dunia ini.

Mereka ingin menunjukkan pada dunia, bahwa semua itu berkat ciptaan manusia dan bukan ciptaan Tuhan yang dianggap sebagai janji-janji politis Tuhan. Mereka seakan menantang Tuhan, bahwa dengan teknologi robot dan Artificial Intelligence (AI), mereka mampu menghidupkan dan mematikan makhluk ciptaannya. Mereka bahkan merancang bayi-bayi tabung dan manusia buatan sebagai Frankenstein, melalui kecanggihan bioteknologi, serta menidurkan manusia agar dapat hidup selama ratusan tahun, seperti yang dialami para penghuni gua yang dikisahkan dalam Al-Kitab (ashabul kahfi).

Kaum hedonis, dari zaman ke zaman, selalu mengandalkan hidup glamor dan kemegahan duniawi, yang merupakan bagian dari anugerah Tuhan. Namun, dalam literatur Islam, Tuhan hanya menyediakan satu persen saja kenikmatan surgawi yang diberikan bagi penduduk bumi, dan oleh karenanya kehidupan dunia diibaratkan mampir sejenak untuk minum seteguk air, guna untuk melanjutkan perjalanan menuju keselamatan yang abadi. Lalu, untuk apa singgah sejenak untuk meminum seteguk itu yang dijadikan tujuan utama?

Dewa Ba’al yang menjadi sesembahan masyarakat Timur Tengah dan Arab Kuno, telah menjadi pegangan mereka untuk berlindung dan mendapat pembenaran. Sejenis dengan Dewi Uzza yang disembah masyarakat Jahiliyah (pra Muhammad) yang memang haus darah, dan selalu memaksakan tumbal para bayi-bayi perempuan yang menjadi korbannya. Itu dimaksudkan agar kehendak dan permintaan mereka terpenuhi, khususnya dalam soal kalanggengan status quo, umur panjang, bertahannya popularitas, kekayaan duniawi, hingga lestarinya kekuasaan.

Berkali-kali kalimat ini diulang-ulang, sebagai tantangan mereka kepada para Nabi dan Rasul: “Mana mungkin jika kami telah berkalang tanah dan menjadi tulang belulang, kemudian ada yang membangkitkan? Lalu, apakah bapak-bapak kami yang sudah mati ratusan tahun lalu, juga akan dibangkitkan?”

“Katakan wahai Muhammad,” demikian firman Allah (al-Waqiah: 49-56): “Ya, semuanya akan dibangkitkan, baik orang-orang terdahulu maupun yang datang kemudian. Semua akan dikumpulkan pada waktu yang ditentukan, lalu kalian yang tersesat dan banyak berdusta (membuat hoaks), kelak akan disediakan pohon zaqqum yang akan menggerogoti lambung-lambung kalian, kemudian akan minum dengan air panas seperti binatang-binatang unta yang kehausan. Itulah hidangan bagi kalian di hari pembalasan.”

Surat al-Waqiah secara mendetail bicara soal kebangkitan spiritual menjelang akhir zaman. Ayat-ayat pertama membicarakan soal gempa-gempa yang melanda umat manusia, bumi terguncang, gunung-gunung meletus, maka di mana-mana terjadi kehancuran bagaikan debu-debu beterbangan. Pada saat itu, manusia akan terpecah-belah menjadi tiga komunitas yang akan saling terpisah satu sama lain. Mereka adalah golongan yang dimuliakan dan golongan yang dihinakan, lalu segolongan pertama adalah mereka yang maqam derajatnya tertinggi, yakni jiwa-jiwa terpilih yang mengumandangkan kualitas iman yang terbaik.

Setelah hari kebangkitan itu, sampailah “sang musafir” ke tempat-tempat yang dijanjikan Tuhan dalam kitab suci. Mereka akan berada dalam surga penuh kenikmatan. Mereka duduk di atas dipan-dipan bertahtakan emas permata. Mereka berkumpul bersama anak-anak muda yang melayani mereka, menikmati buah-buahan, serta daging-daging nikmat yang dihalalkan, bersama bidadari-bidadari cantik yang bermata jelita, bagaikan mutiara. Itulah balasan atas kebaikan amal perbuatan mereka. Di surga itu, mereka bercakap-cakap dengan pembicaraan yang berguna, bukan argumentasi dan debat kusir, hoaks, serta dusta-dusta yang dirasionalisasi menjadi kebenaran ilmiah.

Sedangkan, komunitas atau golongan kiri yang dihinakan, mereka akan dinaungi polusi-polusi yang menyesakkan pernafasan, dihempas oleh badai angin topan yang bertiup panas, serta air-air yang mendidih, juga dinaungi awan-awan berasap yang hitam kelam. Lalu, firman Tuhan memperingatkan mereka (al-Waqiah: 57-61): “Bukankah dulu Kami menciptakan kalian, lalu mengapa kalian mengingkari hari berbangkit? Kenapa kalian tidak perhatikan, dari mana kalian diciptakan? Bukankah Kami yang menciptakan manusia dari benih yang memancar, ataukah kalian? Kami pun telah menentukan waktu bagi ajal kematian, dan Kami tidak ragu menggantikan kalian dengan orang-orang yang seperti kalian, serta membangkitkan kembali di hari akhir nanti.”

Dalam ayat-ayat lainnya, seringkali Tuhan memperingatkan kaum hedonis yang hidup glamor dan bermegah-megahan itu, agar mereka memikirkan saat penciptaan pertama, dari tiada menjadi ada. Mereka diperintahkan agar mengambil hikmah, bagaimana manusia berproses dari air mani yang memancar, hingga kemudian tumbuh dan mewujud, memiliki ruh dan kesadaran.

Mereka juga diperingatkan dengan fenomena benih di kedalaman bumi, lalu bertumbuh dan mencari cahaya, hingga menjulang tinggi menjadi pohon-pohon yang berbuah lebat. Jika Allah menghendaki, sangat mudah bagi-Nya untuk meluluhlantakkan pohon-pohon itu, serta menghentikan rizki-rizki mereka, sampai-sampai mereka berteriak panik: “Celaka, kami akan mengalami kerugian besar hari ini!”

Untuk apa kaum hedonis itu bergantung pada tuhan-tuhan palsu, dan bermohon pada Dewa Ba’al yang mereka sembah? Adapun mengenai Dewa Ba’al yang menjadi sesembahan kaum Satanic yang berkolaborasi dengan Jeffrey Epstein, sudah jelas diperingatkan dalam Al-Quran (as-Shaffat: 125-127): “Pantaskah kalian menyembah Ba’al kemudian meninggalkan Allah sebaik-baik Sang Pencipta. Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa, juga Tuhan bagi nenek-moyang kalian, tetapi mereka berpaling dari Nabi Ilyas, hingga mereka berada dalam kerugian.”

Perintah untuk berpikir kritis ini, dipertegas lagi dalam ayat-ayat terakhir surat Yasin dan al-Waqiah, ketika Allah menanyakan pada mereka: apakah kalian sendiri yang menurunkan hujan dari awan, ataukah Kami? Jika Kami menghendaki, mudah bagi Kami menjadikan air hujan itu asin, lalu mengapa kalian tidak bersyukur? Mengapa juga kalian tidak perhatikan api yang kalian nyalakan, apakah kalian yang menumbuhkan kayunya, ataukah Kami?

Pentingnya rasa syukur akan senyawa dengan kualitas keimanan yang baik. Hal ini dipertegas dalam jantungnya Al-Quran (surat Yasin), ketika kaum hedonis itu mengambil sesembahan selain Allah, yang dikira dapat melindungi dan menentramkan hidup mereka. Padahal, sesembahan itu sama sekali tak dapat menolong dan melindungi, meskipun mereka menjadikan para sesembahan itu sebagai balatentara yang menjaga harta dan kekayaan mereka.

Allah memberi peringatan kepada Nabi Muhammad, agar gaya hidup dan ucapan mereka jangan sampai diambil hati. Kemudian, Allah pun menurunkan wahyu-Nya secara tegas (Yasin: 76-77): “Sungguh Kami tahu apa-apa yang mereka rahasiakan, dan apa-apa yang mereka tampakkan. Mengapa banyak manusia yang melupakan masa lalunya, bahwa Kami menciptakan mereka dari setetes air mani, lalu kemudian mereka berani menjadi penentang-penentang yang nyata.” (*)

Penulis adalah Praktisi dakwah dan pengurus Santri Pencinta Alam (Sanpala), tinggal di Kota Bandung

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.